(Opini) Poso Konflik Horizontal atau Kriminal – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Makassar

(Opini) Poso Konflik Horizontal atau Kriminal

KABUPATEN  Poso adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Tengah yang letaknya berimpitan dengan garis equator /Khatulistiwa. Dengan letaknya yang demikian Kabupaten poso adalah daerah sangat subur, berbagai jenis tanaman holtikultura dan tanaman keras dapat tumbuh dengan gampangnya.

Sulawesi secara keseluruhan adalah daerah dikenal dalam prasejarah adalah Wirabuana artinya Bumi satria dalam arti terminologinya bumi yang didalam terdapat kandungan mineral. Termasuk kabupaten Poso sebagai daerah penghasil tambang nikel.

Pada umumnya daerah poso adalah daerah Hutan lebat yang dipenuhi tanaman keras. Jenisnya kayu ulin yang sangat terkenal dengan kekuatannya dan harganya sangat mahal. Kabupaten Poso sangat subur untuk tanaman hortikultura antara lain Durian, mangga, salak, langsat dan lain sebagainya. Hasil laut tidak kalah melimpah, berbagai jenis ikan laut dapat ditemukan d perairan poso.

Agama Kristen pertama masuk ke poso 100 tahun lalu. Daerah pertama yang beragama Kristen di Sulawesi Tengah adalah di Kabupaten Poso. Penduduk asli kabupaten Poso adalah suku Pamona, Lore, Napu dan Kaili yang masih berpaham animisme. Poso merupakan pusat pengembangan agama Kristen. Jumlah penduduk 226.389 jiwa tidak dijelaskan berapa jumlah pasti orang Kristen. Pendatang adalah, suku Jawa, Bugis, Makassar, Toraja dan Gorontalo.

Kabupaten Poso didominasi Suku Pamona sering disebut suku Poso atau orang Poso. Nenek moyang suku Poso berasal dari Luwu timur/Salu Moge, merupakan daerah pegunungan. Karena kehidupan pegunungan Sulit maka suku ini pindah ke dataran rendah Mangkutana/Luwu Timur. Pada peristiwa DI/TII mereka menyebar sampai ke Sulteng/Poso, mayoritas ber-agama Kristen.

Dengan kondisi geografi dan geologi yang sangat menggiurkan ini, Poso menjadi perebutan untuk kepentingan ekonomi. Perkembangan agama Kristen sangat dipengaruhi juga daerah sekitarnya yaitu Manado dan Minahasa di Sulawesi Utara. Sedangkan untuk Sulawesi selatan Mamasa, Soppeng, Sidrap dan Toraja.

Perkembangan ummat Islam di Poso dipengaruhi oleh Suku Kaili yang mayoritas beragama Islam yang berasal dari Parigi dan Luwuk Bangggai. Agama Islam pertama dikembang-kan oleh Datok/Raja dari Minangkabau atau lebih dikenal dengan sebutan Syech Abdullah Raqie. Pengaruh Islam dari kota Palu. Sedangkan daerah sekitarnya Gorontalo dan Sulsel.

Seiring perkembangan Islam Global , terjadi Impor Paham Militan jihad Fisabilillah seperti Ikhwanul Muslimin dari Mesir, Alqaedah dari Arab Saudi-Pakistan-Afganistan, Taliban dari Afganistan dan terakhir ISIS (International state of Iraq and Siria). Pertumbuhan Islam fundamentalis sangat massif sebagai kekuatan untuk melawan paham di luar Islam, termasuk melawan ummat lainnya Kristen dan hindu.

[NEXT-FAJAR]

Paham Islam garis keras juga berkembang di Indonesia sebagai dampak dari kemajuan teknologi informasi yang tanpa batas antar negara/borderless. Dilain pihak sejarah Indonesia diwarnai pergolakan melawan pemerintahan dalam rangka mendirikan negara Islam. Selanjutnya bermetamorfosa dalam bentuk FPI (forum pembela Islam), Jamiatul Islamiah, dan Lasykar Jundullah.

Khusus Sulawesi Selatan terbentuk Lasykar Jundullah derivasi dari KPPSI (Komite persiapan pelaksanaan syariat Islam). Komite ini sudah berhasil diterima pada dua Kabupaten yaitu Kabupaten Bulukumba dan Pangkep. Jaringan Islam garis keras di Poso ini secara geografi berbatasan langsung dengan Filipina, ada benang merah dengan perjuangan Islam minoritas moro.

Embrio konflik horizontal di Poso diawali dengan Missionaris gagal menjadikan Poso sebagai Basis Penyebaran agama Kristen. Dukungan dari mancanegara misionaris dari eropah dan Amerika. Awalnya sebelum reformasi kerukunan antar ummat beragama berlangsung sangat akrab antara Islam dan Kristen. Aliran Islam garis garis keras/fundamentalis yang masuk ke Poso merupakan impor paham yang sudah mengglobal. Pada saat itu mulailah konflik horizontal membara. Saling serang antara dua komunitas tak dapat dihindari.

