Sosialisasi 4 Pilar, Muliati Saiman Kunjungi Kecamatan Mowila – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Sosialisasi 4 Pilar, Muliati Saiman Kunjungi Kecamatan Mowila

KONAWE–Anggota DPD/MPR RI Muliati Saiman, mengajak siapapun untuk menghormati setiap perbedaan yang ada. Baik Agama, suku, keyakinan serta perbedaan lainnya. Dengan tujuan, kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai dan sejahtera.

Hal itu, dikemukakan Perempuan yang meraih suara terbanyak untuk wilayah Sulawesi Tenggara itu, saat melaksanakan tugas sosialisasi empat pilar kebangsaan di Kecamatan Mowila, Kabupaten Konawe Selatan (26/8).

Acara yang dimulai sekitar pukul 10.00 itu dihadiri 150 undangan. Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, yang meliputi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Dengan berlandaskan pada empat pilar itu, akan tercipta kehidupan berbangsa yang harmonis.

”Empat Pilar dari konsepsi kenegaraan Indonesia tersebut merupakan prasyarat minimal bagi bangsa Indonesia ini untuk bisa berdiri kokoh dan meraih kemajuan berlandaskan karakter kepribadian bangsa Indonesia sendiri,” kata Muliati.

Setiap warga negara Indonesia harus memiliki keyakinan, bahwa itulah prinsip-prinsip moral bangsa Indonesia yang memandu tercapainya perikehidupan bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Lebih lanjut dikatakan bahwa, diperlukan adanya usaha sengaja untuk melakukan penyadaran, penegembangan, dan pemberdayaan menyangkut Empat Pilar Kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kegiatan sosialisasi tambah dia, menjadi hal penting untuk dilaksanakan oleh semua pihak. Para penyelenggara negara, baik pusat maupun daerah dan segenap warga negara Indonesia harus sama-sama bertanggung jawab untuk memahami dan melaksanakan nilai-nilai Empat Pilar dalam kehidupan sehari-hari.

Anggota DPD dari Daerah Pemilihan Sulawesi Tenggara itu menyebutkan, sejak awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, para pendiri negara menyadari bahwa keberadaan masyarakat yang majemuk merupakan kekayaan bangsa yang harus diakui, diterima, dan dihormati.

”Namun tanpa disadari ketidakmampuan mengelola kemajemukan dan ketidaksiapan masyarakat menerima kemajemukan tersebut telah mengakibatkan terjadinya berbagai gejolak yang membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa,” katanya.

Di Kecamatan Mowila ini misalnya, terdapat banyak suku bangsa yang hidup, bekerja, dan menetap disini ada suku Tolaki, Jawa, Bugis namun mereka bisa hidup bersama secara damai.

Tidak mempersoalkan perbedaan yang ada pada dirinya. Mereka mau memahami perbedaan yang ada sebagai sebuah keniscayaan dari Tuhan. Kemudian disambut riuh tepuk tangan dari peserta yang hadir.

”Kata kuncinya adalah toleransi. Dengan toleransi tesebut kita tetap bisa hidup berdampingan secara damai dan sejahtera. Sikap toleransi itulah yang harus terus dipupuk dan dikembangkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”, tegasnya.  (fmc)

loading...
Click to comment
To Top