Jajaran Kemenag Berempati – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Jajaran Kemenag Berempati

JAKARTA, FAJARONLINE — Ada bopeng dalam pelayanan pemberangkatan jemaah calon haji (JCH) Kementerian Agama yang dimulai sejak, Jumat 21 Agustus. Sebanyak 129 jemaah yang seharusnya hari ini sudah berada di Medinah, terpaksa harus kembali ke rumah.

Khusus Embarkasi Makassar, 60 jemaah kloter 1 Kota Makassar gagal berangkat sesuai jadwal. Penyebabnya, visa mereka belum kelar. Mereka terpaksa diganti mendadak jemaah kloter lain dari Gowa dan Makassar.

Hingga Jumat malam, dari 5.777 CJH Sulsel, masih terdapat 359 visa yang belum dirampungkan pihak Kedutaan Besar Arab Saudi. Tak hanya itu, terdapat 5 CJH dari Kloter 2 yang terancam ditunda pemberangkatannya akibat visa-nya belum rampung. Jemaah itu berasal dari Kabupaten Barru, Sidrap, dan Makassar masing-masing 1 orang dan Kota Parepare dua visa.

Kasus jemaah tertunda berangkat haji karena belum mengantongi visa itu nyaris terjadi di seluruh embarkasi yang memberangkatkan kloter perdana, kemarin. Kasus gagal berangkat paling mencolok ada di embarkasi Makassar 60 orang (diganti, red), Lombok 38 orang dan embarkasi Surabaya 31 jemaah.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan jadwal penerbangan itu. “Mereka yang tertunda akan prioritas masuk kloter berikutnya,” kata Lukman Hakim di kantor Kemenag Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, kemarin.

Dia mengaku jajaran Kemenag ikut berempati atas kejadian ini. Lukman tidak memungkiri perasaan kecewa yang dialami oleh jemaah haji yang tertuda keberangkatannya. Apalagi sebagian dari mereka pasti sudah menggelar tasyakuran, berpamitan dengan sanak keluarga, dan kerabat lainnya. Meskipun ada jaminan pasti berangkat, Lukman mengatakan, perasaan tidak enak pasti tetap ada.

Anak mantan Menag Saifuddin Zuhri itu menjelaskan, kejadian gagal terbang karena visa ini dipicu program e-Hajj oleh Pemerintah Arab Saudi. Lukman mengatakan dengan sistem yang baru ini, visa haji baru dikeluarkan setelah ada kepastian akomodasi untuk setiap calon jemaah haji yang akan berangkat. Paket kepastian akomodasi itu terkait pesawat terbang, jadwal penerbangan, kamar pemondokan, katering haji, hingga transportasi darat selama di Saudi.

Selama persyaratan paket akomodasi tadi belum ada kepastian, pemerintah Saudi tidak akan menerbitkan visa haji. Meskipun dokumen-dokumen administrasi seperti paspor sudah dimasukkan di Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta.

“Mau jungkir balik seperti apapun, (visa haji, red) ya kewenangan pemerintah sana (Saudi, red),” ujar mantan wakil ketua MPR itu.

Meski begitu Lukman menegaskan Kemenag tidak lepas tangan dan melempar kasus visa ini kepada pemerintah Saudi. Dia sudah menugaskan supaya petugas bagian visa berkoordinasi intensif dengan KBSA di Jakarta. Selain itu dia tugaskan petugas yang bekerja full 24 jam dengan sistem shift.

Di awal tahun penerapan e-Hajj, Lukman mengakui berpotensi menimbulkan masalah sehingga butuh perhatian ekstra. Namun jika sudah berjalan beberapa tahun, sistem e-Hajj akan menimbulkan banyak manfaat positif. Seperti kepastian akomodasi bagi jemaah haji.
Menurut dia kebijakan e-Hajj ini juga harus diperhatian dengan serius oleh penyelenggara ibadah haji khusus (PIHK). Mereka diminta untuk segera menuntaskan kontrak-kontrak akomodasi dan pembelian tiket pesawat untuk pengajuan visa haji. Dengan program e-hajj ini, Kemenag berharap tidak ada lagi jemaah haji khusus yang telantar atau menempati pemondokan tidak layak.
Lukman juga mengungkapkan sempat terjadi gangguan server internet pengurusan visa haji beberapa hari lalu. Sehingga proses pengurusan visa haji berhenti selama beberapa jam. Pada kondisi normal, KBSA di Jakarta bisa menerbitkan visa haji untuk seribu jemaah sekaligus setiap harinya.
Tanda tanya besar, apakah kasus gagal terbang di kloter 1 akan merembet ke kloter 2 yang diterbangkan hari ini, 22 Agustus.

Dikonfirmasi terpisah Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Abdul Jamil optimis kasus penerbitan visa tertangani. “Insy Allah (kloter 2) makin lancar,” kata mantan rektor IAIN Walisongo Semarang itu.
Sempat muncul keresahan proses penerbitan visa haji terhenti selama libur kerja hari ini dan besok (Sabtu dan Minggu/22-23/8). Namun Jamil memastikan bahwa tim pengurusan visa dari unsur Kemenag dan KBSA di Jakarta tetap bekerja meskipun di hari libur. Dia mengatakan pemerintah meminta perhatian khusus untuk penerbitan visa haji ini.

