Ini Kisah Keluarga Namma, Jemaah Haji Korban Mina – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Ini Kisah Keluarga Namma, Jemaah Haji Korban Mina

FAJARCO.ID, POLEWALI — Pilihan Namma berangkat haji direncanakan sejak lima tahun lalu. Tak disangka dia wafat di tanah suci. Kabar duka diterima keluarga salah satu jemaah haji asal Polewali Mandar yang tercatat sebagai jemaah haji Kabupaten Majene, Kloter 10 Embarkasi Hasanuddin Makassar. Namma binti Muhammad Kasim warga Kuningan Desa Campurjo Kecamatan Wonomulyo dengan paspor B0693404 dikabarkan menjadi salah satu korban tragedi Mina di Jalan 204 Arab Saudi.

Meski belum ada pengumuman resmi dari Kementerian Agama, terkait meninggalnya Namma Binti Muhammad Kasim yang sebelumnya dinyatakan hilang pasca tragedi Mina, Kamis lalu. Akan tetapi keluarga Namma Muhammad Kasim di Campurjo Wonomulyo sudah menerima kabar duka itu, Senin 28 September malam, pukul 22.00 Wita.

Kakak Ipar korban, Eddy Hartono menerima penyampaian meninggalnya Namma Binti Muhammad Kasim dari ketua rombongan Kloter 10, Mannan Husain dan juga kerabatnya yang tergabung dalam kloter 10, Erwin.

Tak cukup yakin kabar itu datang, Edy juga menghubungi istrinya, Hasnawati Binti Muhammad Kasim yang selamat dari peristiwa Mina. Hasnawati menyampaikan kabar wafatnya kakaknya, Namma. Dia mendapat informasi itu, dari ketua rombongan kloter 10, dan beberapa jamaah mencocokkan gelangnya, serta fotonya. “Saat diperiksa dipeti kemas berisi nama korban Mina, dan dipastikan itu kakak saya. Gelang dan foto yang berada ditas selempangnya menjadi buktinya. Kakak saya telah meninggal dunia,” tutur kepala desa Campurjo Kecamatan Wonomulyo ini.

 

[NEXT-FAJAR]

Saat mendengar kabar hilang kontak pasca peristiwa Mina. Edy mendapat cerita dari istrinya, Hasmawati. “Istri saya dan Namma, sempat menolong seorang jemaah haji asal Majene, Nadjemiah Samad, juga kloter 10 untuk melempar jamrah Aqabah. Didalam perjalanan, mereka bertemu dan sempat menepi dibatas jalan untuk istirahat. Mereka kelelahan, begitu pun dengan Nadjemiah kelelahan,” ungkapnya.

Namun, rasa lelah, lautan manusia terus berdatangan. Tubuh-tubuh manusia berdesak-desakan, bahkan ada yang datang dari arah berlawan. Di situ ada yang jatuh. Istri saya tidak mengetahui secara pasti, sebab ada orang yang menolong. Orang itu menariknya melewati pagar pembatas,” katanya.

Di situ mereka terpisah. Namma dan Nadjemiah, tak pernah ditemuinya lagi pasca kejadian itu. Hingga akhirnya, baik Nadjemiah didengar telah meninggal, begitupun dengan Namma. “Saya ingin sekali bertemu dengan orang menolong Hasnawati, katanya dia orang Jawa,” tutur saudara Namma, Hasim menambahkan.

Bagi keluarga sosok Namma, adalah perempuan berusia 52 tahun ini, sosok yang mandiri dan pekerja keras. Meskipun diusianya separuh abad, Namma belum juga memiliki pendamping hidup.

[NEXT-FAJAR]

Namma hidup sendiri, dan tinggal di Desa Tonrolima Kecamatan Matakali. Sehari-hari Namma, memiliki rumah diantara kebun. “Dia ini sendiri di rumah, dalam kebun. Dia berkebun juga bertani untuk hidup,” kata adik Namma, Hasim. Namma pun tak pernah mengeluh sedikit pun dengan keadaannya. Dia memang menyukai hidup mandiri, dan bekerja keras. “Pernah tinggal di rumah ini, tapi dia lebih suka hidup bertani dan berkebun juga, makanya dia rumah itu sendiri,” tuturnya.

Keluarga pun telah iklas, hanya bisa mendoakan Namma, juga Hasnawati. Keluarga juga mengelar salat gaib dan tahlilan di kediaman orangtua almarhum di Kuningan. Tahlilan dan salat gaib dilaksanakan usai salat Magrib. Keluarga juga mendoakan agar semua jamaah haji bisa pulang dengan selamat. “Keluarga hanya bisa ikhlas untuk mendoakan keselamatannya. Juga pada jamaah yang lainnya bisa kembali dengan selamat ke tanah air,” ungkap Edi. Pihak keluarga pun masih menuggu pemberitaan resmi dari Kemenag. (ham)

loading...
Click to comment
To Top