Sebelum Nikah Periksa ke Puskesmas – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Sebelum Nikah Periksa ke Puskesmas

KUDUS – Makin banyak warga Kudus yang akan menikah untuk memeriksakan kesehatanya. Hal ini terlihat di Puskesmas Dersalam. Sampai bulan September lalu sudah terdaftar 87 pasangan.

“Memang pemeriksaan ini belum familiar pada masyarakat pedesaan. Dulu masih bayar, kalau sekarang setelah ada perda, pemeriksaannya gratis,” kata Bidan Heny Asmawati SST. Keb, di ruang kerjanya, kemarin siang.
Perda yang dimaksutkan adalah Peraturan Daerah tahun 2001 tentang retribusi pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan. Sebelum adanya perda ini, warga yang ingin periksa diharuskan membayar Rp 30 ribu. Ini pemeriksaan meliputi Imunisasi dan tetanus toxoid agar tidak terjadi cacat janin atau lahir prematur.
“Yang paling baik itu dua kali. Yaitu sebelum dan satu bulan setelah menikah,” terangnya.
Tujuannya secara umum agar setelah hamil anak menjadi sehat karena sudah menjalani imunisasi. Sedangkan tujuan khususnya agar pasangan mengetahui kesehetan alat reproduksinya, kapan hamil menurut kesehatan karena masing-masing umur berbeda sehingga perlakuan berbeda.
Berdasarkan datanya, pasangan paling muda wanita berumur 16 tahun dan pasangannya berumur 30 tahun. Sedangkan pasangan tertua wanita umur 45 tahun dan laki-lakinya 56 tahun.
“Yang paling muda itu baru lulus SMP loh. Jadi kita ingatkan untuk menunda masa kehamilan sampai umur sekitar 20 tahunan. Kalau yang umur 45 tahun itu orangnya masih perawan,” ujarnya sembari tersenyum.
Bidan asal desa Bacin ini mengaku tidak bisa melarang saat wanita yang berumur 45 tahun itu menanyakan ingin hamil meski umurnya sudah lanjut. Permintaan ini karena banyak tetangganya memberikan masukan agar tidak hamil karena sangat rawan pada kondisi tubuhnya.
“Ya saya jawab, tidak ada larangan untuk hamil. Lah dia masih perawan loh bukan janda yang sudah beranak. Dia menikah karena juga ingin punya anak. Ya saya beritahu supaya saat hamil harus rajin konsultasi ke dokter atau puskesmas. Karena hamil diatas usia 40 tahun harus mendapat perhatian khusus. Misalnya gizi dan kondisi kesehatan si calon ibu,” paparnya. (sf)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top