Konflik horizontal bernuansa agama telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang tidak sedikit. Jumlah totalnya dibawah jumlah korban jiwa konflik horizontal di Ambon Maluku. Karena jumlah korban jiwa cukup besar dan pembunuhan dilakukan secara sadis. Selain itu para orang tua dan anak-anak yang mengalami korban jiwa, menyaksikan langsung pembunuhan sadis di kedua belah pihak, Islam dan Kristen.

Selain itu pimpinan daerah dan wakil bupati serta pimpinan SKPD didomminasi ummat Kristen menjadi embrio terjadinya kecemburuan sosial kaum muslim. Pembangunan yang tidak berimbang implikasinya perhatian kepada ummat Islam semakin merasa tidak diberi ruang gerak. Baru pada lima tahun terakhir ini pimpinan daerah di padukan, bupati dari Kristen sedang wakil bupati dari Islam.

Pada Umumnya kehidupan ekonomi sangat maju dan pendidikan juga relatif baik. Keberhasilan ekonomi sangat di dominasi kaum muslim. Menimbulkan kecemburuan sosial bagi ummat kristiani.

Konflik horizontal di Poso pusat pengendalinya berada di Makassar. GKI (Gereja Kristen Indonesia) untuk wilayah Indonesia Timur berpusat di Makassar. Di Sulawesi Selatan pimpinan KPPSI (Komite persiapan pelaksanaan syariat Islam) berada di Makassar. ada dua rute masuknya pengaruh eksternal kedua komunitas mulai dari Makassar, Bulukumba, Sinjai, palopo sampai poso/rute aman. Rute kedua Makassar, Pangkep, Majene terakhir masuk poso rute yang tidak aman sering terjadi peuk penghadangan dan pembunuhan sebelum masuk kabupaten Poso. Pengaruh eksternal juga masuk melalui udara dan laut. Untuk daerah pantai sangat panjang luput dari pengawasan laut oleh angkatan laut yang ada di wilayah Poso.

[NEXT-FAJAR]

Dengan semakin maraknya konflik horizontal bernuansa agama, ditetapkanlah Poso sebagai DOM (daerah operasi Militer) melalui operasi Keamanan dalam negeri. (opskamdagri) dimana Danrem 132/Taddulako sebagai Komandan Satuan Tugas (Dansatgas). Titik berat operasi melaksanakan operasi tempur, didukung operasi Intelijen dan operasi territorial. Operasi boleh dikatakan sukses karena berhasil menciptakan situasi keamanan semakin kondusif. Pada tahun 2007 status poso diubah menjadi daerah tertib sipil.

Praktis pelaksanaan keamanan dilakukan oleh Polda setempat dan TNI/Korem 132/Taddulako dan Kodim 1301/Poso melaksanakan tugas rutin berupa Penyiapan Wilayah pertahanan/Pembinaan Teritorial sesuai program. Tidak disadari konflik horizontal berbau agama ini menyisakan rasa dendam kesumat mendalam, tidak bisa hilang dalam waktu sekejap. Di perlukan satu generasi untuk menghapus rasa benci dan dendam.

Secara bersamaan muncul lagi tindakan kriminal yang membonceng di belakang konflik sara, sehingga berimplikasi pada kondisi kamtibmas semakin kacau. Secara insidentil dan sporadis muncul penembakan dan peledakan bom yang menimbulkan korban jiwa. Banyak orang yang tidak bersalah menjadi korban. Bahkan tidak segan merampas senjata petugas keamanan dan membunuhnya. Upaya mengatasi konflik horizontal dengan cara Polda Sulteng secara berkesinambungan dan serius melaksanakan tindakan pre-emtif (cipta kondisi), preventif (pencegahan), represif (penindakan) dan Evaluatif (kaji ulang). Pola pengamanan harus dilakukan dengan cara show of force.

Terjadinya konflik atau penembakan dan pengeboman terjadi pada saat petugas keamanan tidak terlihat. Satuan yang dilibatkan Densus 88, Satbrimob, Satsabhara. Bareskrim, SatIintelkam, Satbinmas dan Humas. Pendekatan persuasif dan edukasi harus dikedepankan, karena bagaimanapun pelakunya adalah warga kita sendiri. Tindakan represif merupakan langkah terakhir kalau memang menimbulkan keadaan chaos.

Penanganan konflik horizontal bernuansa agama, harus dilakukan dengan menciptakan tingkat kewaspasdaan. Patroli keamanan harus secara rutin. Aparat keamanan harus selalumelakukan pengamanan tertutup dan terbuka. Tim Intel dan Unit intel pada satuan teritorial termasuk Pos Intelijen dari BAIS TNI harus lebih aktif mendeteksi simpul-simpul yang akan melakukan tindakan anarkhis.

Tindakan seperti ini pencegahan dini dan menimbulkan efek deteren, sehingga pelaku criminal merasa takut untuk melakukan tindakan anarkhis. Petugas lapangan harus berfikir dan bertindak keadaan terjelek. Artinya harus ada dalam benaknya bahwa pasti terjadi kekacauan. semangat untuk tidak lengah dan easy going (gampangan).

