Sosialisasi Empat Pilar, Amirul Tanamkan Pentingnya Inklusifitas Budaya – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Politik

Sosialisasi Empat Pilar, Amirul Tanamkan Pentingnya Inklusifitas Budaya

FAJAR.CO.ID, KENDARI – Anggota DPR/MPR RI DR. MZ. Amirul Tamim, menghimbau dan mengajak masyarakat jazirah Kepulauan Buton yang ada di Kota Kendari untuk tetap menjaga keberaamaan sembari menghargai perbedaan dan keragaman yang ada di daerah rantau. Sulawesi Tenggara yang terdiri dari  berbagai etnik dimana Buton adalah bagian tak terpisah di dalamnya adalah sebuah kekayaan dan warisan budaya yang sangat unik untuk terus dirawat karena itulah yang menjadi identitas sebuah masyarakat.

Orang Buton yang ada di Kendari mesti mencintai kota ini sebab kita tinggal dan bekerja disini, namun kita juga tak boleh lupa dengan darah Buton yang mengalir dalam diri kita. Jadi dimanapun orang Buton berada harus mencintai tempat tinggalnya, berbaur dengan warga dari kebudayaan dan etnik berbeda namun tidak meninggalkan identitas kebutonannya.
Hal itu, dikemukakan anggota MPR RI Fraksi Partai Persatuan Pembangunan ini dalam kegiatan Diskusi Kebangsaan saat melaksanakan tugas sosialisasi empat pilar kebangsaan di Hadapan keluarga besar Kepulauan Buton yang ada di Kota Kendari Propinsi Sulawesi Tenggara (19/9).

Acara yang dimulai pukul 09.30 Wita itu dihadiri 200 lebih undangan. Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, yang meliputi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Empat pilar tersebut adalah penyangga dan nilai yang menguatkan bangsa dan negara kita. ”Empat Pilar Kebangsaan adalah landasan filosofis kita bernegara sekaligus penyangga kokohnya NKRI sekaligus menjadi cermin karakter bangsa kita,” tegas Amirul.

Sangat penting untuk membangun karakter kebutonan yang kuat bagi anak-anak kita, namun tetap dibarengi dengan sikap inklusif terhadap kebudayaan lain. Jika kita mampuadukan kebudayaan asal dan kebudayaan tempat kita tinggal tentu akan memberi warna yang makin kaya bagi keragaman budaya Indonesia karakter itulah yang membuat bangsa kita dikenal dari dulu dengan pluralitas dan keterbukaannya sehingga dapat menciptakan kohesi sosial yang sangat lama hingga berbentuk Indonesia saat ini.

Lebih lanjut dikatakan bahwa, diperlukan adanya usaha bersama-sama yang terorganisir untuk melakukan sosialisasi dan penyadaran, pengembangan, serta pemberdayaan menyangkut Empat Pilar Kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kegiatan sosialisasi tambah dia, menjadi hal penting untuk dilaksanakan oleh semua pihak. Para penyelenggara negara, baik pusat maupun daerah dan segenap warga negara Indonesia harus sama-sama bertanggung jawab untuk memahami dan melaksanakan nilai-nilai Empat Pilar dalam kehidupan sehari-hari.

[NEXT-FAJAR]

Anggota Komisi II DPR RI dari Daerah Pemilihan Sulawesi Tenggara itu menyebutkan, sejak awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, para founding father kita telah menyadari bahwa masyarakat kita yang beragam bahasa dan budaya ini merupakan kekayaan berharga bangsa yang harus diakui, diterima, dihormati dan dilestarikan.

”Keragaman yang ada di masyarakat jangan dipertentangkan satu sama lain. Keragaman dan kemajemukan ini harus dikelola menjadi kekuatan bangsa sehingga tiap warga negara di republik ini punya kewajiban bersama untuk menjaga dan menghargai tiap perbedaan. Dengan begitu, kita bersama-sama dapat mencegah terjadinya gesekan sosial akibat adanya berbagai perbedaan, karena perbedaan itulah yang menjadi kekuatan kita dengan syarat kita cerdas mengelolanya. Untuk kesatuan NKRI,” katanya.

Di Kendari ini misalnya, terdapat banyak suku bangsa yang hidup saling berdampingan sejak ratusan tahun silam. Berbagai suku seperti suku Tolaki, Bugis, Muna, Buton, Wolio, Moronene, Jawa, Bali dal suku lainnya. Berbagai suku tersebut depat saling berinteraksi dan hidup berdampingan. Perbedaaan yang ada pada mereka justru menjadi warna tersendiri dalam khasanah kebudayaan yang tumbuh di Kota Kendari.

”Point pentingnya adalah sikap inklusif. Dengan sikap inklusif tesebut kita bisa menjaga identitas lokal sembari mendialektikakan berbagai perbedaan yang ada di sekitar kita untuk saling menguatkan demi masa depan Sulawesi Tenggara dan tentunya Indonesia yang lebih baik. Sikap inklusif itulah yang harus terus dipupuk dan dikembangkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”, tegasnya. (hrm)

Click to comment
To Top