Ketika LPS Masuk Ruang-ruang Kelas – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Ketika LPS Masuk Ruang-ruang Kelas

Banyak hal bisa dilakukan untuk membantu bangsa. Tak membiarkan bank kolaps misalnya.

SITUASI  sedang tidak begitu baik. Ekonomi lesu. Jangankan untuk menyimpan uang di bank, untuk belanja sehari-hari saja sudah banyak yang susah. Di sisi lain, bank butuh dana pihak ketiga (DPK) untuk membuat roda ekonomi berputar. Pembiayaan-pembiayaan usaha misalnya, berasal dari bank.

Upaya yang kemudian harus dilakukan adalah membuat bank kembali mendapat kepercayaan. Sebab tidak sedikit juga orang yang sebenarnya masih punya uang banyak, namun lebih memilih menyimpannya di bawah bantal, lemari, atau bahkan celengan-celengan bambu. Di pelosok, beberapa orang masih sangat awam terhadap bank. Mereka takut menabung di kantor perbankan.

Maka tak heran bila dunia pendidikan termasuk yang paling diharap untuk membuat orang percaya pada bank. Beruntunglah, hal-hal mengenai itu juga sudah masuk ke ruang-ruang kelas. Di Universitas Hasanuddin (Unhas) misalnya, sudah ada materi mengenai jaminan menabung di bank. Itu dirintis Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sejak Oktober 2014 lalu. Perwakilan LPS bersama Rektor Unhas, Prof Dwia Arie Tina Pulubuhu meneken kertas yang menegaskan kerja sama itu. Materi LPS masuk kurikulum Unhas dan LPS siap membantu mahasiswa Unhas untuk riset. Data disiapkan selengkap mungkin.

Kepada fajar.co.id, Jumat, 28 Agustus 2015, Wakil Rektor Unhas, Prof Muhammad Ali menuturkan, sinergi itu amat baik. Para mahasiswa yang kemudian hari akan terjun ke masyarakat, bisa lebih matang dengan pengetahuan mengenai perbankan.

“Terutama bagi yang mengambil konsentrasi manajemen keuangan dan perbankan,” ujar Ali.

Dengan masuknya materi LPS di mata kuliah mahasiswa, ucap mantan Dekan Fakultas Ekonomi Unhas itu, setidaknya akan menjadi “kampanye”, bahwa ada tempat yang lebih aman dari kamar tidur untuk menyimpan uang, yaitu bank.

“Apalagi ketika rupiah melemah seperti sekarang. Kita semua seharusnya mendukung eksistensi perbankan. Bagaimana pun, bank tetap agen pembangunan,” tuturnya.

Dilihat dari perannya, LPS memang harusnya menempati posisi penting untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. LPS-lah yang menjamin tabungan masyarakat di bank-bank.

Kepala Bagian Kesekretariatan LPS, Budi Joyo Santoso, kala itu di Makassar, menuturkan, simpanan yang dijamin LPS maksimal Rp2 miliar per nasabah, di salah satu bank. Jenis simpanan yang dijamin LPS, untuk bank konvensional ada lima jenis di antaranya, giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan dan bentuk lain yang dipersamakan dengan itu. Sedangkan khusus bank syariah ada empat jenis simpanan di antaranya, Giro Wadiah dan Giro Mudharabah, Tabungan Wadiah dan Tabungan Mudharabah, Deposito Mufharabah, dan simpanan lain yang ditetapkan LPS.

Garansi Rp2 miliar itu relatif sudah semakin membuat nasabah semringah. Sebab sebelumnya nominal yang ditanggung hanya Rp100 juta. Namun sejak 13 Oktober 2008, itu berubah.

Tugas LPS terbilang tidak mudah. Per 31 agustus 2014 saja, setidaknya ada 1.914 bank yang mesti “dipelototi”. Terdiri atas 107 bank umum, 12 bank umum syariah 12, 1.632 BPR, dan 163 BPRS.

Per 31 agustus 2014 itu, sudah ada 152,8 juta rekening. Total nilai simpanan sebesar Rp3.832,57 triliun. Nah, dari jumlah itu, LPS hampir menjamin seluruhnya. Sebab, jumlah total simpanan sampai dengan Rp2 miliar adalah 152,6 juta rekening atau 99,88 persen. Nilainya Rp1.789,24 triliun atau 46,69 persen dari seluruh simpanan.

Nah, seabrek tugas LPS itu, termasuk peranannya dalam membuat bank semakin dipercaya, perlu dukungan semua pihak. Dunia pendidikan, termasuk kampus-kampus sudah ikut terlibat untuk itu.

Tanpa bank, bangsa ini susah tumbuh sebagaimana mestinya. (imam dzulkifli)

loading...
Click to comment
To Top