Politisi Ini Duga Banyak Permainan dalam Proyek Kereta Cepat – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Politisi Ini Duga Banyak Permainan dalam Proyek Kereta Cepat

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – DPR memertanyakan keputusan pemerintah melanjutkan proyek kereta cepat Jakarta – Bandung. Proyek yang ditaksir menggunakan dana sekitar Rp 60 triliun akan digarap oleh investor asal China, setelah sebelumnya direncanakan akan dikerjakan Jepang.

Anggota Komisi V DPR Miryam S. Haryani menilai proyek kereta cepat merupakan keputusan yang sangat dipaksakan. Konsepnya juga terlihat tidak matang, terbukti dengan permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar kecepatan laju kereta diturunkan dari rencana semula.

Sebelumnya, Presiden mengatakan bahwa rute Jakarta – Bandung hanya perlu kereta yang berkecepatan sedang, bukan cepat. Dalam rute sepanjang 160 kilometer kereta cepat tidak akan bisa mencapai kecepatan maksimalnya yakni 350 kilometer per jam. Sebab itu, pemerintah berpikir kecepatan sedang untuk kereta antara 200-250 kilometer per jam.

“Apabila kecepatan kereta diturunkan berarti namanya bukan kereta cepat lagi, di sinilah saya melihat ketidakjelasannya. Kemudian karena terkesan dipaksakan, bisa jadi ada yang sedang bermain dengan mencoba meraih keuntungan pribadi dari proyek ini,” jelas Miryam kepada redaksi di Jakarta, Sabtu (3/10).

Dia pun memertanyakan alasan pemerintah mengganti bentuk kerja sama proyek tersebut. Dari sebelumnya government to government (G to G) atau antar pemerintah, menjadi business to business (B to B) atau antar perusahaan yang dinilai hanya akal-akalan.

“Isi kerja samanya sama saja tetap berupa pinjaman, dan pihak yang bertanggungjawab adalah perusahaan milik negara. Dalam arti lain, secara tidak langsung tetap pemerintah yang bertanggung jawab atas kerja sama proyek tersebut. Hanya kemudian dikaburkan bahasanya, biar tidak semakin kencang kritikan dari publik,” jelas Miryam.

Politisi Partai Hanura itu memastikan bahwa proyek kereta cepat Jakarta-Bandung menyakiti rakyat Indonesia. Khususnya yang berada di luar Pulau Jawa, di mana pembangunan masih belum merata. “Pemerataan pembangunan Jawa dan luar Jawa nampaknya semakin jauh dari harapan, jika sikap pemerintah masih terus seperti ini,” sesal Miryam. (wah/rmol)

loading...
Click to comment
To Top