Teladani Sifat Wongsonegoro Melalui Ziarah – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Teladani Sifat Wongsonegoro Melalui Ziarah

SEMARANG, RAJA – Jelang peringatan Pertempuran Lima Hari, jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melakukan ziarah ke makam Gubernur pertama Jawa Tengah, Kanjeng Raden Mas Tumenggung (K.R.M.T.) Wongsonegoro S.H. di Dukuh Jetis, Desa Kagokan, Gatak, Sukoharjo.

Rombongan dipimpin langsung oleh Penjabat (Pj) Walikota Semarang. Dalam kesempatan tersebut turut hadir Dandim 0733 BS, DPRD Kota Semarang, Sekda Kota Semarang, para pelaku sejarah pertempuran 5 hari di Semarang serta perwakilan keluarga Alm. Wongsonegoro, Pramono Wongso Putranto dan Sarjono Danardi.

Pj Walikota Semarang, Tavip Supriyanto mengatakan, Wongsonegoro sebagai Gubernur pertama Provinsi Jawa Tengah pada tahun 1945-1949, telah menunjukkan perjuangan dan resiko besar yang dihadapi melawan penjajah Jepang.

Selain itu, keturunan bangsawan yang mengalir dalam diri Wongsonegoro, tak menghalanginya untuk terjun langsung ke masyarakat. Wongsonegoro tetap menunjukkan sikap dan perilaku yang sangat baik, seperti mengutamakan kesederhanaan, keselarasan, kejujuran patriotisme, disiplin dan sangat religious. “Berbagai sikap positif ini patut diteladani untuk meneruskan perjuangannya, khususnya dalam membangun Kota Semarang,” tandas Pj. Walikota Semarang di sela-sela memimpin ziarah dalam rilisnya, Rabu (7/10).

Menurutnya, sejumlah pandangan tentang Wongsonegoro juga perlu diresapi dan diteladani, sebagaimana yang tertulis pada monumen makam di Astana Kandaran.

Tulisan tersebut, diantaranya “Janma Luwih Hambuka Tunggal” yang berarti orang yang mempunyai kemampuan lebih akan selalu mendekatkan diri dengan sang Pencipta dan “Haruming Sabda Haruming Budi” yang berarti orang yang selalu bertutur kata baik dalam arti yang benar, menggambarkan pribadi orang yang berbudi luhur. “Melalui peringatan pertempuran lima hari di Kota Semarang ini, kami mengajak untuk dapat bersama-sama menguatkan tekad dan komitmen untuk membangun Kota Semarang menjadi lebih baik,” ungkapnya.

Sementara itu cucu Alm. Wongsonegoro, Sarjono Danardi menyampaikan, terima kasih atas perhatian yang terus diberikan kepada almarhum. “Ziarah secara rutin ini, merupakan bentuk penghargaan dan pengertian bahwa perjuangan itu memerlukan pengorbanan,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Sarjono juga menyampaikan sejumlah tanda jasa atas perjuangan Alm. Wongsonegoro sebagai wujud perhatian dan penghargaan.

Penghargaan itu, diantaranya tanda jasa bintang gerilya, perintis kemerdekaan, satya lencana perang kemerdekaan 1,  satya lencana perang kemerdekaan 2, bintang bhayangkara, perintis olahraga pencaksilat, bintang mahaputra adi pradana, satya lancana kebudayaan, hingga pemancangan bendera merah putih pada makam beliau. (Art)

SEMARANG, RAJA – Jelang peringatan Pertempuran Lima Hari, jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melakukan ziarah ke makam Gubernur pertama Jawa Tengah, Kanjeng Raden Mas Tumenggung (K.R.M.T.) Wongsonegoro S.H. di Dukuh Jetis, Desa Kagokan, Gatak, Sukoharjo.
Rombongan dipimpin langsung oleh Penjabat (Pj) Walikota Semarang. Dalam kesempatan tersebut turut hadir Dandim 0733 BS, DPRD Kota Semarang, Sekda Kota Semarang, para pelaku sejarah pertempuran 5 hari di Semarang serta perwakilan keluarga Alm. Wongsonegoro, Pramono Wongso Putranto dan Sarjono Danardi.
Pj Walikota Semarang, Tavip Supriyanto mengatakan, Wongsonegoro sebagai Gubernur pertama Provinsi Jawa Tengah pada tahun 1945-1949, telah menunjukkan perjuangan dan resiko besar yang dihadapi melawan penjajah Jepang.
Selain itu, keturunan bangsawan yang mengalir dalam diri Wongsonegoro, tak menghalanginya untuk terjun langsung ke masyarakat. Wongsonegoro tetap menunjukkan sikap dan perilaku yang sangat baik, seperti mengutamakan kesederhanaan, keselarasan, kejujuran patriotisme, disiplin dan sangat religious. “Berbagai sikap positif ini patut diteladani untuk meneruskan perjuangannya, khususnya dalam membangun Kota Semarang,” tandas Pj. Walikota Semarang di sela-sela memimpin ziarah dalam rilisnya, Rabu (7/10).
Menurutnya, sejumlah pandangan tentang Wongsonegoro juga perlu diresapi dan diteladani, sebagaimana yang tertulis pada monumen makam di Astana Kandaran.
Tulisan tersebut, diantaranya “Janma Luwih Hambuka Tunggal” yang berarti orang yang mempunyai kemampuan lebih akan selalu mendekatkan diri dengan sang Pencipta dan “Haruming Sabda Haruming Budi” yang berarti orang yang selalu bertutur kata baik dalam arti yang benar, menggambarkan pribadi orang yang berbudi luhur. “Melalui peringatan pertempuran lima hari di Kota Semarang ini, kami mengajak untuk dapat bersama-sama menguatkan tekad dan komitmen untuk membangun Kota Semarang menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Sementara itu cucu Alm. Wongsonegoro, Sarjono Danardi menyampaikan, terima kasih atas perhatian yang terus diberikan kepada almarhum. “Ziarah secara rutin ini, merupakan bentuk penghargaan dan pengertian bahwa perjuangan itu memerlukan pengorbanan,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Sarjono juga menyampaikan sejumlah tanda jasa atas perjuangan Alm. Wongsonegoro sebagai wujud perhatian dan penghargaan.
Penghargaan itu, diantaranya tanda jasa bintang gerilya, perintis kemerdekaan, satya lencana perang kemerdekaan 1,  satya lencana perang kemerdekaan 2, bintang bhayangkara, perintis olahraga pencaksilat, bintang mahaputra adi pradana, satya lancana kebudayaan, hingga pemancangan bendera merah putih pada makam beliau. (Art)

loading...
Click to comment
To Top