Kemarau Panjang, Penjualan Perahu Rawapening Menurun – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Kemarau Panjang, Penjualan Perahu Rawapening Menurun

SEMARANG – Musim kemarau panjang yang terjadi di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, tidak saja berdampak pada menurunnya hasil panen padi milik petani. Bahkan tidak sedikit perajin perahu yang berada di kawasan Rawapening penghasilannya menurun drastis.

Hal ini disebabkan pengusaha penyewaan perahu enggan menambah jumlah perahu, lantaran debit air di kawasan Rawapening menurun dan banyaknya tanaman pengganggu yang berdampak sepinya orang yang hendak memancing di kawasan tersebut.
Sumartono, warga Candirejo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, mengaku pada musim kemarau tahun 2015 ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana musim kemarau sekarang ini sangat ekstream dan berdampak pada menurunnya usaha pembuatan perahu miliknya. Jika pada tahun 2014 kemarin dalam seminggu mampu menjual 15 perahu, kini di tahun 2015 hanya mampu menjual 3 perahu.
“Musim kemarau sekarang ini sangat parah sekali, tidak hanya panas tapi juga lama. Akibat dari cuaca tersebut mata pencaharian saya secara otomatis juga menurun, bahkan lebih dari 50 persen,” ungkapnya, Selasa (20/10).
Seperti saat sekarang ini, Sumartono mengaku tidak mau memproduksi perahu dalam jumlah banyak. Dirinya hanya akan membuat perahu berdasarkan pesanan. Selain harga kayu yang digunakan untuk membuat perahu harganya sangat mahal, gaji untuk tenaga ahli pembuat perahu juga sangat mahal. Oleh sebab itu dirinya tidak berani bersepekulasi untuk membuat perahu saat sekarang ini.
“Saya tidak berani membuat perahu kalau tidak ada pesanan dari pembeli. Sekarang ini semua jenis bahan baku hargananya luar biasa tingginya, seperti harga kayu mahoni, Durian dan waru harganya tiap hari berubah terus. Perahu yang saya produksi paling murah harganya Rp 450 ribu sedangkan yang paling mahal Rp 6 juta,” kata Sumartono.
Kondisi Rawapening sekarang ini sugguh sangat memprihatinkan, tidak sedikit orang yang mengurungkan niat untuk memancing di Rawa tersebut, selain banyak tanaman pengganggu (enceng gondok), jumlah ikan juga sangat sedikit, lantaran populasi ikan tidak dapat berkembang biak dengan baik karena banyaknya enceng gondok tersebut.
“Kondisi Rawapening memang sangat mempriatinkan, debit air bisa dibilang hampir habis, ditambah jumlah enceng gondok tiap hari bertambah banyak dan jumlah ikan juga berkurang, dampaknya ya tidak ada orang yang mau memancing di Rawa dan imbasnya juga saya pastikan usaha saya menurun drastis,” ungkap Sumartono.
Sementara itu  salah satu pengusaha penyewaan perahu, Rahmat (45), mengaku bahwa sekarang ini belum mau membeli perahu, meskipun ada beberapa perahu miliknya rusak karena usia. Hal ini disebabkan berkurangnya jumlah pemancing dan orang yang akan berlibur menikmati suasana Rawapening pada saat musim kemarau panjang seperti saat sekarang ini. “Jangankan orang yang akan mancing dan berlibur menikmati suasana alam di Rawapening, melihat kondisi Rawapening dari kejauhan saja orang pada tidak merespon. Harusnya pemerintah Kabupaten Semarang tanggap dengan kondisi Rawa yang semakin memprihatinkan,” tukas Rahmat, Selasa (20/10).(wis)

Click to comment
To Top