Ini Dia Teknologi Reklamasi CPI – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ekonomi & Bisnis

Ini Dia Teknologi Reklamasi CPI

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Menghadirian kawasan Center Point of Indonesia (CPI) tak mudah. Sebab laut yang harus direklamasi untuk menjadi sebuah daratan untuk pemukiman dan pusat bisnis.

Lalu seperti apa upaya yang dilakukan untuk mewujudkan kawasan tersebut? Cipta Harun, Business Development Manage Ciputra Group, menerangkan, reklamasi nantinya menggunakan teknologi canggih. Kapal yang digunakan yakni Dredging Hopper yang berkapasitan hingga 20 ribu meter kubik pasir. Setara dengan 200 truk.

Pasir diambil menggunakan Dredging Arm atau kaki kapal yang menyedot pasir dari dasar laut. Selanjut, pasir yang diangkut dalam lampung kapal besar akan dialirkan menggunakan pipa ke kapal kecil jenis Sprayer Pontoon. Kapal inilah yang akan menabut ke lahan reklamasi.

Untuk menjaga kekuatan lahan reklamasi, digunakan alat bernama PVD atau Plastic Vertical Drain. Alat ini dibenamkan ke dalam pasir untuk membuat air keluar sehingga pasir bisa padat dalam rentan waktu yang cepat.

Untuk mencagah dari gempah, maka kontraktor akan mengunakan dynamic compaction.

“Kapal besar pengangkut pasir sulit mendekat ke pantai. Kapal ini membutuhkan laut dengan kedalaman 15 meter. Makanya memang harus dialirkan melalui pipa ke kapal kecil,” jelasnya Cipta, Minggu 11 Oktober.

Tahun depan, Ciputra Group jo PT Yasmin Bumi Asri memasatikan investasi reklasi CPI sebesar Rp2,5 triliun.

Managing Director Ciputra Group, Harun Hajadi menjelaskan, saat ini sudah terseleksi tiga perusahaan raksasa yang berpeluang memenangkan tender. Masing-masing China Harbor asal Tiongkok, Boskalis asal Belanda, dan Dredging Internasional asal Belgia.

“Tiga perusahaan yang masuk tahap final ini akan kita umumkan satu pemenangkan tender pada Januari 2016,” sebut Harun.

Nanik J Santoso, Director Ciputra Group menambahkan, meski diumumkan pada awal tahun, kontraktor baru akan memuli reklamasi pada November tahun depan. Persoalannya, mereka harus berurusan dengan sejumlah izin terlebih dahulu. Termasuk denga daerah konsesi pasir yang direncanakan berasal dari daerah Takalar.

“Kapal besar yang akan digunakan mengangkut pasir juga butuh waktu untuk mendatangkannya ke Makassar,” jelas Nanik.

Pasir sendiri diambil dari daerah yang cukup jauh dari pantai. Sesuai aturan, pasir diambil pada jalan dua mil dari bibir pantai.

“Reklamasi tahap pertama kita target selesai Maret 2018. Dalam 100 heklare ini, termasuk bagian Pemprov seluas 57 hektare yang akan kita serahkan,” lanjut Nanik.

Tahap kedua seluas 57 hektare berikutnya baru akan dilakukan setelah tahap pertama rampung. Nanik bilang, tahap kedua masih butuh anggaran Rp1 triliun. “Jadi total reklamasi 157 hektare membutuhkan Rp3,5 triliun,” pungkasnya. (iad)

loading...
Click to comment
To Top