FICER: Ichksan, Pejuang Musik Bambu dari Enrekang – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

FICER: Ichksan, Pejuang Musik Bambu dari Enrekang

Pelbagai bentuk alat musik tiup dari bambu dimainkan sekelompok orang. Berirama, menghasilkan alunan nada indah.

Penulis: Edward Ade Saputra
Enrekang

Lihat Videonya:

Seorang pria paruh baya berdiri mengatur barisan. Di hadapannya, puluhan orang berbaris memegang aneka bentuk dan ukuran alat musik tiup dari bambu. Bagian terdepan diisi pemain seruling. Kemudian diikuti oleh pemain bongke (alat tiup dari bambu yang telah dimodifikasi), mulai dari yang terkecil hingga terbesar.

Bak seorang dirigen sebuah konser, pria yang mengenakan topi tersebut memimpin “orkestra” musik bambu. Seetelah diberi aba-aba, sekelompok orang tersebut pun mulai meniup alat musik yang dipegangnya.

Pertujukan istimewa itu saya saksikan di hutan pinus kaki Gunung Latimojong. Tepatnya di Dusun Way-Way, Desa Latimojong, Kecamatan Buntu Batu, Enrekang.

Saya kemudian menemui sang dirigen. Dia bernama Ichksan. Seorang pejuang musik bambu. Dialah yang mendirikan kelompok musik bambu Setengeh Tiang tersebut. Personelnya berprofesi sebagai petani.

Ichksan merupakan jebolan Akademi Seni Tari (ASTI) Bandung. Dia berhasil mengubah model alat musik bambu yang terkesan tradisonal menjadi modern.

“Perubahan itu wajib, namun tidak mengubah konsep dasar dan esensi alat musiknya. Untuk mengikuti perkembangan kita harus memperbaiki model dan meningkatkan cakupan aliran musik yang bisa dimainkan,” bebernya.

Makanya Ichksan melakukan beberapa perubahan sesuai dengan prinsip seruling modern. Tujuannya agar dapat melantunkan tangga nada yang sempurna.

Menurut Ichksan, dengan menggunakan alat musik bongke, berbagai genre musik dapat dimainkan. Mulai dari pop hingga dangdut. Namun terkesan klasik dengan nada tradisional.

Seorang anggota kelompok musik tersebut yang sering dipanggil Kakek Bolang, mengaku sejak kelas tiga Sekolah Rakyat sudah menguasai alat musik tiup tersebut. “Sekarang hanya sedikit yang mengusainya. Hanya kalangan orang tua seperti saya. Anak muda tidak mau mempelajarinya. Mungkin karena ukurannya yang besar,” katanya sambil mengusap matanya yang berkaca-kaca.

Kakek Bolang berkisah, pada awal 70-an hingga 80-an, banyak yang mengusai alat musim bongke. Mulai dari anak-anak hingga orang tua. “Lima tahun terakhir ini, musik bambu tersebut mulai bangkit. Apalagi mulai diperlombakan pada peringatan HUT Republik Indonesia,” ungkapnya.

Ichksan memiliki harapan alat musik bambu Enrekang dapat dikenal secara luas. “Jadi kalau orang membahas musik bambu, langsung nama Enrekang juga mencuat ke permukaan. Dengan demikian ada tambahan pendapatan bagi para pemain musik,” harap Ichksan menutup pembicaraan.

Dalam perjalanan pulang, saya lamat-lamat mendengar suara musik bambu dari kejauhan. Bersahut-sahutan, memecah keheningan. (*)

loading...
Click to comment
To Top