Kisah Bambang Sugianto sudah 32 Tahun Jadi Kolektor Batu Akik – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Hiburan

Kisah Bambang Sugianto sudah 32 Tahun Jadi Kolektor Batu Akik

FAJAR.CO.ID – Kecintaan Bambang Sugianto terhadap batu akik tak perlu diragukan lagi. Bambang mengaku sudah mengoleksi akik sejak duduk di bangku SMP, tepatnya pada 1983. Kini koleksi batunya berjumlah ratusan.

Kecintaan Bambang terhadap batu akik bermula saat sang ayah R Soeripto baru pulang bertugas dari Timor Timur (kini Timor Leste). Kala itu Soeripto merupakan anggota TNI Angkatan Laut (AL). Sepulang bertugas, sang ayah membawa buah tangan berupa batu jenis kalimaya. Nah, sejak saat itulah Bambang mulai tertarik dengan batu akik.

Bambang masih ingat betul akan batu kalimaya tersebut. Saat membersihkan rumah, dia pernah menemukan batu yang disimpan ayahnya.  Pria kelahiran Surabaya itu pun memberanikan diri untuk memintanya. “Batu itu kemudian saya pasangkan ikat (ring) di Pasar Keputran,” kenang Bambang.

Sejak saat itulah Bambang muda mengenakan cincin akik meski kala itu sering ditertawakan teman-temannya. Ada yang bilang akik yang dikenakan seperti aksesori perempuan.

Tapi, bapak tiga putri tersebut tetap menggunakan akik. Saat duduk di bangku SMA hingga kuliah pun, akik itu tak pernah lepas dari jemarinya. “Sejak saat itu, setiap kali bapak tugas, saya selalu minta oleh-oleh batu,” ucap pria hobi batik tersebut.

Bahkan, rekan Bambang yang mengetahui hobinya mengoleksi batu sering memberinya batu dengan beragam jenis dan warna. Mulai batu belimbing aceh, batu geometrik, batu hajar jahanam, sampai batu jenis kecubung. Ada juga biduri bulan,blue sapphire, stanza afrika, dan rubi burma.

[NEXT-FAJAR]

Sampai saat ini koleksi batu akik Bambang telah mencapai lebih dari 400 biji. “Saya akik paling suka itu kecubung dan rubi karena warnanya yang menarik,” ujar pria yang berulang tahun tiap 20 Januari tersebut.

Setiap hari Bambang pun menggunakan akik. Satu di jari manis kiri dan satu lagi di jari kanan. Dia mengungkapkan, ada yang kurang dalam penampilannya jika tidak menggunakan akik.

Untuk menambah koleksi, saat ini Bambang mengumpulkan bahan baku batu mulia. Belum dipoles dan masih belum mengilap. Batu tersebut kemudian dibuat sendiri menjadi akik yang siap pakai.

Bambang mengaku tidak pernah berniat menjual koleksinya. Padahal, sudah ada orang yang menawar batu miliknya itu. Misalnya batu akik jenis fosfor yang hendak dibeli dengan harga Rp 7 juta.

Blue sapphire pernah ditawar dengan harga yang sama. “Yang pernah dilihat orang dan ditawar Rp 45 juta yang rubi burma,” lanjutnya.

Bambang sengaja tidak melepas akik koleksinya. Uang jutaan itu, lanjut dia, tidak mampu membuat hatinya goyah dan berniat menjual koleksi batu mulianya. Bambang mencintai semua batu miliknya dan tidak ingin memindahkan ke orang lain.

Bukan hanya untuk menghargai pemberian orang, rasa sayangnya yang lebih besar pada batu akik juga membuat dia enggan menerima tawaran uang jutaan. Sampai sekarang Bambang pun masih mencari koleksi batu mulia.

Meski jadi kolektor selama bertahun-tahun dan memiliki koleksi batu langka, Bambang tidak pernah mengikuti kontes. Petugas Lapas Kelas I Surabaya (Porong) itu mengaku masih berkonsentrasi pada pekerjaan dulu. Belum ada pikiran untuk ikut kontes akik. Waktu liburnya diisi dengan berburu akik baru dan berkumpul dengan keluarga.

Bambang menegaskan tidak akan pernah bosan dengan kegiatan mengoleksi batu akik. Meskipun akik nanti tidak setenar sekarang, dia tetap akan menyimpannya. Sama seperti saat orang belum “peduli” dengan akik, dia sudah getol mengoleksi. (may/c9/agm/jpnn)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top