Masuk Peringkat Ketiga, Akankan Ahok jadi Presiden? – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Masuk Peringkat Ketiga, Akankan Ahok jadi Presiden?

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Popularitas dan elektabilitas Ahok makin moncer. Bukan hanya di Jakarta, tapi sudah menasional. Berdasarkan survei terakhir, jika pilpres dilaksanakan hari ini, gubernur DKI bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama itu akan berada di urutan tiga, di bawah Presiden Jokowi dan Prabowo. Meski begitu sejumlah pengamat menganalisis, jalan Ahok menuju RI-1 masih jauh.

Survei yang digelar Centre For Strategic and International Studies (CSIS) ini dilakukan pada 14 sampai 21 Oktober 2015 di 34 provinsi seluruh Indonesia. Survei dilakukan dengan wawancara terbuka. Ada 1.183 responden yang berhasil diwawancarai. Angka penyimpangan survei diperkiran plus minus 2,85 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Hasilnya, Presiden Jokowi masih berada di puncak dengan dukungan sebesar 36,1 persen. Kemudian disusul Ketum Gerindra Prabowo Subianto dengan dukungan 28,0 persen. Ahok di posisi tiga dengan dukungan 4,9 persen. Urutan empat ditempati Presiden RI ke-6 yang juga Ketua Umum Demokrat SBY yang mendapat 4,8 persen. Sedang di posisi lima ada nama Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang memperoleh dukungan 3,6 persen. Sebanyak 12,8 persen memilih nama lain dan 9,7 persen belum menentukan.

Mengapa nama Ahok bisa menyodok ke depan? “Karena Ahok popular dan kebijakannya mendapat apresiasi publik. Ahok dianggap publik menjadi wajah baru masa depan yang bersih. Itulah mengapa dia ada di urutan ke tiga,” terang peneliti CSIS Arya Fernandez saat merilis surveinya di Hotel Atlet Century Park, Senayan, kemarin.

Kepala Peneliti bidang Politik CSIS Philips Vermonte mengibaratkan naiknya elektabilitas Ahok meluncur seperti lemparan ketapel. “Memang nama Ahok mencuat seperti katapel. Walaupun nama SBY muncul juga,” jelasnya.

Para pakar dan analis politik tidak heran dengan hasil survei ini. Sebab, sejak naik jadi gubernur DKI menggantikan Jokowi setahun terakhir ini, nama Ahok memang semakin banyak diperbincangkan publik.  “Ahok banyak melakukan dan terobosan yang cepat. Ini yang menarik simpati anak-anak muda. Meski sebagian orang menganggap Ahok kasar dan keras, tapi para anak muda suka,” jelas pakar politik Universitas Indonesia Prof Maswadi Rauf, tadi malam.

Kerja dan kebijakan Ahok juga dinilai cukup mengena. Pembangunan rusunawa untuk warga bantaran, bedah sungai untuk antisipasi banjir, pembangunan sodetan, dan juga rencana pembangunan masjid di Balaikota mendapat tempat di hati rakyat.

“Dia punya pembangunan fisiknya bagus, menyentuh rakyat banyak. Orang yang biasa terendam banjir tiap tahun dia pindah ke rusunawa yang biaya murah. Faktor inilah yang membuat namanya melejit,” ucap pakar politik Prof Budiyatna, tadi malam.

Dengan itu, faktor buruk seperti sering marah-marah jadi ketutup. “Omongannya memang kasar, tapi publik melihat dia baik. Dia jujur, ngomong apa adanya, dan tidak korupsi. Jadi wajar elektabilitasnya terus naik. Bukan tidak mungkin nanti dia bisa melampaui Prabowo,” jelasnya.

Meski demikian, bukan berarti Ahok sudah pantas nyapres di 2019. Sebab, Ahok harus bisa membuktinya dulu berhasil di Jakarta dan terpilih kembali menjadi gubernur di Pilgub DKI 2017 nanti. “Jalan masih panjang bagi Ahok. Dia harus menghadapi serangkaian ujian untuk membuktikan diri mampu menjadi pemimpin nasional, termasuk memenangkan Pilgub DKI,” ucap analis politik Universitas Hasanuddin Adi Suryadi Culla, tadi malam.

Adi menilai, survei CSIS itu hanya sebagai gambaran untuk menjaring sosok alternatif. Sedang untuk menentukan nama yang cocok untuk maju di Pilpres, belum bisa. Terlebih, pilpresnya juga masih sangat jauh.

“Terlalu dini untuk menyebutkan Ahok pantas dan bisa maju di 2019. Apalagi Ahok juga masih kontroversi di masyarakat. Suara publik masih mengambang. Jadi, hasil survei itu belum bisa dipakai pegangan untuk 2019,” tandasnya. (rmol)

To Top