Air Mengalir, Ide Kreatif Tumbuh Subur – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Makassar

Air Mengalir, Ide Kreatif Tumbuh Subur

Peran PT Semen Tonasa dalam kualitas hidup dan kemandirian masyarakat di Desa Taraweang, khususnya di Dusun Gatta-gattareng, sangat dirasakan masyarakat setempat. Terutama penghijauan dan bank sampah.

MUHAMMAD NURSAM
PANGKAJENE

Jelang sore, Selasa, 29 September, suasana Kampung Batu-batu demikian asri dan teduh. Rimbun pohon di kiri-kanan jalan seolah menafikan musim kemarau yang melanda Sulsel. Sebuah papan bicara bertuliskan nama Dusun Gatta-gattareng Desa Taraweang, meyakinkan penulis telah berada di lokasi tujuan. Dari dusun ini, pabrik Semen Tonasa masih bisa dilihat dengan mata telanjang.

Penulis kemudian diarahkan menuju kediaman kepala Dusun, Haruna. Di sisi kiri kediamannya, sebuah tower berdiri kukuh. Puncak tower itu terlihat penampungan air. Ada logo PT Semen Tonasa di situ. Pun, sebuah tulisan di tengah tower memberi indikasi bahwa tower itu tidak hadir begitu saja. “Program pengadaan sarana air bersih tahun 2012 CSR PT Semen Tonasa”. Demikian isi tulisan yang terpampang.

“Sarana air bersih, MCK, dan sejumlah program lainnya merupakan usulan masyarakat. PT Semen Tonasa lantas menyiapkan anggaran sesuai usulan dan kebutuhan itu,” kata Pendamping Forum Peduli Masyarakat Taraweang (Format), Aksan.

Pria bertubuh jangkung ini menambahkan, Tonasa memang sangat mendukung inisiasi masyarakat. Sekarang ini, ada anggaran Rp300 juta yang disiapkan. Tahun sebelumnya, hanya Rp250 juta dan pada tahun 2013 hanya sekitar 160 juta. “Jadi, dari tahun ke tahun anggarannya bertambah. Itu karena kreativitas dan usulan masyarakat menghadirkan program di desa ini,” katanya.

[NEXT-FAJAR]

Aksan menambahkan, apa yang disarankan masyarakat, akan menjadi bahan pertimbangan. Setelah ada usulan dari masyarakat, kemudian difasilitasi oleh forum. Setelahnya, akan ada konsultan teknis. Dari konsultan inilah usulan itu dibuatkan proposal hingga akhirnya dibawa ke PT Semen Tonasa untuk kemudian ditindaklanjuti.

Tonasa, lanjut Aksan, akan menurunkan Litbang untuk melihat kegiatan. Ada dua kegiatan yaitu fisik dan non fisik. Non fisik itu terkait kegiatan pelatihan keterampilan, seperti pelatihan pengelasan dan lainnya. “Kita melakukan kemitraan dengan BLK Bontoa Pangkep. Kita coba arahkan skill remaja, khususnya tamatan SMA. Kita menyesuaikan dengan anggaran,” urainya.

Tahun ini ada 10 ibu-ibu dan 10 pemuda yang diikutkan pelatihan. Khusus ibu-ibu lebih kepada skill menjahit. Selama enam hari berturut-turut mereka dilatih.

Haruna menjelaskan, di dusun yang dipimpinnya, PT Semen Tonasa mulai melakukan sosialisasi dan meeting sekitar tahun 2011. Kemudian, pada 2012 sudah masuk program CSR. “Sebenarnya, tahun-tahun sebelumnya sudah masuk program CSR PT Semen Tonasa di sini. Namun, saat itu masih melalui pemerintah desa. Belum terarah seperti saat ini,” katanya.

[NEXT-FAJAR]

Haruna tak menampik bahwa seringnya terjadi demo merupakan salah satu penyebab hingga program pun dilakukan lebih terarah. Namun, sebenarnya, kata dia, ada demo yang ditunggangi dan ada kepentingan tertentu. “Ketika ada yang merasa tidak adil, itu bukan kesalahan PT Semen Tonasa, kendalanya pada penerima anggarannya. Makanya, dibentuklah forum,” urai Haruna.

Aksan kembali berkomentar. Menurutnya, forum kemitraan dibentuk sejak 2011, salah satu tujuannya menghindari terjadinya penyalahgunaan anggaran. “Jadi, anggaran dari semen Tonasa kita kelola secara mandiri demi kemaslahatan masyarakat. Anggaran itu juga tidak begitu saja terbit, harus melalui prosedur yang tepat,” tegasnya.

