CATATAN: Media Pers, Masih Netralkah Pada Pilkada Serentak ? – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

CATATAN: Media Pers, Masih Netralkah Pada Pilkada Serentak ?

Ada yang berbeda dalam Pilkada serentak kali ini. Media Pers yang selama ini diharapkan netral, pada gelisah. Kegelisahan pers itu terungkap dalam pertemuan sejumlah media dengan Ketua Dewan Pers, Prof. Bagir Manan di ruangan Rapat Harian Fajar, kemarin.

Dewan Pers selama ini telah menerima banyak keluhan dari daerah-daerah.  Itulah sebabnya Prof Bagir Manan selaku Ketua Dewan Pers merasa perlu berkunjung ke daerah-daerah untuk mempertegas fungsi pers, khususnya dalam pilkada serentak kali ini.

Di Sulsel ada 11 kabupaten yang akan menyelenggarakan Pilkada serentak. Dari bagian selatan ada Kabupaten Gowa, Bulukumba, dan Selayar. Sedang di bagian utara, ada Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, Soppeng, Luwu Utara, Luwu Timur, Toraja Utara, dan Toraja. Sekarang para calon sudah bermunculan dan sudah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum. Pilkada serentak dijadwalkan berlangsung pada bulan Desember tahun ini.

Perbedaan dalam Pilkada serentak kali ini jika dibandingkan Pilkada sebelumnya, yaitu para calon tidak bebas lagi mengampanyekan dirinya. Tidak bebas memuat iklan di suratkabar atau media komunikasi lainnya. Iklan-iklan yang akan dimuat akan diatur oleh KPU. Termasuk menentukan media mana yang digunakan. Yang ramai adalah munculnya tim-tim survei. Masing-masing tim survei saling mengunggulkan calonnya.

Akibat lain, ada hal yang baru dan unik, ketika ada calon yang menjelang Pilkada ini, membuat koran sendiri. Bahkan kondisi di daerah lain ada pemilik koran yang menjadi calon. Maka muncullah cara lain untuk menghindari ketentuan KPU. Bisa saja dilakukan pemberitaan yang didesign sebagai iklan terselubung.

Dalam hal koran tanpa iklan Pilkada, maka media pers, ada yang melakukan kebijakan irit biaya. Mungkin saja ada yang menghilangkan rubrikasi Pilkada serentak. Bisa saja oplag koran dicetak sesuai kebutuhan. Berita pilkada hanya dimuat yang menjadi pilihan. Tidak salah kalau media pers memberitakan track record calon, termasuk calon yang tidak memiliki track record.

Apakah itu dianggap pers memihak? Dalam keadaan irit biaya, maka media pers akan selektif sekali memilih berita. Media Pers pasti ada yang akan berpihak kepada tema kampanye setiap calon. Bagi pers, menilai mana tema yang menarik dan tema yang tidak menarik. Kalau pers memilih tema yang menarik saja, dan mengesampingkan tema yang tidak menarik, apakah itu dianggap pemberitaan yang tidak netral?  Pers pasti akan memilih peran dan pemberitaan yang objektif dan disertai dengan fakta. Kalau itu terpenuhi, maka bagi pers akan jalan dengan prinsip itu, dan mereka pasti akan membela diri kalau ada anggapan yang menyebutnya tidak netral. Ketua Dewan Pers sendiri, Prof Bagir Manan tidak sependapat kalau pers netral dan independen itu diterjemahkan sebagai pers yang memuat pemberitaan yang sama untuk semua calon. Tapi pemberitaan pers haruslah yang objektif dan dengan fakta.

Pada dasarnya iklan di media itu akan berfungsi sebagai penyeimbang. Iklanlah yang bisa menambah informasi yang kurang dari pemberitaan media. Tapi karena kebijakan KPU kali ini yang tidak membolehkan calon beriklan, maka bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Bisa muncul prediksi macam-macam.

Namun prediksi yang bisa muncul sebagai dampak kebijakan KPU dalam Pilkada serentak ini, adalah sbb: satu, tingkat partisipasi masyarakat bisa berkurang, karena media melakukan irit informasi pilkada. Kedua, diprediksi akan muncul berita-berita pilihan yang berpihak kepada tema. Bisa saja ada calon yang tidak terekspos karena dianggap temanya tidak menarik media. Ketiga, akan sulit dibendung untuk munculnya koran-koran dadakan yang hanya memberitakan salah satu calon saja. Koran dadakan itu akan selesai tugasnya ketika pilkada berakhir. Apalagi, kalau calon yang diprioritaskan dalam beritanya, kalah dalam pilkada. Begitulah prediksi yang bakal terjadi. Benar atau salah kita lihat saja nanti.

Tapi kendati demikian, Pilkada serentak bisa berjalan baik, kita harapkan sukses sebagai bagian dari usaha membangun demokrasi yang sehat, aman dan menghasilkan pemimpin terbaik untuk daerah. (Penulis: Syamsu Nur)

Click to comment
To Top