Komando Kewilayahan Korem dan Kodim dan satuan bawahnya senantiasa melakukan penyiapan wilayah pertahanan (Binter) dengan melakukan pembentukan jaringan intelijen dan jaringan territorial. Keterlibatan masyarakat diperlukan sebagai Bapulket (badan pengumpul keterangan), sehingga ruang gerak pelaku criminal semakin sempit.
Satkowil (satuan komando kewilayahan) Pada setiap akhir pekan (sabtu dan minggu) melaksanakan apel kesiapsiagaan. bagi seluruh babinsa di Makoramil. Para babinsa melakukan patrol keliling desa binaannya untuk menunjukkan bahwa babinsa selalu berada ditengah masyarakat. Sikap baik-baik dengan rakyat harus terus dipelihara, sehingga ditengah masyarakat terbangun sinergitas, untuk tercipta keamanan yang kondusif.

[NEXT-FAJAR]

Korem 132/Tadulako membawahi 2 batalyon territorial yakni Yonif 711 dan Yonif 714. Artinya Korem ini mendapatkan perlakuan khusus Pada umumnya untuk setiap korem hanya diperkuat satu batalyon Teritorial. Dua Batalyon Teritorial ini, diharapkan secara bergantian melakukan patroli keamanan rutin dan melakukan Binter terbatas dengan membentuk jaringan Intel dan jaringan territorial. Diharapkan masing-masing batalyon membentuk Satgaspam setingkat Detasemen dipimpin Wadanyon. Operasi sulit diwujudkan karena tidak adanya payung hukum. Cara menyiasatinya menghimbau Kepada Gubernur Sulteng dan Bupati Poso untuk meminta Satuan kewilayahan (Korem dan Kodim) memberikan bantuan keamanan kepada Pemda.

Binter terbatas harus lebih diintensifkan oleh satuan tempur dengan membagi daerah binaan pada radius 5 km dari disposisi satuan. Harus dipertegas siapa berbuat apa, waktu dan tempat wilayah binaan.

TMMD (TNI manunggal membangun Desa) harus lebih diintensifkan dengan program fisik dan non fisik. Konten proram TMMD harus berorientasi pada pembangunan fisik yang merupakan kebutuhan mendesak masyarakat. Program non fisik harus dapat menciptakan kerukunan antara kedua kelompok agama dengan titik berat sosialisasi empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Opresi ini berhasil meng yang memimpin langsung operasi tempur dan Opste (Satuan tembul kewilawayahan dan Pusat), Operasi territorial dengan melibatkan Satter (kodim 132/Poso dan operasi Intel terdiri Satgas Intel Daerah (Denintel Kodam VII/Wrb, Tim Intel Korem 132/TDL dan Unit Intel Kodim 1302/Poso dan Satgas Intel Bais TNI yang Bawah Kendali Operasi (BKO) kepada Dansatgas Korem 132/TDL (komandan Satuan Tugas) dibantu Satgas Intel BAIS (Badan Intelijen Strategis) Mabes TNI. Secara bial)eritorrgantian Pasukan tempur baik satuan tempur dan satuan bantuan tempur (banpur) Kodam Wirabuana, Balakhanwil (badan Pelaksana pertahanan wilayah) maupun balakhanpus (badan pelaksana pertahanan pusat) yaitu Kostrad dari devisi infantri I Cilodong dan devisi 2 Singosari malang. Seiiring dengan semakin kondusifnya keamanan dan telah dibentuknya Batalyon infantri 714 maka Poso sebagai DOM di hapuskan sebagai daerah darurat sipil.

Dengan ditetapnya Poso darurat sipil, maka pengamanan seluruhnyya diambil alih oleh Polda Sulteng. Kondisi ini Komando Teritorial melakukan binter dan program intelijen bersifat rutin defensive. Belakangan sudah ada Pos Wililayah Bais TNI. Karena sifatnya ofensif dan rutin. Maka implikasinya kurang nampak Patroli yang bersifat show of force yang membuat pihak kedua belah Pihak Islam dan Katolik yang pada umumnya sangat aman. Sehingga pengamanan sehari-hari dilakukan oleh pihak Polri.

Karena sudah terjadi konflik yang menimbulkan rasa dendam mendalam, kemudian juga sudah melibatkan criminal maka konflik poso harus di cermati oleh Pihak kepolisian dan TNI dalam hal ini Korem 132/Taddulako. Oprasi Preemtif, preventif dan represif harus selalu di intensifkan. Harus selalu terlihat Pasukan kecil baik dari Polri maupun TNI dengan patrol rutin, sebagai show of force sehingga menimbulkan rasa segan bagi masyarakat yang berniat melakukan upaya balas dendam atau tindak criminal lainnya.

Penulis: Ir H Muh Darwis Said Daeng Rangka (Kepala Pusat Komando Pengendali operasi (Puskodalops) Kodam VII/Wirabuana 2013)

loading...
Click to comment
To Top