Setahun Jokowi-JK, Tol Lautnya Dimana, Pak? – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Setahun Jokowi-JK, Tol Lautnya Dimana, Pak?

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Hari ini (20/10) usia pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla telah menginjak usia setahun. Namun, masih banyak janji-janji kampanye yang belum ditunaikan. Salah satunya adalah tentang pembangunan maritim.

Menurut pengamat maritim, Y Paonganan, gagasan duet yang dikenal dengan sebutan Jokowi-JK itu tentang pembangunan sektor kelauran masih jaur dari harapan. Bahkan dalam setahun pemerintahan Jokowi-JK, upaya untuk mewujudkan pembangunan maritim belum terlihat tanda-tandanya.

“Setelah setahun pemerintahan Jokowi-JK belum ada satu pun capaian dalam membangun maritim Indonesia. Jauh panggang dari api jika ditinjau dari visi maritim yang didengungkan Jokowi-JK saat pilpres,” kata Paonganan sebagaimana dikutip indopos.co.id (Fajar Group).

Dia lantas manyinggung gagasan poros maritim dunia dan tol laut yang dijanjikan Jokowi-JK pada kampanye pemilihan presiden lalu. Alih-alih tol laut terealisasi, ide tentang menghubungkan pulau-pulau di Indonesia itu justru seperti hilang tertelan ombak.

Bahkan, kata Paonganan, pemerintah malah sibuk melakukan pencitraan untuk menutupi janji yang tak kunjung terealisasi. Salah satu contohnya adalah langkah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang seolah mengutamakan ketegasan, tapi ternyata hanya pencitraan.

“Menteri Susi hanya sekedar pencitraan lewat aksi menenggelamkan puluhan perahu kayu dengan alasan memberantas illegal fishing. Itu semua bohong,” ulasnya.

Pengamat yang lebih sering disapa dengan nama panggilan Ongen itu mengatakan, kebijakan Susi tentang moratorium perizinan kapal penangkap ikan telah mengakibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan pekerja sektor kelautan. Selain itu, nelayan juga semakin sulit melaut karena tingginya harga bahan bakar minyak.

“Kemiskinan nelayan tradisional malah kian meningkat dengan naiknya harga BBM, daya beli nelayan kian terpuruk. Tak sedikit dari mereka alih profesi,” tegasnya.

Ongen bahkan menilai penunjukan Rizal Ramli sebagai menteri koordinator maritim menggantikan Indrojono Soesilo tak membawa banyak dampak. “Rizal Ramli seakan kehilangan intelektualitasnya, kerjanya hanya kepret sana kepret sini tak ada hasil,” pungkasnya. (ara/JPNN)

Click to comment
Nasional

Setahun Jokowi-JK, Tol Lautnya Dimana, Pak?

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Hari ini (20/10) usia pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla telah menginjak usia setahun. Namun, masih banyak janji-janji kampanye yang belum ditunaikan. Salah satunya adalah tentang pembangunan maritim.

Menurut pengamat maritim, Y Paonganan, gagasan duet yang dikenal dengan sebutan Jokowi-JK itu tentang pembangunan sektor kelauran masih jaur dari harapan. Bahkan dalam setahun pemerintahan Jokowi-JK, upaya untuk mewujudkan pembangunan maritim belum terlihat tanda-tandanya.

“Setelah setahun pemerintahan Jokowi-JK belum ada satu pun capaian dalam membangun maritim Indonesia. Jauh panggang dari api jika ditinjau dari visi maritim yang didengungkan Jokowi-JK saat pilpres,” kata Paonganan sebagaimana dikutip indopos.co.id (Fajar Group).

Dia lantas manyinggung gagasan poros maritim dunia dan tol laut yang dijanjikan Jokowi-JK pada kampanye pemilihan presiden lalu. Alih-alih tol laut terealisasi, ide tentang menghubungkan pulau-pulau di Indonesia itu justru seperti hilang tertelan ombak.

Bahkan, kata Paonganan, pemerintah malah sibuk melakukan pencitraan untuk menutupi janji yang tak kunjung terealisasi. Salah satu contohnya adalah langkah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang seolah mengutamakan ketegasan, tapi ternyata hanya pencitraan.

“Menteri Susi hanya sekedar pencitraan lewat aksi menenggelamkan puluhan perahu kayu dengan alasan memberantas illegal fishing. Itu semua bohong,” ulasnya.

Pengamat yang lebih sering disapa dengan nama panggilan Ongen itu mengatakan, kebijakan Susi tentang moratorium perizinan kapal penangkap ikan telah mengakibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan pekerja sektor kelautan. Selain itu, nelayan juga semakin sulit melaut karena tingginya harga bahan bakar minyak.

“Kemiskinan nelayan tradisional malah kian meningkat dengan naiknya harga BBM, daya beli nelayan kian terpuruk. Tak sedikit dari mereka alih profesi,” tegasnya.

Ongen bahkan menilai penunjukan Rizal Ramli sebagai menteri koordinator maritim menggantikan Indrojono Soesilo tak membawa banyak dampak. “Rizal Ramli seakan kehilangan intelektualitasnya, kerjanya hanya kepret sana kepret sini tak ada hasil,” pungkasnya. (ara/JPNN)

Click to comment
To Top