Kirab 1 Muharram 1437 H dan 1 Sura 1949 di Solo – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Kirab 1 Muharram 1437 H dan 1 Sura 1949 di Solo

SOLO, RAJA – Kirab 1 Sura di Solo tahun ini ada yang berbeda. Waktu pelaksanaan kirab baik yang dilakukan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan kirab yang dilakukan Pura Mangkunegaran Solo berbeda. Hal ini dikarenakan malam 1 Sura dua lembaga adat di Solo itu berbeda.

Bila tahun-tahun lalu, pelaksanaan kirab 1 Sura bebarengan, tahun ini penentuan malam 1 Sura Keraton Solo dan Pura Mangkunegaran berbeda. Puro Mangkunegaran menyelenggarakan serangkaian prosesi kirab 1 Sura pada Selasa (13/10), mulai pukul 19.00 WIB. Sedangkan Keraton Solo mulai menggelar acara, Rabu (14/10), mulai pukul 21.00 WIB.

Panitia Pelaksana Kirab Pusaka 1 Sura Pura Mangkunegaran, M.Ng. Joko Pramodyo, mengemukakan terdapat tiga acara inti pada penyambutan Malam 1 Sura. “Acaranya diawali kirab pusaka yang dimulai pukul 19.00 WIB. Saat kirab sudah diberangkatkan, di Masjid Al Wustho digelar tadarusan (mengaji bersama). Selesai kirab, di Ndalem Ageng dilaksanakan Pasemeden (doa bersama) mulai pukul 24.00 WIB,” jelasnya, kemarin.

Joko mengatakan Kirab Satu Sura tahun ini bakal diikuti 200 pegara inti yang terdiri atas cucuk lampah, pangapit pusaka, pembawa pusaka, serta pengiring pusaka. “Rombongan akan mengiringi pusaka yang dikersani (dikehendaki) Sri Paduka Mangkunagoro IX. Rute kirab mengelilingi kompleks istana seluas 10 hektare. Masyarakat yang ingin mengikuti kirab dipersilakan,” terangnya.

Kirab 1 Sura Pura Mangkunegaran mengambil rute Ndalem Ageng-Paringgita-Pendapa Ageng-Gerbang Utama-Jl. Ronggowarsito-Jl. Kartini-Jl. R.M. Said-Jl. Teuku Umar-Jl. Ronggowarsito-kembali ke istana.

Versi Keraton Solo

Sementara itu, malam 1 Sura versi Keraton Solo jatuh pada Rabu (14/10). Wakil Pengageng Sasono Wilopo Keraton Solo, K.P. Winarno Kusumo, mengatakan Malam 1 Sura 1949 tahun ini jatuh pada 14 Oktober pukul 16.00 WIB. “Tahun ini sedikit berbeda karena jatuhnya 1 Sura dan 1 Muharram selisih sehari. Kami tetap mengacu penanggalan Jawa untuk prosesi upacara adat,” kata dia.

Winarno mengemukakan Kirab 1 Sura yang digelar Keraton Solo mengacu pada penanggalan Sultan Agung yang dibuat pada masa Kerajaan Mataram. Sedangkan penyelenggaraan di Istana Mangkunegaran mengacu pada penanggalan nasional sesuai dengan tahun baru Islam. “Perbedaan ini tidak perlu dipermasalahkan. Dasar acuannya berbeda. Yang satu menggacu pada penanggalan nasional, sedangkan kami mengacu pada penanggalan Sultan Agung. Empat tahun yang lalu juga sudah berbeda,” tutupnya. (sp)

loading...
Click to comment
To Top