Kemarau, Ini Cara Pemkab Boyolali Sirkulasi Pupuk – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Kemarau, Ini Cara Pemkab Boyolali Sirkulasi Pupuk

BOYOLALI, RAJA – Pemkab Boyolali mengalihkan sebagian jatah pupuk di sejumlah kecamatan. Ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pupuk di wilayah kecamatan yang memiliki lahan pertanian irigasi teknis, agar tak terjadi kelangkaan di musim kemarau ini.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Boyolali, Bambang Purwadi didampingi petugas bagian pupuk, Muhtadi, mengatakan jatah pupuk yang dialihkan adalah kecamatan yang tidak memiliki lahan irigasi teknis. Dimana, di wilayah tersebut tidak ada kegiatan bercocok tanam, sehingga permintaan pupuk juga kecil. “Sehingga jatah pupuk di wilayah kecamatan itu sebagian kami alihkan ke daerah-daerah yang lahan pertaniannya memiliki irigasi teknis. Karena disana masih kegiatan pertanian bisa sepanjang tahun,” katanya kepada wartawan kemarin.

Hal ini dilakukan juga dampak kemarau berkepanjangan saat ini. Yang mengakibatkan areal pertanian tadah hujan, tak bisa ditanami karena tak ada air. Di areal pertanian tadah hujan dan irigasi non teknis, praktis kegiatan pertanian padi terhenti. Dampaknya, pemakaian pupuk pun berkurang drastis. “Dengan dialihkannya jatah pupuk itu, sehingga diharapkan tak terjadi kelangkaan pupuk di daerah sawah irigasi teknis,” harapnya.

Alokasi pupuk bersubsidi yang dialihkan antara lain Kecamatan Selo, dari alokasi pupuk sebanyak 614 ton dikurangi menjadi 414 ton. Kemudian Kecamatan Cepogo dari 1.221 ton dikurangi menjadi 1.121 ton dan Kecamatan Andong dikurangi 232 ton, dari alokasi 2.532 ton menjadi 2.300 ton.

Pengurangan pupuk di sejumlah kecematan itu kemudian dialihkan ke sejumlah kecamatan lain di Boyolali, yang pertaniannya bisa sepanjang tahun. Seperti Kecamatan Sawit, Banyudono dan Ngemplak.

Meskipun demikian, pihaknya pesimis seluruh jatah pupuk urea bersubsidi di wilayah Kabupaten Boyolali tahun ini bisa terserap seluruhnya. Berdasarkan data per 1 Oktober 2015, alokasi pupuk urea bersubsidi sebanyak 28.200 ton. Hingga akhir Agustus lalu, serapan pupuk baru mencapai 51,2 persen. “Ini terjadi karena dampak kemarau panjang sehingga otomatis kebutuhan pupuk berkurang. Kalau petani tidak menanam padi, kebutuhan pupuk pun berkurang,” jelasnya. (sp)

loading...
Click to comment
To Top