Rizal Ramli: Kalau Tidak Suka, Suruh RJ Lino Telepon Saya Langsung – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Rizal Ramli: Kalau Tidak Suka, Suruh RJ Lino Telepon Saya Langsung

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Rizal Ramli terus ngepret kemana-mana. Kemarin, Menko Kemaritiman dan Sumberdaya itu mengacak-acak Pelabuhan Tanjung Priok, wilayah Pelindo II. Caranya, dengan membongkar beton di jalur kereta di pelabuhan.

Rizal yakin, jalur kereta api yang sudah dibangun sejak zaman Belanda tersebut sengaja ditutup. Tujuannya supaya arus keluar masuknya barang dari Pelabuhan Tanjung Priok semakin sulit. Ini akan membuat barang impor semakin lama parkir di Pelindo II yang ujungnya, biaya tinggi untuk para pengusaha.

Dia pun menantang Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino untuk menelepon dirinya apabila tidak suka dengan pembongkaran itu. “Silakan RJ Lino telepon siapa saja, saya mah cuek urusan begitu. Emang gua pikirin. Suruh kalau bisa (RJ Lino) telpon saya langsung,” ujar dia di Dermaga III, Pelabuhan Tanjung Priok, kemarin.

Sebelumnya, ketika kantornya diubek-ubek penyidik Bareskrim terkait kasus dugaan korupsi mobil crane, Lino kebakaran jenggot. Dia langsung menelepon Menteri BPPN/Bappenas Sofyan Djalil untuk mengadu ke Presiden Jokowi.

Bahkan, Lino mengancam untuk mundur apabila kasus tersebut tidak dihentikan. Selain Lino, Menteri BUMN Rini Soemarno pun ikut menelepon Kapolri Jenderal Badrodin Haiti.

Rizal bahkan mengaku tak berkoordinasi dengan Menteri BUMN Rini Soemarno untuk membongkarnya. Menurut dia, permasalahan dwelling time sudah menjadi tanggung jawab Kemenko Kemaritiman, bukan lagi Menteri BUMN. “Masing-masing kan ada tugasnya. Tugas saya bikin rancangan dwelling time selesai,” tegasnya.

Anggota Komisi III DPR Masinton Pasaribu yang ikut dalam sidak mengatakan, Rizal meminta pihak pelabuhan mengaktifkan kembali jalur kereta tersebut. “Rizal Ramli perintahkan membongkar penghalang atau cor semen yang menutupi jalur kereta ke pelabuhan,” kata Masinton.

Jika digunakan, jalur kereta ini sebenarnya bisa menekan biaya bongkar muat. Namun, yang jadi pertanyaan, kenapa PT Pelindo II malah menutup jalur tersebut. “Bisa memangkas biaya, kenapa kok tidak dilakukan,” tegas dia.

[NEXT-FAJAR]

Masinton curiga ada yang sengaja mengatur agar waktu bongkar muat barang di pelabuhan menjadi lama. Dia menekankan pelabuhan bukanlah tempat menumpuk barang. “Oleh Dirut Pelindo II (RJ Lino), pelabuhan itu difungsikan sebagai tempat penumpukan. Tahu sendiri kan biaya penumpukan, bayarnya mahal,” kata dia.

Dari administrator dan bea cukai di Pelabuhan Tanjung Priok, keduanya mendapat informasi ada bagi-bagi lapak di Pelindo II. “Tadi disampaikan bahwa area pelabuhan itu dikavling-kavling. Seperti buka lapak kepada pengusaha swasta,” ungkapnya.

Kavling ini dibagi untuk perusahaan swasta yang berani bayar dan orang dekat pengelola pelabuhan. Walau belum bisa mengungkapkan siapa saja yang terlibat, Masinton mengatakan Dirut Pelindo II lah yang harus tanggung jawab.

Informasi data bagi-bagi lapak ini masih dipegang oleh Bea Cukai. Masinton menyampaikan, perusahaan swasta yang ikut bagi-bagi kavling di pelabuhan sangat banyak. Masinton akan membawa informasi ini ke Pansus Pelindo Gate.

“Nanti didalami. Itu kan masih dugaan-dugaan. Informasi itu kan bisa benar bisa nggak. Informasi itu kan harus dicek lagi,” tandasnya. Rakyat Merdeka mencoba meminta tanggapan RJ Lino. Namun dia tak mengangkat telepon, juga membalas pesan singkat. Direktur Keuangan Pelindo II Orias Petrus Moedak menyatakan, tidak ada yang salah dengan absennya Dirut RJ Lino saat sidak yang dilakukan Menko Rizal Ramli.

“Kalau datang, orang lagi nggak ada di rumah kan nggak apa-apa. Lagian dia (Rizal) nggak datang ke kantor, cuma di halaman. Kalau cuma di halaman ya kita nggak tahu,” jawab Orias. Lagian, kata Orias, ketika ada sidak, Lino tidak berada di kantor. Tapi dia menyayangkan, sebagai seorang menteri, Rizal tidak menginformasikan terlebih dahulu kedatangannya. “Saya ada rapat dengan auditor. Saya pikir Pak Lino sudah terima dia, jadi saya lanjut rapat,” sambungnya. (rmol)

loading...
Click to comment
To Top