Yang Bilang Musim Akik Berakhir Datang ke Rawa Bening. Lihat dan Pikir Lagi – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Hiburan

Yang Bilang Musim Akik Berakhir Datang ke Rawa Bening. Lihat dan Pikir Lagi

FAJAR.co.id- Mungkin kita sering mendengar ungkapan pesimis pedagang batu akik,rugi! Ia, begitulah pernyataan yang banyak publikasikan media massa untuk musim akik saat ini.

Bahkan, entah benar atau dibuat-buat, pemberitaan seolah-olah didramatisir dengan mengaitkan aksi kriminalitas mantan pejual batu akik. Cerintanya tentu, sang tersangka kehilangan pendapatan akibat batu akik tidak laku dan pindah jadi perampok atau begal.

Namun, benarkah seekstrim itu? Pikir lagi, karena yang benar-benar pejual akik tidak mungkin melakukan hal konyol tersebut.

Alasan ini bisa dibuktikan sendiri jika kita sempatkan waktu berjalan-jalan ke Pasar Rawa Bening Jakarta Timur. Di sana, aktifitas penjualan batu sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda akan berakhir. Bahkan, pembeli masih terus berseliweran dari lapak satu ke lapak lain.

[NEXT-FAJAR]

Menurut M. Arman , salah satu penjual batu akik di Pasar Rawa Bening, setiap harinya selalu ada pembeli meski jumlahnya tidak se-membuldak lima bulan lalu.

“Ada saja yang beli, khususnya di hari-hari tertentu, seperti Jumat  sore, Sabtu dan Minggu. Pengunjung pasar Rawa Bening pada waktu-waktu itu lebih banyak dari biasanya,” ungkapnya.

Untuk batu yang terjaul, kata Arman, rata-rata bisa mencapai 1-2 kodi per hari. Pembelian itu tergolong stabil sejak tren batu disebut orang sudah menurun.

“Saya kira yang bilang musim batu akik berakhir datang ke sini dan lihat sendiri. Sejak pasar ini berdiri, tiga puluh tahun silam, pedagang batu tidak pernah beralih profesi jadi begal atau perampok. Kita tetap menjual batu karena mamang pembelinya tidak pernah habis dari masa ke masa,” ungkapnya optimis.

[NEXT-FAJAR]

Sementara itu, Afdal, penjual lain mengaku batu akik yang tetap popular di Rawa Bening adalah jenis kecubung, bacan, dan opal. Namun begitu, batu dengan corak unik, seperti kecubung karan, kecubung rambut dan kalsedon tetap lari.

“Mungkin karena saat ini, belum ada lagi batu yang popular seperti Bacan dan Pancawarn dulu, sehingga masyarakat lebih tertarik batu yang unik dan terjangkau,” terang Afdal.(iqi)


 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top