Pembunuh Sadis Dihukum Seumur Hidup – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Pembunuh Sadis Dihukum Seumur Hidup

AMBON —Majelis hakim Pengadilan Negeri Ambon, menjatuhkan vonis penjara seumur hidup terhadap Remy Soulissa alias Kabid. Majelis hakim yang diketuai Christina Tetelepta SH dan didampingi hakim anggota Jimmy Wally SH dan Syamsudin La Hassan SH menjatuhkan vonis tersebut, karena terdakwa terbukti melakukan pembunuhan berencana dan penganiayaan terhadap anak di bawah umur, sehingga mengakibatkan empat orang meninggal dunia.
Majelis hakim dalam putusannya menyatakan, perbuatan terdakwa terbukti melanggar pasal pasal 340 KUHP dan pasal 80 ayat (3) UU Nomor 35 tahun 2014, jo pasal 65 ayat (1), pasal 354 ayat (1), dan pasal 351 ayat (1) KUH Pidana.
“Mengadili, menyatakan perbuatan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan, melakukan pembunuhan secara berencana. Menjatuhkan hukuman berupa pidana seumur hidup kepada terdakwa,” tegas  majelis hakim.
Putusan seumur hidup yang dijatuhi kepada terdakwa, cukup beralasan. Pasalnya, menurut majelis hakim dalam pertimbangan putusannya, tidak ada alasan pemaaf bagi terdakwa. Karena tindakan terdakwa mengakibatkan empat orang meninggal dunia dan tiga orang mengalami cacat.
Yang mana, dalam pertimbangannya, perbuatan terdakwa, yang secara sengaja telah merencanakan pembunuhan terhadap istrinya, Yoneng Nurlatu (30), karena terdakwa curiga istrinya berselingkuh dengan Wellem Soulissa (Korban luka).
Pembunuhan itu terjadi di desa Siwatlahi, Kecamatan Fenak Fafan, Kabupaten Buru Selatan, pada 17 Februari 2015 lalu. Saat itu, pukul 20.30, terdakwa mengajak isterinya untuk berhubungan intim, namun istrinya menolak dengan alasan kemaluan suaminya tidak berfungsi.
Mendengar perkataan itu, terdakwa tersinggung kemudian mengambil parang yang sudah disediakan dibawah tempat tidur dan menebas istrinya di bagian kepala dan menusuk kemaluan korban.
Tidak hanya sampai disitu. Terdakwa kemudian menuju rumah tetangganya Herman Soulissa. Di rumah tersebut ada Herman Solissa (15), Wellem Solissa dan Agus Nacikit. Terdakwa masuk ke dalam rumah dan menebas Herman dengan parang di bagian leher, seketika itu Herman terkapar. Terdakwa juga memarangi Agus Nacikit dan Wellem Solissa. Beruntung, keduanya menangkis tebasan terdakwa sehingga mengalami luka bagian lengan.
Agus dan Wellem kemudian berlari untuk bersembunyi di rumah kakak Agus, yakni Yones Nacikit. Terdakwa selanjutnya masuk ke dalam kamar, di rumah milik Yones Nacikit, di dalam kamar hanya ada Yati Nacikit (9), anak dari Yones Nacikit. Terdakwa langsung menusuk Yati Nacikit dengan tombak hingga tewas.
Terdakwa kemudian berlari menuju SD Siwatlahin. Sesampainya di sana, terdakwa melihat Minggas Solissa beserta kedua anaknya, yakni Yoknan Solissa, Devi Solissa dan adiknya Elyfas Saleky. Terdakwa kembali mengejar mereka dan memotong Minggas Solissa.
Melihat perbuatan terdakwa, Yoknan Solissa lari, namun dikejar terdakwa dan ditebas dengan parang dari bahu bagian kiri. Elifas pun ditebas namun beruntung selamat karena lari. Sementara Devi, bersembunyi di balik semak-semak.
Akibat tindakan terdakwa, mengakibatkan Yoneng Solissa, Herman Solissa, Yoknan Solissa dan Yati Solissa meninggal dunia. Selain itu, Wellem Solissa, Agus Nacikit dan Minggas Solissa, mengalami luka berat serta cacat sehingga tidak dapat melakukan aktivitas sebagai petani.
Walau demikianm, putusan majelis hakim, lebih ringan dari tuntutan JPU. Karena sebelumnya, JPU menuntut agar terdakwa divonis hukuman mati. Atas putusan tersebut, Pihak Penasehat hukum terdakwa, Hendrik Lusikoy SH maupun Jaksa Penuntut Umum (JPU) Daniel Sinaga cs, menyatakan pikir-pikir. (AFI)

Click to comment
To Top