Pariaman Sinaga: MEA Bukan Hanya Masalah Perdagangan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ekonomi & Bisnis

Pariaman Sinaga: MEA Bukan Hanya Masalah Perdagangan

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Saat ini Indonesia tengah sibuk dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Berbagai kegiatan maupun seminar digelar dalam menghadapi kegiatan MEA tersebut. Tidak ketinggalan seminar juga dilakukan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPN Veteran) Jogyakarta yang menghadirkan pembicara Pariaman Sinaga dari Pokja Setnas MEA bidang KUKM Kemenko UKM beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu,Pariaman Sinaga menjelaskan Masyarakat Ekonomi ASEAN atau lebih dikenal dengan sebutan MEA adalah pengembangan seluruh potensi yang ada, baik potensi ekonomi, sosial yang bisa dimanfaatkan masyarakat MEA yang terdiri dari 10 negara ASEAN.

“MEA itu adalah mengembangkan seluruh potensi yang ada potensi ekonomi, sosial dimanfaatkan masyarakat 10 negara ASEAN, kesepakatannya yaitu adanya bebas arus barang artinya bebas biaya masuk tarif barang. Kesepakatan lain adalah adanya arus tenaga kerja terampil arus jasa, arus investasi serta arus modal,” kata Pariaman dalam Seminar Nasional dan Call Paper Manajemen dan bisnis dengan tema “Strategi dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di UPN Veteran Jogyakarta.

Dijelaskan, kesepakatan tersebut akan menjadi suatu usaha kerjasama regional di 10 negara ASEAN. “Ini persiapan menuju lintas kawasan, jadi bebas arus barang yang nantinya tidak menarik biaya. Kecuali ada dua jenis barang, yakni alkohol dan beras. Dengan demikan perdagangan barang volumenya akan bisa meningkat,” jelasnya.

Lebih lanjut, tenaga kerja terampil yang dimaksud nantinya dapat bekerja di 10 negara ASEAN dengan syarat para tenaga kerja ini mengantongi sertifikat profesi tingkat internasional atau tingkat ASEAN. Dengan demikian pula, profesi-profesi yang sudah dimiliki para sarjana bisa masuk bekerja diberbagai negara.

“Jadi tidak cukup ijazah. Begitu juga akuntan, suster, arsitektur harus punya sertifikat profesi itu. Kita tahu anda ahli, tapi harus ada bukti. Nah, yang menjadi bukti sertifikat profesi itu,” tukasnya.

Dalam bidang permodalan, juga akan diterapkan permodalan dua bank. Artinya, setiap negara nantinya akan memilih dua bank yang dianggap kuat untuk bisa beroperasi di 10 negara ASEAN. Namun, untuk hal ini akan diberlakukan pada tahun 2020 mendatang.

“Misalkan ada dua bank kuat di Indonesia ini yang akan didorong untuk bisa beroperasi di 10 negara ASEAN. Dengan demikian, akan terjadi persaingan pasar uang, siapa yang paling rendah suku bunganya maka bank itulah yang laku. Tapi untuk ini akan berlaku ditahun 2020,” tandasnya.

Dalam seminar tersebut, turut hadir Abdul Wahid Maktub dari Staf Khusus Menristek dan Dikti RI selaku Keynote Speaker, dan pembicara dari Direktorat Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Wahyu Suparyono, Rektor UPN Veterarn Jogyakarta, Sari Bahagiarti, Dekan Ekonomi UPN Veteran Jogyakarta, Muafi serta dari Ketua Umum Asosiasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Akumindo), Ikhsan Ingratubun yang didampingi Waketum Akumindo, Hermawati Setyorinni. (hrm)

 

Click to comment
Ekonomi & Bisnis

Pariaman Sinaga: MEA Bukan Hanya Masalah Perdagangan

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Saat ini Indonesia tengah sibuk dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Berbagai kegiatan maupun seminar digelar dalam menghadapi kegiatan MEA tersebut. Tidak ketinggalan seminar juga dilakukan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPN Veteran) Jogyakarta yang menghadirkan pembicara Pariaman Sinaga dari Pokja Setnas MEA bidang KUKM Kemenko UKM beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu,Pariaman Sinaga menjelaskan Masyarakat Ekonomi ASEAN atau lebih dikenal dengan sebutan MEA adalah pengembangan seluruh potensi yang ada, baik potensi ekonomi, sosial yang bisa dimanfaatkan masyarakat MEA yang terdiri dari 10 negara ASEAN.

“MEA itu adalah mengembangkan seluruh potensi yang ada potensi ekonomi, sosial dimanfaatkan masyarakat 10 negara ASEAN, kesepakatannya yaitu adanya bebas arus barang artinya bebas biaya masuk tarif barang. Kesepakatan lain adalah adanya arus tenaga kerja terampil arus jasa, arus investasi serta arus modal,” kata Pariaman dalam Seminar Nasional dan Call Paper Manajemen dan bisnis dengan tema “Strategi dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di UPN Veteran Jogyakarta.

Dijelaskan, kesepakatan tersebut akan menjadi suatu usaha kerjasama regional di 10 negara ASEAN. “Ini persiapan menuju lintas kawasan, jadi bebas arus barang yang nantinya tidak menarik biaya. Kecuali ada dua jenis barang, yakni alkohol dan beras. Dengan demikan perdagangan barang volumenya akan bisa meningkat,” jelasnya.

Lebih lanjut, tenaga kerja terampil yang dimaksud nantinya dapat bekerja di 10 negara ASEAN dengan syarat para tenaga kerja ini mengantongi sertifikat profesi tingkat internasional atau tingkat ASEAN. Dengan demikian pula, profesi-profesi yang sudah dimiliki para sarjana bisa masuk bekerja diberbagai negara.

“Jadi tidak cukup ijazah. Begitu juga akuntan, suster, arsitektur harus punya sertifikat profesi itu. Kita tahu anda ahli, tapi harus ada bukti. Nah, yang menjadi bukti sertifikat profesi itu,” tukasnya.

Dalam bidang permodalan, juga akan diterapkan permodalan dua bank. Artinya, setiap negara nantinya akan memilih dua bank yang dianggap kuat untuk bisa beroperasi di 10 negara ASEAN. Namun, untuk hal ini akan diberlakukan pada tahun 2020 mendatang.

“Misalkan ada dua bank kuat di Indonesia ini yang akan didorong untuk bisa beroperasi di 10 negara ASEAN. Dengan demikian, akan terjadi persaingan pasar uang, siapa yang paling rendah suku bunganya maka bank itulah yang laku. Tapi untuk ini akan berlaku ditahun 2020,” tandasnya.

Dalam seminar tersebut, turut hadir Abdul Wahid Maktub dari Staf Khusus Menristek dan Dikti RI selaku Keynote Speaker, dan pembicara dari Direktorat Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Wahyu Suparyono, Rektor UPN Veterarn Jogyakarta, Sari Bahagiarti, Dekan Ekonomi UPN Veteran Jogyakarta, Muafi serta dari Ketua Umum Asosiasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Akumindo), Ikhsan Ingratubun yang didampingi Waketum Akumindo, Hermawati Setyorinni. (hrm)

 

Click to comment
To Top