Massedi: Jadi Petani Harus Bangga! – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Makassar

Massedi: Jadi Petani Harus Bangga!

FAJAR.CO.ID, BULUKUMBA – Banyak orang yang bercita-cita menjadi seorang dokter, guru, pilot atau pramugari. Akan tetapi, hanya segelintir yang ingin menjadi seorang petani. Alasannya pun beragam. Salah satunya karena penghasilan sebagai petani masih dianggap kurang mampu mencukupi kebutuhan hidup.

Hal ini bertolak belakang dengan fakta bahwa petani, khususnya di Bulukumba, merupakan tulang punggung penyedia pangan dengan segala inovasi, kreativitas dan pengetahuannya.

Oleh karena itu, pasangan calon bupati dan calon wakil bupati Masykur Andi Sulthan-Andi Edy Manaf (Massedi) ingin mengubah pandangan miring terhadap mata pencaharian tersebut. Sebab, hal itu merupakan salah satu langkah dalam upaya mencapai ketahanan pangan dan kesejahteraan petani Bulukumba.

“Coba saja Anda bayangkan. Bagaimana mungkin sektor pertanian kita dapat berkembang dan menghasilkan kesejahteraan bagi petani jika hanya mengandalkan kerja keras tanpa kerja cerdas. Oleh karena itu, Massedi langsung memberikan bukti pada petani dengan cara mengedukasi mereka bagaimana bercocok tanam yang baik dan menghasilkan hasil tanam yang melimpah. Dengan konsep revolusi tani kita, kita akan mengubah mindset masyarakat akan bangganya jadi petani,” ujar juru bicara Massedi, Fahidin HDK di sela-sela mengikuti sosialisasi paslon jagoannya di hadapan ratusan warga Bulukumpa, 18/10.

Fahidin menjelaskan, sebelum terjadi anomali iklim, masyarakat kita, umumnya di Indonesia memang belum betul-betul menyadari seberapa besar peran para petani kita.

“Nah, setelah kita, secara jelas dan nyata, berhadapan dengan perubahan iklim global, barulah semua orang sadar bahwa mereka sangat memerlukan jumlah stok pangan yang aman atau bahkan berlimpah. Sementara, tanpa keberadaan para petani, tak akan ada yang namanya produksi pertanian atau stok pangan,” sambungnya.

Dengan kondisi iklim yang berubah-ubah seperti sekarang ini, lanjut Fahidin, kita membutuhkan tanaman, entah itu padi, cengkeh, merica, coklat dan lainnya, yang tahan cuaca panas ekstrem, hujan yang terjadi terus-menerus hingga menimbulkan penggenangan atau banjir, dan kekeringan akibat musim kemarau. Kita ajarkan mereka bioteknologi bercocok tanam.

Untuk mengubah pandangan terhadap petani, tentunya sektor pertanian harus terlebih dahulu bisa mengatasi problema-problema di atas. Akan tetapi, hal itu tak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, mulai dari para petaninya, pemerintah, hingga pihak yang concern di bidang tersebut.

“Salah satu langkah efektif adalah dengan menerapkan bioteknologi yang telah terbukti mampu meningkatkan produksi pertanian tanpa perlu membuka lahan pertanian baru dan mengurangi penggunaan pestisida. Mengapa kesejahteraan petani Indonesia belum sebaik para petani dari negara lain? Ya, salah satunya karena kita belum sepenuhnya menerapkan bioteknologi,” tutupnya. (hrm)

Click to comment
To Top