Paket Kebijakan Ekonomi Harus Ada Terobosan Baru – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ekonomi & Bisnis

Paket Kebijakan Ekonomi Harus Ada Terobosan Baru

FAJARONLINE, JAKARTA – Pemerintah akan mengeluarkan satu paket besar kebijakan ekonomi untuk memperbaiki kondisi perekonomian nasional. Rencananya paket kebijakan tersebut akan dirilis minggu depan. Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) berharap agar dalam paket besar itu harus ada terobosan baru dan membangkitkan optimisme dunia usaha dan pasar akan perekonomian nasional.

“Kalau hanya repackaging bahan dari yang sudah-sudah atau yang lama, ya bisa anti klimaks lagi. Kita harapkan ada terobosan baru dan mampu bangkitkan optimisme dunia usaha dan pasar,” ujar Ketua Umum BPP Hipmi Bahlil Lahadalia di Jakarta hari ini (Minggu, 30/8).

Kebijakan besar yang akan diambil pemerintah tidak bisa hanya biasa-biasa saja atau sekedar memoles-moles apa yang sudah ada. Namun ada sesuatu yang besar, baru, bersifat fundamental, konkrit, dan berdampak langsung dalam jangka pendek sehingga dunia usaha dan pasar merespon secara positif bahkan antusias memperkuat ekonomi dan investasi domestik.

Bahlil mengatakan, belajar dari pengalaman sebelumnya, paket-paket ekonomi sebelumnya hanya disambut dingin oleh investor, dunia usaha, dan pasar. Dia mencontohkan, di paket-paket sebelumnya tidak ada terobosan di sektor pembiayaan. Meskipun insentif fiskal sudah berjubel, namun pembiayaan dari lembaga keuangan tetap saja seperti seperti biasa.

Sebab itu, Hipmi berharap agar cakupan paket kebijakan ini tersinergi dengan lembaga-lembaga seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia agar kebijakan nantinya dapat lebih feasible secara makro prudensial namun juga dapat mendorong sektor peran keuangan lebih ekspansif. Bahlil mengatakan, saat ini terjadi ketimpangan (gap) yang besar antara sektor keuangan dan sektor riil. Di satu sisi, sektor keuangan tumbuh atraktif, disini lain sektor riil semakin terpuruk.

“Contoh lagi disituasi semacam sekarang saja, NIM (net interest margin) bahkan naik menjadi di atas 5 persen. Sedangkan industri non migas lainnya terus menurun, lama-lama bisa di bawah 6 persen,” papar Bahlil.(rus/rmol)

loading...
Click to comment
To Top