KSI, Masa Depan Sungai Indonesia – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

KSI, Masa Depan Sungai Indonesia

BANJARNEGARA, RAJA – Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 70 persen wilayahnya terdiri dari perairan. Sayangnya, kondisi sungai dan perairan semakin memburuk. Sebagian besar justru menjadi tong sampah panjang. Padahal, sungai merupakan sumber air bagi makhluk hidup. Jika berlangsung terus menerus, Indonesia terancam darurat sumber daya air.

Kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja. Seluruh masyarakat mesti bersama mengembalikan fungsi sungai agar dapat bermanfaat untuk makhluk hidup, khususnya dalam memenuhi kebutuhan air masyarakat. Hal itu yang mendasari dilaksanakannya Kongres Sungai Indonesia (KSI) 2015, di Banjarnegara, pada 26-30 Agustus  2015 mendatang.

Ketua Panitia Pelaksana KSI 2015  Myra Diarsi menyampaikan sekitar 50 tahun terakhir kondisi sungai dan perairan di Indonesia kian memburuk. Sungai berubah menjadi penampung limbah dan beragam kotoran. Sungai tidak lagi diperlakukan sebagai sentrafugal kehidupan yang harus dirawat dan dilestarikan. Akibatnya, saat musim kemarau terjadi kekeringan, dan ketika musim hujan beberapa daerah terkena banjir.

Saat ini sedikitnya 52 sungai strategis di Indonesia dalam keadaan tercemar, dan sebagian besar kondisi sungai di Indonesia dalam kondisi rusak. Di  Jawa Tengah tercatat 199.427 hektare wilayah yang tersebar di 25 kabupaten dalam kondisi rawan banjir, dan tidak kurang dari 136 sungai yang tercemar dan 35 daerah aliran sungai di daerah itu kritis.

Penurunan kuantitas sungai, imbuh Myra, terjadi akibat peningkatan laju erosi, sedimentasi waduk. Sedangkan kualitas sungai memburuk karena pembuangan limbah cair industri, domestik, sampah, dan sedimen. Kongres Sungai Indonesia dilakukan untuk menegaskan eksistensi Negara Indonesia sebagai Negara Laut, Negeri Nusantara sebagai Negeri Air, Manusia Indonesia sebagai Manusia Air, serta bangsa Indonesia sebagai Bangsa Maritim. Penegasan ini memastikan spiritualitas rakyat, bangsa dan negara Indonesia, serta memposisikan sungai sebagai pusat peradaban bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan bersama. “Kondisi inilah yang melatarbelakangi  penyelenggaraan Kongres Sungai Indonesia di Banjarnegara. Melalui KSI, dapat menjadi ruang temu para pihak guna membahas realitas, mengonsolidasikan pikiran dan menyusun rancang strategis kerja bersama untuk perwujudan sungai sebagai pusat peradaban bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan bersama. Sekaligus memperingati 70 Tahun Indonesia Merdeka dan menegaskan kedaulatan Indonesia sebagai poros maritim dunia ,” ujarnya.

Kabupaten Banjarnegara dipilih menjadi tuan rumah Kongres Sungai Indonesia pertama, terkait dengan akan diselenggarakannya Festival Serayu. Jadi, selain mengikuti kongres, peserta juga akan diajak terlibat dalam Festival Serayu. Pada festival tahunan itu ada beberapa kegiatan untuk melestarikan budaya dan lingkungan yang sarat dengan kearifan lokal. Antara  lain Banjarnegara banjir dawet, aksi hijau,prosesi budaya Serayu, dan parak iwak.

Kegiatan lainnya adalah Festival Sungai, yang meliputi pameran sungai Indonesia, gelar budaya bertajuk Ekspresi Sungai, yang diramaikan pula dengan beragam aksi dari komunitas seni asal Jawa Tengah dan provinsi lain. Perhelatan tingkat nasional itu juga akan dimeriahkan dengan Banjarnegara Expo yang menampilkan aneka produk kerajinan dan usaha produktif  berbagai daerah di Jawa Tengah, serta bazaar kuliner unggulan.

Myra menjelaskan selain dihadiri 1.500 peserta  dari seluruh Indonesia, termasuk akademisi, birokrat, aktivis, tokoh masyarakat, dan perwakilan lembaga adat, kegiatan yang mengangkat tema ‘Sungai sebagai Pusat Peradaban bagi Kelangsungan Hidup Manusia’ itu, juga akan dihadiri Presiden RI Ir H Joko Widodo, Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP, serta sejumlah menteri Kabinet Kerja.

Presiden Jokowi dijadwalkan tiba di Banjarnegara pada Jumat (28/8) untuk menyampaikan pidato  tentang Restorasi Sungai untuk Kesejahteraan, dan berdialog dengan Komunitas Sungai. Seusai berdialog Presiden akan meninjau stand pameran kemudian menuju Desa Ambal, Kecamatan Karangkobar untuk meresmikan hunian tetap para korban tanah longsor di Desa Jemblung. (mj)

loading...
Click to comment
To Top