Dari forum inilah tumbuh subur ide-ide masyarakat. Banyak program yang dihadirkan dari masyarakat untuk masyarakat. Selain kegiatan penghijauan, ada juga pemberian beasiswa, dan program anak asuh. Saat ini, ada tujuh orang setiap desa dan kelurahan. Total ada 11 desa dan kelurahan yang tersentuh program.

Penulis lantas menanyakan terkait tower air tadi. Dikatakan, sejak awal, ada program air bersih di dusun tersebut. Sebenarnya, program dan bantuan CSR tergantung usulan desa. Apa yang menjadi kebutuhan masyarakat tinggal diusulkan dan dikondisikan dengan anggaran. “Makanya, banyak sekali logo Tonasa di dusun ini,” tambahnya.

[NEXT-FAJAR]

Satu tower penampungan air, kata Haruna, dimanfaatkan hingga 30 rumah warga. Tower berisi air ini didistribusikan melalui hydrant dengan enam keran. Tiap-tiap keran menjalar ke lima rumah warga. Kedalaman sumur bor 24 meter, karena itu pula airnya tetap tersedia.

“Mulai tahun 2012 sampai saat ini demo anak-anak di sini sudah tidak ada lagi. Alhamdulillah, kemitraan cukup baik. Kita dan Tonasa sebenarnya sama-sama saling membutuhkan,” katanya.

Haruna mengaku sangat terbantu oleh program CSR Tonasa Bersaudara. Secara pribadi, dia sangat mengapresiasi dan memberi penghargaan atas jasa CSR PT Semen Tonasa.

Sebelum ada forum, mereka tidak tahu mau berbuat apa. Setelah sosialisasi dan adakan rapat, maka kita bentuk Forum Desa Taraweang. Semua desa pun membentuk forum. Setelah ada usulan, maka diberikan kepada ketua forum lantas didorong ke Tonasa.

[NEXT-FAJAR]

Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) bersama Litbang Tonasa yang paling terasa. Makanya, ada program air dan tower, hingga air pun bisa mengalir ke masyarakat. Hadirlah rasa nyaman.

“Sebelumnya, mereka harus jalan kaki tiga kilometer agar bisa dapat air. Setelah adanya sumur bor, air tidak sulit lagi. Sunatan, pengantin, dan kegiatan masyarakat lainnya tidak lagi kesulitan. Ide-ide kreatif pun bermunculan dari warga,” jelas Haruna.

Setelah adanya program air bersih, pihaknya membentuk badan pengelola air bersih. Disepakati iuran per bulan karena membutuhkan listrik. Setiap bulan, rumah warga yang dialiri air bersih membayar Rp15 ribu. Bukan hanya untuk listrik tetapi juga agar mesin dan tower tetap awet. “Jika ada masalah dengan mesin, iuran itulah yang kita gunakan,” kata Haruna.

Setelah air bersih, ada lagi inisiasi bank sampah dari masyarakat. Itu juga didukung penuh oleh PT Semen Tonasa. Dusun ini juga jadi lokasi percontohan. Sejumlah peneliti dari berbagai wilayah datang ke sini melihat dan mempelajari bank sampah di sini.

[NEXT-FAJAR]

Penelitian baru-baru ini menyimpulkan, penyakit demam berdarah bisa dikata 100 persen hilang. Itu berkat teras bank sampah. “Saya secara pribadi memang telah mambuat program karena kekhawatiran sampah yang sulit dibendung. Padahal, sampah itu adalah uang. Sejak awal kita tidak perhitungkan upah. Namun, kita upayakan program ini bisa menghindari dari penyakit demam berdarah, sekaligus mengajak anak-anak sekolah agar menjaga lingkungan,” tutur Haruna.

Penjualan dari bank sampah sudah enam kali dilakukan sejak berdiri sekitar setahun lalu. Padahal, mereka menghadirkannya tanpa modal. Setelah sampah terkumpul barulah dijual. Nilainya bisa mencapai Rp1 juta, bahkan kadang lebih. Itulah yang dipakai membeli perlengkapan sekolah anak-anak.

Dampak positif lain bank sampah, ada program daur ulang yang melibatkan ibu-ibu dan remaja untuk berkreasi di kampung ini. Kampung Batu-batu sendiri dihuni 171 kepala keluarga (KK). Saat ini, wilayah Dusun Gatta-gattareng telah tersedia empat tower air yang berdiri kukuh.

Click to comment
To Top