Barru Jadikan Contoh Pengembangan Sapi Bali – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Makassar

Barru Jadikan Contoh Pengembangan Sapi Bali

FAJARONLINE, BARRU – Tagline duet Andi Idris Syukur-Suardi Saleh (AIS) “Bekerja Untuk Rakyat” terbukti bukan sekadar kata semata. Racikan kepemimpinan Idris selama lima tahun terakhir, memberi manfaat nyata di masyarakat.

Di era kepemimpinan Idris Syukur di periode pertama 2010-2015, Barru terus berbenah dan berdandang. Bahkan, beberapa sentuhan tangan kandidat bupati nomor urut 3 tersebut, sudah mendapat pengakuan, sekaligus dijadikan barometer pemerintah pusat.

Selain Barru mencatatkan diri sebagai penghasil udang terbesar di dunia, kabupaten berjuluk Hibrida itu, juga dijadikan pusat pengembangan Sapi Bali oleh pemerintah pusat. Pertimbangannya ada kesungguhan pemerintah kabupaten menggerakkan masyarakat untuk berternak.

Sebagai bukti keseriusan Idris dan pemerintah kabupaten, selama beberapa tahun terakhir mengarahkan masyarakat di pedesaan untuk berternak sapi, sekaligus membuatkan kandang yang dinamai “Showroom Sapi”.

Tidak melepas begitu saja, pemerintah intens melakukan pendampingan ke masyarakat, agar Sapi Bali tersebut bisa berkembang biak secara berkesinambungan baik secara alami maupun inseminasi buatan (kawin suntik).

Khusus sapi yang melahirkan secara alami, pemerintah kabupaten memberikan biaya per ekor, yakni Rp750 ribu. Selain itu, sapi betina juga dilarang di jual secara dini, agar bisa terus berproduksi atau berkembang biak.

“Sapi yang melahirkan secara alami itu kita biayai hingga Rp750 ribu per ekor. Awalnya itu bersumber dari APBD. Tapi setelah melihat manfaat dan efektifitasnya, pemerintah pusat langsung tertarik, sehingga kini dibiayai langsung oleh APBN,” kata Idris Syukur, Minggu (13/9).

Idris menuturkan, ditunjuknya Barru sebagai pusat pengembangan Sapi Bali bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Sebab warga yang memiliki sapi, dan mengelola peternakan, secara otomatis bisa meningkatkan kesejahteraannya.

Apalagi, Sapi Bali yang dikembangkan di Barru, mampu melahirkan tujuh hingga sembilan kali. Sehingga, satu rumah tangga saja bisa memelihara sapi betina, maka sudah punya investasi modal puluhan juta jika bisa mengembangbiakkan.

“Oleh karena itulah, kita selalu menghimbau kepada masyarakat agar jangan menjual sapi betinanya, terutama yang belum melahirkan. Sebab jika sampai menjualnya, maka sama halnya melepas tujuh hingga sembilan sapi. Karena itu tadi, sapi kita di Barru bisa melahirkan sampai sembilan kali,” urai mantan kepala Dinas Kehutanan Sulsel itu, meyakinkan.

Warga Pujananting, Akbar mengatakan, dampak dari program pemerintah selama ini sangat terasa. Sebab, di samping bisa bertani, juga bisa berternak sapi, maupun hewan lainnya. “Program Pemkab selama tiga tahun terakhir, benar-benar kita sangat rasakan manfaatnya di pedesaan,” kata Akbar. (rilis)

Click to comment
To Top