Anak Pentolan PKI: Semangat Rekonsiliasi itu Saling Memaafkan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Anak Pentolan PKI: Semangat Rekonsiliasi itu Saling Memaafkan

FAJAR.CO.ID, – Ilham Aidit, anak dari pemimpin senior Partai Komunis Indonesia, D.N Aidit, hingga kini masih merasakan perlakuan diskriminasi. Memang aturan diskriminasi sudah dicabut oleh Kementerian Dalam Negeri, namun kenyataan dilapangan sering kali masih terjadi sikap diskriminasi.

Itu terlihat dari beberapa ormas yang kerap melakukan penggerebekan ketika kita melakukan peluncuran buku dan mengadakan pertemuan. Misalnya, di Godean, Ungaran, Bandung dan sebagainya. Dia pun menyayangkan bahwa polisi selalu datang terlambat ketika adu fisik terjadi dalam penggerebekan.

Sejak pemerintahan SBY, upaya rekonsiliasi pernah berusaha diwujudkan melalui Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Meski demikian, ketika sudah siap Undang-Undang tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Agung. “Ini menjadi gagal total dan akhirnya tidak pernah disinggung kembali,” jelasnya.

Ilham Aidit melihat bahwa pemerintahan saat ini memiliki niat dalam menyelesaikan permasalahan ini dengan sungguh-sungguh. “Semangat rekonsiliasi itu adalah saling memaafkan, tidak ada dendam dan tidak ada yang tercederai. Menyatukan dan memulihkan kembali konflik berdarah dari masa lalu dengan tidak melalui pengadilan adhoc,” ungkapnya.

Menurutnya rekonsiliasi yang baik adalah perlu adanya pengakuan atas perbuatan dan penyesalan kepada publik. “Jika pengakuan sudah dilakukan, harus ada penyesalan kepada publik yang dilakukan oleh pemerintah,” pintanya.

Selanjutnya, perlu adanya pengungkapan cerita yang sebenarnya terjadi yakni meluruskan kembali sejarah yang ada dan melakukan rehabilitasi dan kompensasi.

“Jika masalah ini tidak terselesaikan, maka ini menjadi beban sejarah ke pemerintah selanjutnya dan juga kepada generasi muda terbebani,” ungkapnya. Tak hanya itu, dia pun meyakini jika rekonsiliasi ini terjadi akan terjadi polemik dan kontroversi yang terjadi, tapi perlu adanya keberanian dari pemeintah untuk melakukan itu.

Tak hanya berdampak di dalam negeri, nantinya dunia Internasional juga akan memberikan apresiasi terhadap keputusan itu. “Akhirnya diakui bahwa Indonesia mengerti dengan HAM,” tuturnya.  (mia/lus/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top