Kisah Sahabat yang Membagi-bagikan Uangnya Rp 800 Miliar Secara Cuma-cuma – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Kisah Sahabat yang Membagi-bagikan Uangnya Rp 800 Miliar Secara Cuma-cuma

DIA termasuk tokoh yang masyhur, memiliki prestasi yang cemerlang, dermawan dengan jiwanya dan harta bendanya. Dia adalah Thalhah bin Ubaidullah yang gugur dalam jihad.

Dia banyak mengorbankan diri dalam keadaan sulit dan sempit, dan tidak berhitung dalam keadaan lapang dan sejahtera.

Dialah yang menderita dengan tujuh puluhan luka dan jari-jarinya putus di Perang Uhud.

Suatu ketika, Thalhah RA terlihat resah, gelisah, dan muram saat menemui Su’da binti Auf Al-Muriyyah istrinya.

“Mengapa aku melihat wajahmu muram? Ada apa denganmu? Apakah ada sesuatu yang bisa kubantu?” Tanya Istri Thalhah.

Dia menjawab, “Tidak, kamu sebaik-baik istri yang dimiliki seorang muslim.”

Istrinya kembali bertanya, “Ada apa denganmu?”

Thalhah menjawab, “harta yang kupunya sudah banyak, dan itulah yang membuatku gelisah.”

Istrinya kemudian mengusulkan supaya hartanya dibagi-bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan (shadaqah). “Apa ruginya jika engkau bagi-bagi?” kata istrinya.

Lalu Thalhah membagi-bagikan semua hartanya hingga tak tersisa satu dirham pun. Saat itu harta yang dibagikan mencapai empat ratus ribu dinar.

Dinar adalah emas murni, yang merupakan mata uang di zaman Rasulullah saw. Ketika itu satu koin dinar adalah 4,25 gram emas atau setara dengan Rp 2 juta saat ini.

Sedangkan yang dibagi-bagikan Thalhah adalah empat ratus ribu dinar. Dengan demikian dia telah membagi-bagikan uangnya sebanyak Rp 800 miliar. Maka segala puji hanya kepada Allah.

Amr bin Dinar berkata, penghasilan Thalhah setiap hari adalah seribu dinar.

Adapun kisah lainnya, suatu ketika Thalhah menjual tanahnya dengan harga tujuh ratus dinar. Selama semalam harta itu ada di tangannya, dia tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan harta. Lalu di pagi harinya, dia membagi-bagikannya.

Istrinya mengisahkan, sungguh pada suatu hari, Thalhah menyedekahkan seratus ribu dirham (perak), kemudian dia tertahan datang ke masjid, karena aku mengumpulkan kedua ujung bajunya.[1]

Inilah akhlak para sahabat. Mereka adalah sebaik-baik generasi. Mereka tidak mengejar duniawi. Harta yang dikumpulkan selalu dibelanjakan di jalan Allah swt.

Berapa pun banyaknya, mereka tidak peduli. Amalan dan ridha Allah yang dikejar. Bukan kemewahan dunia yang semu. Bahkan ada di antara mereka yang menginfaqan seluruh hartanya, sampai-sampai yang tersisa hanyalah pakaian di badan dan tempat tinggal, sebagaimana Abu Bakar As-Shiddiq RA. Maka Ambillah pelajaran. (*)

—————————–

[1] Kisah lengkap cerita ini terdapat dalam Kitab Hilyatul Auliyah, Imam Abu Nu’aim Al-Asfahani. Jilid 1, Hal. 427 sampai 438.

loading...
Click to comment
To Top