Jamil mengatakan open seat sebagai dampak gagal berangkat tidak akan mempengaruhi biaya penerbangan. Sebab biaya penerbangan dihitung berdasarkan jumlah riil jemaah haji yang berangkat ke Saudi. Jamil juga mengatakan Kemenag akan terus berupaya supaya proses visa haji tuntas 100 persen sebelum closing date pada 17 September nanti.

“Saya juga memohon maaf. Kita akan perbaiki di masa mendatang,” katanya.

Dia memastikan kemarin tidak ada jemaah yang sudah telanjur datang ke asrama haji tetapi tidak jadi berangkat karena visa. Menurutnya seluruh jemaah yang dibawa ke asrama haji visa dan paspornya sudah beres.

Peneliti perhajian dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dadi Darmadi mengatakan, geger jemaah haji gagal berangkat, menurutnya, disebabkan oleh kurang antisipasi dari Kemenag. Periset di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menuturkan program e-HajJ pada dasarnya baik karena untuk melindungi kenyamaan jemaah haji.

Menurutnya sejak tahun lalu Kemenag sudah sering menyebutkan ke publik bahwa pemerintah Saudi akan menerapkan e-HajJ. Aturan e-HajJ yang terkait dengan visa, seharusnya juga sudah ditangkap oleh jajaran Kemenag.
“Seharusnya syarat-syarat yang diminta oleh program e-HajJ itu diselesaikan sejak awal,” kata dia. Seperti tender pemondokan, katering, transportasi antarkota di Saudi, dan lainnya. Sehingga tidak sampai mempengaruhi proses pengurusan visa seperti saat ini.
Dia mengatakan belum mendengar klarifikasi dari pihak Arab Saudi. Menurutnya, klarifikasi dari Saudi itu penting. Karena sampai saat ini yang muncul seakan-akan kesalahan dilimpahkan ke Saudi. Padahal bisa jadi visa belum terbit karena waktu penyiapan akomodasi jemaah haji oleh Kemenag masih disamakan seperti saat sebelum program e-Hajj.

Sementara itu, dari keberangkatan pertama kemarin ada sekitar 2897 jemaah yang memiliki risiko tinggi. Untuk memudahkan dalam mengenali, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membagikan gelang risiko kesehatan pada mereka.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenkes Untung Suseno menyampaikan, ada tiga macam warna gelang yang diberikan. Yakni, merah untuk jemaah usia lebih dari 60 tahun dan menderita penyakit, kuning bagi jemaah usia dibawa 60 tahun dan menderita penyakit, serta hijau sebagai penanda jemaah memiliki usia di atas 60 tahun dan sehat.

Gelang itu diberikan saat pengecekan terakhir mereka sebelum berangkat. “Ada 222 merah, 789 kuning, dan 1889 hijau. Dengan ini maka petugas kesehatan lebih mudah mengenali dan memudahkan pengawasan,” tuturnya.

Untung pun kembali mengimbau seluruh jemaah haji untuk berperilaku hidup bersih dan sehat selama di Tanah Suci. Tak lupa, dia meminta agar jemaah haji tidak meninggalkan masker yang sudah diberikan. Dua upaya ini penting untuk terus dipatuhi, mengingat masih banyak kasus baru Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV) yang terjadi.

Seperti dilansir oleh The New York Times, 20 Agustus 2015, disebutkan bila ada 46 kasus MERS CoV baru di sana. Kasus tersebut dilaporkan terjadi di Rumah Sakit (RS) King Abdul Aziz. Tercatat, 15 petugas kesehatan terinfeksi dan 20 pasien tengah diperiksa intensif karena mengalami gejala seperti penderita MERS.

Terkait berita tersebut, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes Prof Tjandra Yoga Aditama membenarkan. Meski demikian, ia belum dapat memastikan berapa jumlah pasti kasus baru yang terjadi. “Belum terlalu pasti angkanya, ada statement yang menyebut 21 kasus dan ada juga yang menyebutkan 46 kasus,” tuturnya.

Dia mengatakan, kasus baru yang terjadi di RS King Abdul Aziz ini mirip dengan kasus di RS di Korea Selatan beberapa waktu lalu. Kasus bermula dari satu pasien yang terjadi di Emergency Ward/Departement (Bangsal Instalasi Gawat Darurat), yang kemudian menyebar. Menyikapi hal ini, pihak berwenang akhirnya menutup bangsal IGD tersebut. “Kemarin (20 Agustus 2015) ditutup. Tentu juga tidak perlu panik, pemerintah setempat tentu sedang bekerja keras menangani outbreak MERS CoV yang terjadi di Riyadh ini,” tutur Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) itu.
Meski begitu, semua pihak diminta untuk tetap waspada. Terlebih, adanya kemungkinan jemaah haji Indonesia jatuh sakit dan harus dirujuk ke RS Arab Saudi, baik di Jeddah, Mekkah dan Medinah. Dia mengimbau agar mereka selalu dan lebih sering cuci tangan pakai sabun. Menurutnya, sabun telah terbukti secara ilmiah dapat menurunkan kemungkinan infeksi. “Dan jangan terlalu sering memegang hidung dan mulut dengan tangan kita,” katanya.

Lalu, imbuh dia, selama di RS maka sedapat mungkin hindari kerumunan orang, terutama di Poliklinik dan Emergency Room. Sebab, pengalaman di Korea menunjukkan, seorang pasien di Emergency Room menulari banyak orang di sana setelah ia terbatuk terus menerus. “Upayakan seminimal mungkin menyentuh benda-benda yang banyak dipegang orang/pengunjung RS,” tuturnya. (jpnn/eds/ars-har)

loading...
Click to comment
To Top