Pengusaha Batik Terpuruk Akibat Rupah Menukik – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Pengusaha Batik Terpuruk Akibat Rupah Menukik

JAKARTA- Terus merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat harga bahan baku pembuatan batik melonjak. Penyebabnya, bahan baku batik sekitar 60 persen mengandalkan produk impor.

Agar usahanya tidak gulung tikar, sejumlah perajin batik di kawasan Cigeureung, Cipedes, Kota Tasikmalaya, mengutamakan pekerjaan pesanan.

Hal itu dirasakan salah seorang perajin batik, Dedi Supriadi. Sejak sekitar dua minggu lalu, harga bahan baku batik yakni kain dan pewarna yang kebanyakan produk impor, mulai naik.

Padahal saat harga bahan bakar minyak (BBM) naik akhir tahun lalu, harga bahan baku batik sudah naik.

“Harga pewarna kualitas biasa yang awalnya Rp 125 ribu r per kilogram naik hingga Rp 156 perkilogram. Untuk kualitas lebih bagus juga naik dari Rp 262 ribu menjadi Rp 320 ribu per kilo gram,” kata Dedi Senin (7/9).

Dikatakan, merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar membuat produksi dan penjualan batik terpuruk. Dia mengatakan bahan baku pembuatan batik sekitar 60 persen mengandalkan impor. Karena mengandalkan bahan baku impor, jadi sangat berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah.

Dia juga mengaku kelimpungan, sebab meski bahan baku naik tapi  harga jual ke konsumen tidak bisa serta merta dinaikan. Selain persaingan pasar dengan batik  daerah lain, konsumen ingin harga batik yang terjangkau.

Agar usahanya tidak gulung tikar, Dedi mengaku mengutamakan pekerjaan pesanan dan memangkas biaya tidak langsung. [dem]

loading...
Click to comment
To Top