Pengamat: KPK akan Kehilangan Roh dan Tujuan Pendiriannya – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Pengamat: KPK akan Kehilangan Roh dan Tujuan Pendiriannya

JAKARTA—Pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Parahyangan, Bandung, Jawa Barat, Asep Warlan Yusuf, mengatakan jika anggota Polri dan Kejaksaan Agung lolos dalam seleksi calon pimpinan KPK, maka lembaga superbody tersebut akan kehilangan roh, filosofi, maksud dan tujuan pendiriannya.

Roh, filosofi, maksud  dan tujuan didirikannya KPK adalah karena ketidakpercayaan publik pada lembaga Polisi dan Kejaksaan, sehingga aneh jika unsur dari lembaga yang tidak dipercaya justru dimasukkan ke KPK.

“Meski secara hukum tidak ada larangan bagi setiap warga negara, termasuk anggota Polri dan Kejaksaan untuk mengikuti seleksi capim KPK, namun dengan masuknya unsur kepolisian dan kejaksaan, maka telah menghilangkan roh, filosofi, maksud  dan tujuan didirikannya KPK karena justru akibat ketidakberesan Polisi dan Jaksa lah KPK didirikan. Kalau sekarang justru dimaksudkan, apa coba namanya?,” ujar Asep ketika dihubungi wartawan, Senin (25/8).

Sejatinya menurut Asep, KPK tidak perlu ada karena ada crimina justice system yang terdiri dari Kejaksaan Agung, Polri, Pengadilan dan Lembaga Pemasyarakatan. Namun menurutnya, justru lembaga-lembaga tersebut yang kerap jadi sorotan korupsi ketidakpercayaan  publik.

“Jadi kalau dikatakan unsur Polisi dan Jaksa harus masuk KPK karena itu bagian dari criminal justice system memang tidak salah, tapi polisinya dan jaksanya harus benar dulu dong. Lagipula kalau polisi dan jaksa benar, maka sebetulnya KPK tidak perlu ada,” tambahnya.

Asep mengkhawatirkan, jika ada anggota Polri dan Kejasakan yang menjadi pimpinan KPK, maka KPK akan menjadi cabang Polri dan Kejaksaan Agung saja. Dirinya menegaskan akan sulit bagi KPK menjalankan tugas supervisi dan koordinasi dengan Polri dan Kejaksaan kalau pimpinan KPK adalah anggota Polri dan Kejaksaan.

“Andaikan anggota Polri dan Kejaksaan ini  lolos jadi pimpinan KPK, muncul pertanyaan, apakah dia bisa melepas atribut Polri dan Kejaksaan sehingga berani melakukan tugasnya? Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan fungsi supervisi dan koordinasi lembaga tempat mereka berasal? Yang justru akan terjadi saya khawatir justru kompromi-kompromi terhadap institusi tempat mereka berasal,” tegasnya.

Lagipula lanjut Asep, manusia tidak pernah tahu niat seseorang sehingga sulit mengatakan bahwa anggota Polisi dan Kejaksaan yang mengikuti seleksi capim KPK itu bukan untuk ikut memberantas korupsi, tapi justru untuk melindungi kasus-kasus yang terjadi di institusi tempat mereka berasal. (fmc)

loading...
Click to comment
To Top