Batik Demak-an Masih Sebatas Delivery Order – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Batik Demak-an Masih Sebatas Delivery Order

DEMAK – Kasi UMKM Dinas Perindagkop UMKM Kabupaten Demak Sunarto menjelaskan bahwa perkembangan distribusi batik khas Demak masih belum maksimal. Dijelaskannya, persebaran batik khas Demak baru sampai di wilayah Jawa Tengah. Sedangkan di tingkat nasional, keberadaan batik khas Demak baru bisa dilihat dalam pameran UMKM saja.

“Ini kan sifatnya masih pesanan. Kalau ada yang pesan, baru diproduksi dalam jumlah besar. Biasanya untuk seragam kantor atau yang lainnya. Tapi, untuk seragam sekolah memang belum bisa diterapkan karena harganya kurang bisa dijangkau. Kain batiknya saja satu potong minimal Rp100 ribu. Belum nanti biaya untuk menjahitkan. Sedangkan karakter masyarakat kita kan maunya yang murah,” jelasnya di kantor Kasi UMKM Disperindagkop UMKM Kabupaten Demak, Rabu (30/9/2015).
Sunarto menambahkan, saat ini Kabupaten Demak memiliki kurang lebih 20 pengrajin batik. Wilayah yang menjadi sentra batik khas Demak ini berada di Kecamatan Wedung, Bonagung, Gajah, dan Demak. “Kalau motifnya ada motif Masjid Agung, bledeg, belimbing, jambu, juga ada motif sirip ikan. Kalau sirip ikan itu dari Wedung.”
Sampai saat ini, distribusi batik khas Demak memang diakuinya masih terbatas. Sebab, Demak belum memiliki pasar khusus batik, seperti halnya yang ada di Solo maupun Pekalongan. “Sebetulnya ada Gedung Pusat Informasi Wisata dan Showroom UKM. Tapi, itu tidak khusus batik,” jelasnya.
Untuk meningkatkan eksistensi dari batik khas Demak, pihak Disperindagkop dan UMKM Kabupaten Demak telah melakukan berbagai upaya. Di antaranya yaitu dengan mengadakan pelatihan-pelatihan ke daerah yang belum ada pengrajin batik.
Staff UMKM Saifudin menjelaskan, “Kami pernah melakukan pelatihan tentang pembuatan batik di Kecamatan Karangawen. Tapi, tindak lanjutnya dari masyarakat itu tidak ada.” (Sof)

loading...
Click to comment
Ragam

Batik Demak-an Masih Sebatas Delivery Order

DEMAK – Kasi UMKM Dinas Perindagkop UMKM Kabupaten Demak Sunarto menjelaskan bahwa perkembangan distribusi batik khas Demak masih belum maksimal. Dijelaskannya, persebaran batik khas Demak baru sampai di wilayah Jawa Tengah. Sedangkan di tingkat nasional, keberadaan batik khas Demak baru bisa dilihat dalam pameran UMKM saja.

“Ini kan sifatnya masih pesanan. Kalau ada yang pesan, baru diproduksi dalam jumlah besar. Biasanya untuk seragam kantor atau yang lainnya. Tapi, untuk seragam sekolah memang belum bisa diterapkan karena harganya kurang bisa dijangkau. Kain batiknya saja satu potong minimal Rp100 ribu. Belum nanti biaya untuk menjahitkan. Sedangkan karakter masyarakat kita kan maunya yang murah,” jelasnya di kantor Kasi UMKM Disperindagkop UMKM Kabupaten Demak, Rabu (30/9/2015).
Sunarto menambahkan, saat ini Kabupaten Demak memiliki kurang lebih 20 pengrajin batik. Wilayah yang menjadi sentra batik khas Demak ini berada di Kecamatan Wedung, Bonagung, Gajah, dan Demak. “Kalau motifnya ada motif Masjid Agung, bledeg, belimbing, jambu, juga ada motif sirip ikan. Kalau sirip ikan itu dari Wedung.”
Sampai saat ini, distribusi batik khas Demak memang diakuinya masih terbatas. Sebab, Demak belum memiliki pasar khusus batik, seperti halnya yang ada di Solo maupun Pekalongan. “Sebetulnya ada Gedung Pusat Informasi Wisata dan Showroom UKM. Tapi, itu tidak khusus batik,” jelasnya.
Untuk meningkatkan eksistensi dari batik khas Demak, pihak Disperindagkop dan UMKM Kabupaten Demak telah melakukan berbagai upaya. Di antaranya yaitu dengan mengadakan pelatihan-pelatihan ke daerah yang belum ada pengrajin batik.
Staff UMKM Saifudin menjelaskan, “Kami pernah melakukan pelatihan tentang pembuatan batik di Kecamatan Karangawen. Tapi, tindak lanjutnya dari masyarakat itu tidak ada.” (Sof)

loading...
Click to comment
To Top