KPU Akui Tingkat Melek Politik di Magelang Masih Rendah – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

KPU Akui Tingkat Melek Politik di Magelang Masih Rendah

MAGELANG – Tingkat partisipasi pemilih di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tergolong tinggi meskipun angka melek politik masih rendah. Hasil riset yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Magelang tentang tingkat partisipasi masyarakat dalam Pemilu 2014 lalu. Hal tersebut disampaikan Komisioner KPU Senin (31/8).

Ketua KPU Kabupaten Magelang, Afiffudin mengatakan, sejumlah masalah menyangkut partisipasi pemilih masih terus ditemukan dalam setiap pelaksanaan Pemilu. “Diantaranya partisipasi kuantitatif yang tidak mesti berbanding lurus dengan partisipasi kualitatif. Partisipasi dalam menggunakan hak pilih belum tentu berimbang dengan tingkat kesadaran dan pemahaman politik masyarakat,“ ungkapnya.
Riset yang dilakukan KPU, lanjut Affifudin, merupakan upaya strategis dalam pengembangan manajemen pemilu. Hasil dari riset akan dijadikan salah satu pijakan empirik untuk mengukur tingkat kesadaran dan pemahaman politik masyarakat.
“100 orang responden yang kami sample ini terdiri dari beberapa kelompok umum di lima kecamatan. Yakni Muntilan, Mertoyudan, Bandongan, Kaliangkrik, dan Windusari. Riset dilaksanakan sejak bulan April-Juli kemarin,” terangnya.
Hasil riset menunjukkan bahwa tingkat partisipasi warga dalam Pemilu Legislatif sangat tinggi. Begitu juga saat Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. “Namun tingkat melek politik pemilih Kabupaten Magelang mengenai kontestan pemilu baik di Legislatif maupun Presiden 2014 lalu rata-rata berada pada angka 2,55 yang berarti tingkat melek politik rendah,“ beber mantan Ketua Panwaskab Magelang ini.
Sementara Divisi sosialisasi KPU Wardoyo, menandaskan berdasarkan hasil riset tersebut, maka diperlukan adanya upaya meningkatkan pemahaman politik warga negara melalui pendidikan politik. Hal ini menjadi tanggung jawab bersama baik penyelenggara pemilu, pemerintah, partai politik, dan masyarakat sendiri.
“Sejumlah strategi yang dapat dilakukan antara lain membuka saluran informasi secara luas dan menyeluruh, memperdalam muatan informasi mengenai sistem, proses, dan profil kontestan.,” tandasnya.
Wardoyo juga menyebutkan tingkat ketidak ikutsertaan pemilih yang di temukan pada pemilu legislatif mencapai 10 persen. Sedang pada pemilu Presiden mencapai 12 persen. “Berbagai alasan yang di temukan dari pemilih yang tidak ikut dalam pemilu beraneka ragam,“ jelasnya.
“Beberapa alasan yang didapat diantaranya, kerja yang sangat jauh, sakit, tidak kenal siapa yang harus dipilih, bahkan ada yang mengaku merasa di tipu tidak jadi di beri amplop oleh tim sukses,“ pungkas Wardoyo. (zis)

loading...
Click to comment
To Top