Pemerintah Didesak Minta Maaf, Ini Komentar Amelia Yani – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Pemerintah Didesak Minta Maaf, Ini Komentar Amelia Yani

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Amelia Ahmad Yani tidak ingin terus berseteru dengan masa lalu. Putri ketiga Letnan Jendral TNI Ahmad Yani berusaha berdamai dengan diri sendiri. Perempuan kelahiran Magelang, 66 tahun lalu itu berjuang untuk memaafkan para pelaku pembunuh sang ayah, termasuk seluruh keturunannya.

“Sudah 50 tahun. Mau sampai kapan menekan diri sendiri dengan terus menyimpan rasa benci. Mereka bukan musuh kita. Musuh kita saat ini adalah koruptor, narkoba dan teroris,” tuturnya.

Rasa maaf itu bukan hanya sekedar formalisasi. Dia membuktikan dengan bergabung bersama forum silaturrahmi anak bangsa. Forum ini mewadahi upaya rekonsiliasi atau pemulihan kembali antara putra-putri dari para tokoh yang dahulu terlibat konflik. “Kami sepakat untuk tidak mewariskan konflik dan tidak membuat konflik baru,” ungkapnya.

Selain itu, dia pun bersama anggota lain telah berkunjung ke sejumlah tahanan politik, yang diduga terlibat dalam aksi pembantaian pada malam 30 sepetember 1965 silam. Salah satunya, di Pulau Buru, Ambon. Bertemu dengan mereka, alumni University of the America, Northbridge, California itu menyampaikan pemaafannya.

“Mereka tampak lega dan berterima kasih, meski tidak secara langsung mengakui dan meminta maaf,” jelasnya.

[NEXT-FAJAR]

Namun, saat disinggung soal permintaan pihak “bersebrangan” agar pemerintah minta maaf pada mereka, Amel menolak. Dengan nada meninggi, dia mengatakan, itu tidak perlu dilakukan. Bahkan dia mempertanyakan kembali, alasan apa yang menuntut pemerintah agar meminta maaf pada keluarga “bersebrangan”. “Ya kan, yang memulai siapa?” tegasnya.

Dia melanjutkan, bila pemerintah nekat untuk minta maaf maka justru akan melukai kembali hati keluarga pahlawan revolusi, TNI, dan masyarakat islam yang telah menjadi korban. Lalu, bagaimana dengan diskriminasi yang dirasakan oleh pihak keluarga yang anggota Partai Komunis Indonesia (PKI)? Amelia menuturkan, seluruhnya telah dihapuskan. Dia menjamin, tak ada lagi hal-hal seperti penandaan pada kartu tanda penduduk (KTP) mereka.

“Semua sudah dibersihkan. Kami setuju untuk dikembalikan kembali hak-hak mereka. Tapi, marilah kita memandang ke depan. Tidak perlu menciptakan konflik baru,” jelasnya.

Dia mengatakan, proses rekonsiliasi antar putra-putri dari para tokoh yang dahulu terlibat konflik sudah akan tercapai. Komunikasi yang baik antar putra-putri para tokoh ini telah terjalin. “Yang tersisa, tinggal bagaimana kita bisa sama-sama membangun bangsa. Ini yang harus kita utamakan,” ungkap mantan Ketua Umum Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) itu.(mia/lus/jpnn)

Click to comment
To Top