Tali Foundation Bedah Program Listrik 35.000 MW – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ekonomi & Bisnis

Tali Foundation Bedah Program Listrik 35.000 MW

JAKARTA–Program listrik 35.000 MW yang dicanangkan pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla masih jadi polemik. Perbedaan persepsi di internal eksekutif jadi pemicu. Khususnya Menko Maritim Rizal Ramli yang meragukan program ini dan menganggap tidak realistis.

Untuk mencari titik terang persoalan listrik ini, Lembaga Tali Foundation menggelar diskusi membedah program listrik Indonesia, khususnya program 35.000 MW, di Insan Cendekia Madani BSD, Tangerang, Senin (14/9). Diskusi ini menghadirkan langsung Direktur Konstruksi Energi Terbarukan PT PLN (Persero) Nasri Sebayang, dan Wakil Ketua Komisi VII Bidang Energi DPR RI yang juga pembina Tali Foundation Tamsil Linrung.

Pembina Tali Foundation Tamsil Linrung, mengatakan, listrik menjadi masalah yang sangat fundamental bagi bangsa ini. Selain menjadi salah satu kebutuhan primer masyarakat, listrik juga menjadi roda penggerak perekonomian nasional.

“Karena itu masalah ini kita angkat pada diskusi rutin Tali Foundation. Kita hadirkan langsung Direktur PLN yang mengetahui seluk beluk listrik di negeri ini,” kata Tamsil, saat membuka diskusi Tali Foundation.

Pimpinan Komisi VII DPR ini juga menyinggung masalah listrik 35.000 mw dan pulsa listrik (token) yang dituding ada perampokan sebesar 30%. Menurutnya, isu ini membuat masyarakat resah karena adanya perbedaan pendapat di internal pemerintahan.

“Saya harap melalui diskusi ini, Direktur PLN bisa memberikan penjelasan dengan baik, agar tidak membingungkan masyarakat lagi,” harapnya.

Guna mendukung kebutuhan listrik nasional, Tamsil mengusulkan PLN mempelajari tawaran kerjasama Rusia dalam hal pengembangan energi nuklir.

“Dua hari lalu saya menerima kunjungan Dubes Rusia di DPR. Mereka menawarkan kerja sama bidang energi nuklir. Untuk menindaklanjuti itu, kami akan melakukan kunjungan kerja ke Rusia pada 27 September, untuk melihat langsung proyek nuklir disana. Proyek nuklir Rusia ini telah berhasil dikembangkan di Turki, Vietnam, dan Mesir. Saya kira pemerintah perlu mempertimbangkan kerja sama ini,” ujar politisi PKS ini.

Menyoal masalah diatas, Direktur Konstruksi Energi Terbarukan PT PLN, Nasri Sebayang menjelaskan, program 35.000 mw, adalah salah satu program percepatan pembangunan sektor tenaga listrik yang sudah tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2015-2024. Program ini juga sudah disahkan oleh menteri ESDM pada 12 Januari 2015 lalu.

“Ini adalah program penting yang menentukan maju mundurnya bangsa kita. Program ini bukan berorientasi target, tapi orientasi kebutuhan listrik nasional,” kata Nasri Sebayang, saat mengawali diskusi.

Kebutuhan listrik, kata Nasri sangat berkaitan erat denga pertumbuhan ekonomi. 1 % pertumbuhan ekonomi butuh 1,3 kali pertumbuhan listrik. Contohnya tahun 2014 ekonomi nasional tumbuh 5,5 persen dan diikuti pertumbuhan listrik 5,8 persen. Ini menjadi acuan untuk mengantisipasi pertumbuhan ekonomi dan listrik yang semakin meningkat hinga 10 tahun kedepan.

“Inilah dadar perencanaan program 35.000 mw. Ini bagian dari rencana pembangunan pembangkit listrik 70.000 mw untuk 10 tahun. Program ini juga untuk mengantisipasi pertumbuhan listrik sebesar 8,7 persen per tahun,” paparnya.

Lanjut dia, selama 5 tahun mulai 2009-2014, PLN bisa membangun listrik 19.000 mw. Dengan jumlah pelanggan dari 40 juta menjadi 50 juta pelanggan, dan skarang meningkat 58 juta dan itu terbesar di seluruh dunia. Saat ini ada sekitar 51.571 mw pembangkit yang tersebar di seluruh indonesia, dan hampir 70 persen di jawa sisanya di wilayah timur.

Karena itu, PLN harus bekerja keras untuk membangun pembangkit listrik 35.000 mw. Adapun hal yang biasa menghambat pembangunan proyek listri seperti aspek sosial, perizinan, kualitas kontraktor, dukungan stakeholder khususnya penegak hukum, masalah financial, harus dikelola dengan baik jika tidak program ini tidak bisa terealisasi.

“Kita punya kapasitas untuk membangun. Jika program ini berhasil, tahun 2024 seluruh masyarakat Indonesia harus bisa mengakses listrik secara keseluruhan,” pungkasnya. (fmc)

 

loading...
Click to comment
To Top