Ini Cara Idris Syukur Maknai Hari Santri – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Makassar

Ini Cara Idris Syukur Maknai Hari Santri

FAJAR.CO.ID, BARRU — Calon bupati Barru, Andi Idris Syukur menyempatkan waktu menulis catatan bijak. Kali ini, pasangan Suardi Saleh itu mengajak masyarakat bersama-sama memaknai Hari Santri Nasional, Kamis 22 Oktober.

Berikut catatan dan pesan bijak AIS yang diterima redaksi:

Sebagai bangsa yang penduduknya mayoritas Islam, peringatan keagamaan, termasuk Hari Santri Nasional yang pertama kali diterapkan tahun ini, sejatinya tidak perlu lagi dipolemikkan.

Tapi terlepas masih adanya polemik penetapan hari santri setiap 22 Oktober, sejatinya kita patut memaknai dan menggali kembali istilah “santri” secara umum.

Bukan lagi mengartikan orang yang berguru di kiai atau di pesantren, melainkan dilihat dari sudut pandang luas, yaitu mereka memperdalam pengetahuan keagamaan.

Hari Santri seyogyanya bisa dijadikan momentum bersama untuk terus mengasa pengetahuan keagamaan kita, dan tentu saja menjalankan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

[NEXT-FAJAR]

Orang yang beragama adalah mereka yang hubungan ke Sang Khalik baik, dan hubungan ke sesama manusia juga terjalin erat. Bukan sebaliknya tidak beriringan atau hanya memperbaiki satu dari dua hubungan tersebut.

Orang yang beragama, tentu saja tidak suka merendahkan orang lain, dan menganggap dirinyalah paling pintar. Orang beragama, selalu menjaga tutur katanya, dan tidak melukai perasaan orang, apalagi mengumbar kebencian.

Orang beragama mesti menjaga tindakan dan pebuatannya. Bukan justru sebaliknya, di depan berkata baik, tapi dibelakang justru menikam dan menebar kebencian, apalagi fitnah yang muaranya hanya “mengoleksi” dosa-dosa.

Hari Santri, harusnya menjadi bagian penting untuk saling berintropeksi diri, berikhtiar, dan memperbaiki hubungan ke sesama manusia, serta ke Sang Khalik.

Jika itu mampu kita jalankan, maka sendi-sendi kehidupan kita, Insya Allah akan berjalan penuh kedamaian. Dan pada akhirnya tujuan dari Hari Santri bisa terwujud, yakni terlalinnya kehidupan yang relegius. (rilis)

 

 

Click to comment
To Top