7 Perahu Nelayan Seret Hiu Tutul ke Tepi Pantai – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

7 Perahu Nelayan Seret Hiu Tutul ke Tepi Pantai

FAJAR.CO.ID, SURABAYA – Jalan Bulak Cumpa Kedungcowek, Surabaya mendadak ramai kemarin (12/10). Ratusan warga berkumpul untuk menonton seekor hiu yang terdampar di Pantai Kenjeran. Tujuh perahu nelayan tampak sibuk menyeret hiu tutul itu. Sayang, ikan raksasa yang familier disebut hiu tutul itu sudah mati.

Ahmad, warga setempat, mengatakan, hiu tersebut terperangkap jaring milik Muhammad, nelayan Bulak Cumpat. Jaring itu dipasang di perairan Selat Madura sisi Surabaya. Saat ditimbang, berat hiu tersebut mencapai 2 ton. Panjangnya sekitar 7 meter dan lebar tubuh 2 meter.

“Saking beratnya, bangkai hiu ditarik tujuh perahu nelayan ke pantai,” ujar Ahmad. Katanya, ikan jenis tersebut biasa menuju perairan dangkal pada Oktober-November.

Lurah Kedungcowek Suradiyanto mengatakan, para nelayan tidak bermaksud menangkap hiu tersebut. Mereka telah mengetahui bahwa ikan tersebut termasuk hewan yang dilindungi. “Ikannya sendiri yang terperangkap dalam jaring nelayan,” ujar Suradiyanto.

Sesuai laporan nelayan, hiu tersebut terperangkap jala sekitar pukul 03.00. Nah, untuk memastikan hiu itu mati atau hidup, para nelayan lantas menyeretnya ke tepi pantai. “Karena kesusahan mengevakuasi, dari pagi sampai jam 11 siang baru bisa sampai ke tepi,” terang Suradiyanto.

“Ternyata, setelah sampai ke tepi, hiu sudah mati,” imbuhnya. Menurut dia, hiu tersebut mungkin tersesat, lalu masuk ke dalam jaring nelayan. Pihaknya menunggu keputusan dari dinas pertanian mengenai tindak lanjut bangkai hiu tersebut.

Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan dan Kelautan Dinas Pertanian Aris Munandar mengatakan, ikan tersebut jenis hiu paus (Rhincodon typus) atau whale shark. Namun, biasanya warga menyebutnya hiu tutul. Sebab, kulit ikan tersebut memang bertutul.

[NEXT-FAJAR]

“Ini termasuk ikan langka dan dilindungi,” ujar Aris sambil memperlihatkan plang larangan menangkap hiu paus. Papan mengenai perlindungan hiu paus itu ditempel di depan Sentra Ikan Bulak (SIB).

Pihaknya meninjau ikan hiu itu bersama Badan Pengelola Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL). Berdasar analisis, kata Aris, ada tiga opsi yang akan dilakukan terhadap bangkai hiu tersebut. Yakni, ditenggelamkan, dikubur, atau diawetkan. “Hal yang paling mungkin dikubur,” terang Aris.

Sebab, pengawetan membutuhkan dana yang besar. Begitu pula penenggelaman bangkai hiu paus. “Untuk itu, kami sudah putuskan untuk dikubur saja bangkainya,” lanjutnya.

Rencananya, bangkai hiu tersebut dikubur di area pasir daerah Cumpat yang berdekatan dengan tanggul pantai.

Aris mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan dinas pekerjaan umum, bina marga, dan pematusan (DPUBMP) untuk menggali liang kubur hiu. Karena ukuran ikan jumbo, diperlukan lubang yang cukup besar. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan DPUBMP untuk menyiapkan alat berat.

Sebelum dikubur, BPSPL akan mengambil sirip hiu untuk diawetkan. “Ini untuk membuat berita acara tentang terdampar dan matinya hiu paus ini,” terangnya. Aris menegaskan, sirip hiu tersebut tidak boleh diperjualbelikan. Sebab, hiu paus termasuk ikan yang dilindungi.

Menurut Aris, jenis hiu tersebut biasanya berenang secara komunal atau bersama dengan spesiesnya. Diperkirakan hiu yang ditemukan di jaring nelayan Cumpat itu tersesat dan terdampar. “Kemungkinan dia berenang lebih lambat karena sedang sakit,” katanya. Nah, hiu itu kemudian terperangkap dalam jaring nelayan. Rencananya, bangkai hiu dikubur hari ini (13/10).

“Kami menunggu laut pasang agar lebih mudah,” lanjut Aris. Penemuan hiu tersebut bukan kali pertama. Dua tahun lalu hiu tutul juga terdampar di Pantai Kenjeran. (aya/c6/oni/jpnn)

Click to comment
To Top