Sedekah di Antara Program Rumah Murah – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ekonomi & Bisnis

Sedekah di Antara Program Rumah Murah

NAMANYA diumumkan. Tirai dibuka. Abdullah meraba tanah. Dia ingin sujud syukur di depan rumah yang baru saja diwakafkan untuknya.

Ayah sepuluh anak itu mungkin tak akan pernah melihat rumah itu. Dia tunatetra sejak lahir. Tetapi setidaknya dia bisa tidur lebih nyenyak. Sekaligus melupakan hunian lamanya di dekat tempat pembuangan sampah di Batangase, Kabupaten Maros, Sulsel.

Sejak siang itu, 8 Juli 2015, dia dan keluarganya resmi pindah ke Permata Indah Bandara. Masih di kawasan Batangase. Namun dengan bangunan dan status yang berbeda. Ada selembar kertas yang menyatakan bahwa dialah pemilik rumah itu.

Abdullah adalah satu dari sepuluh orang yang terbidik program Ramadan Rumah Impian (RRI) 2015 dari Real Estat Indonesia (REI) Sulsel. REI melibatkan media Harian FAJAR, menyeleksi nama-nama yang masuk ke panitia. Ada proses survei sebelum hajatan digelar pada bulan puasa. Menariknya, nama-nama itu tidak diusulkan orang bersangkutan, melainkan dari orang lain yang empati. Ada yang direkomendasikan keluarganya, tetangganya, hingga ketua RT-nya.

RRI sudah digelar sejak 2010. Diinisiasi Raymond Arfandy (ketua REI Sulsel kala itu) dan kawan-kawan. Semua rumah berasal dari sumbangan donatur. Rata-rata pengembang perumahan yang bernaung di REI. Semakin tahun, REI juga melibatkan para rekanan. Ada sejumlah bank, pemerintah daerah, hingga produsen cat yang ikut urunan.

“Saya bersyukur, seiring berjalannya waktu, kedermawanan rekan-rekan REI semakin menebal,” ujar Raymond yang kini hijrah ke Jakarta dan menjadi salah satu wakil ketua umum di DPP.

Sudah lebih dari 60 unit rumah yang dibagikan di Sulsel sejak awal program lima tahun lalu. Tak terhitung air mata haru dan ekspresi sujud syukur yang ditunjukkan para penerima. Betapa tidak, tanpa kabar apapun sebelumnya, mereka langsung diajak ke sebuah tempat dan berdebar menunggu tirai terbuka. Di baliknya sudah ada hunian yang kondisinya bisa beratus kali lipat lebih baik dari tempat tinggal mereka sebelumnya.

Syarat terpenting terpilih menjadi penerima adalah tidak memiliki rumah yang layak namun punya upaya untuk mempertahankan hidup. Artinya, mereka mau bekerja. Sekecil apapun pendapatannya.

Dan Sulsel patut bersyukur. Sejak beberapa tahun ini, program itu diadopsi sejumlah DPD REI di Sulsel. Pada 2015 ini saja, setidaknya ada 33 rumah di 12 provinsi yang diberikan secara gratis kepada warga miskin secara nasional.

RRI memang sudah dinasionalkan. Dari Sulsel, para pengembang REI mendengungkan bahwa ada yang mesti dibagi dalam hidup.

“Tahun ini kondisi ekonomi cenderung melemah. Namun uniknya, itu tidak menyurutkan semangat teman-teman untuk berdonasi. Itu yang membuat saya terharu,” kata Arief Mone, Ketua DPD REI Sulsel.

“Teman-teman juga ingin kesuksesannya berkah melalui sedekah,” imbuhnya.

Tekad untuk berbagi itu juga yang melipatgandakan semangat REI Sulsel untuk bahu-membahu mendukung program sejuta rumah dari pemerintah pusat.

Meski belum ada jaminan sejuta unit bisa direalisasikan dalam setahun, setidaknya bagi pengembang anggota REI Sulsel, program ini bisa memperbesar gaung properti.

Arief, menuturkan, ini juga menjadi momentum untuk mempertegas bahwa semua orang bisa punya rumah. Kini, kata dia, ada banyak fasilitas dan kemudahan untuk mendapatkan hunian.

REI Sulsel mengaku serius dengan program ini. Untuk itu, organisasi ini membentuk gabungan atau kelompok kerja (pokja) rumah murah. Hunian untuk kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Pokja dimotori DPD REI Sulsel dan lagi-lagi melibatkan Harian FAJAR.  Di dalam kelompok kerja tersebut ada OJK (Otoritas Jasa Keuangan), BI (Bank Indonesia), perbankan, dan juga pemerintah daerah.

“Dengan adanya kelompok ini, semua bisa terfasilitasi. Misalnya dengan hadirnya bank, kita bisa cari jalan keluar terkait risiko kemacetan kredit,” ujarnya.

Dalam pokja ini, ada Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo sebagai pembina.
Pokja inilah yang akan bekerja keras untuk mewujudkan target 10 ribu rumah (target khusus Sulsel) dalam satu tahun.

“Kami bahkan yakin dengan terbentuknya pokja, bahkan bisa mencapai 20 ribu unit rumah. Asalkan kita semua bisa saling bersinergi bersama dan bekerja sama,” ucap Arief.

Begitulah semangat yang membuncah dari daerah. Para pengembang REI di Sulsel tak pernah mengendurkan misi untuk terus berkontribusi dalam penyediaan rumah murah. Namun di balik itu, mereka juga tak lupa bahwa ada yang belum sanggup untuk membeli, namun punya keinginan untuk berikhtiar.

RRI atau Ramadan Rumah Impian adalah bentuk kasih sayang pengembang untuk mereka yang duafa. (*)

Click to comment
To Top