Legislator NasDem Paksa Menkeu Akui Indonesia Dilanda Krisis – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ekonomi & Bisnis

Legislator NasDem Paksa Menkeu Akui Indonesia Dilanda Krisis

JAKARTA – Anggota DPR RI fraksi Partai Nasional Demokrat (NasDem) Akbar Faisal berkomentar keras, dalam sidang paripurna DPR menyikapi laporan Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengenai jawaban pemerintah atas pemandangan umum RAPBN 2016.

Secara khusus Akbar menyoroti persoalan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang kini telah menembus level Rp14 ribu sehingga meminta Menkeu mengakui bahwa Indonesia telah dilanda krisis ekonomi.

“Saya ingin mengatakan pada teman-teman sekalian, pemerintah siapapun anda inilah saatnya menunjukkan bahwa kita dalam krisis. Akui itu, lakukan langkah terukur jangan kemudian membuat kita pada wilayah keguncangan informasi,” tegas Akbar dengan nada memaksa, dalam sidang paripurna, Selasa (25/8/2015), di gedung DPR Senayan, Jakarta.

Akbar menilai, laporan Menkeu terdengar menyenangkan, namun pemerintah diingatkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2015 tentang APBN Perubahan dipatok harga nilai tukar Rp12.500, sedangkan saat ini nilai tukar tembus kisaran Rp14 ribu.

Atas hal itu sebagai representasi rakyat, Akbar mempertanyakan, sebenarnya dimana posisi Indonesia  karena satu sisi optimistik terbangun namun pada realitas lain sungguh-sungguh dalam masalah. Dikatakan, sebenarnya dalam rapat paripurna ingin mendengarkan terobosan seluruh kementerian selanjutnya melakukan koordinasi bukan malah mempertontonkan perselisihan di publik.

“Berhentilah untuk berkelahi di publik. Partai-partai pemerintah di ruangan ini digebukin pak setiap hari, untungnya partai-partai yang sebelumnya berbeda dengan kami sudah bersatu dengan kami sekarang, alhamdullilah,” ucapnya.

Sebelumnya dalam paparan di sidang paripurna, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tidak pernah berdiam diri untuk mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah. Bambang mengaku, pemerintah menyadari bahwa stabilitas nilai tukar rupiah perlu dijaga agar tidak berdampak pada aspek perekonomian nasional.

Dijelaskan, dalam RAPBN 2016 nilai tukar rupiah diperkirakan akan mencapai Rp 13.400 per US Dollar yang didasarkan pada nilai tukar rentang maksimum disepakati antara pemerintah, DPR, dan BI pada bulan Juni 2015 yakni Rp13.000-13.400 per dollar.

“Kondisi global tentu akan diperhitungkan dalam pembahasan RAPBN lebih mendalam sampai Oktober 2015. Selain itu, perlu ada langkah antisipatif dan perbaikan yang telah dan akam dilakukan BI untuk memperkuat fundamental perekonomian nasional,” terangnya. (hrm)

loading...
Click to comment
To Top