Perjalanan Neni Moerniaeni dalam Memperjuangkan Infrastruktur Masyarakat Pesisir – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Perjalanan Neni Moerniaeni dalam Memperjuangkan Infrastruktur Masyarakat Pesisir

FAJAR.CO.ID – MENJADI pelayan masyarakat memang sudah menjadi tekad dr Hj Neni Moerniaeni. Itu dibuktikan dengan terjun menjadi dokter setelah menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Keinginan menjadi dokter karena didorong keinginan melayani masyarakat tidak mampu yang seringkali luput dari pelayanan kesehatan optimal.

Sayangnya, pelayanan kesehatan tak hanya bisa optimal dengan sumber daya kesehatan yang memadai. Akan tetapi, juga harus didukung dengan kebijakan. Menjadi pelayan kesehatan di masyarakat ternyata tidak bisa memberi konstribusi maksimal dari sisi kebijakan.

Bunda Neni, begitu dia akrab disapa kemudian memutuskan terjun ke dunia politik. Keputusan ini tentu saja tak lepas dari keinginan melayani kebutuhan masyarakat dengan berjuang dari sisi kebijakan. Partai Golkar kemudian menjadi tempat  Bunda Neni berlabuh.

Berkat kepercayaan rakyat Bontang, Bunda Neni kemudian terpilih menjadi anggota DPRD Bontang. Jabatan Ketua DPRD Bontang pun diberikan padanya. Kepercayaan ini kemudian tidak disia-siakan. Berbagai kebijakan dilakukan. Antara lain, mendukung keseimbangan pemerintahan, sehingga bisa lebih bekerja fokus untuk rakyat.

Selain itu, yang paling terasa adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang bisa melayani masyarakat Pulau Gusung, Kelurahan Guntung, Kecamatan Bontang Utara. Bahkan, PLTS tersebut juga dibangun di kawasan masyarakat pesisir lainnya, seperti di Tihi-tihi dan Lok Tunggul.

“Awalnya, PLTS ini hanya dibangun untuk rumah ke rumah. Makanya saya mendorong pembangunan PLTS yang bisa mengkover secara komunal, sehingga bisa menjangkau lebih banyak masyarakat,” ujar Bunda Neni.

Tapi kemampuan daerah yang terbatas membuat Bunda Neni berpikir lebih jauh. Maklum, anggaran daerah jika ingin mensejahterakan masyarakat mesti ditopang dana dari pusat dalam bentuk dukungan APBN. Mengandalkan APBD semata membuat harus lebih banyak bersabar untuk bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.

[NEXT-FAJAR]

Ia pun mencalonkan diri menjadi anggota DPR RI. Melalui Partai Golkar, Bunda Neni yang berada di nomor urut 5 berhasil mendapatkan kepercayaan publik. Ia meraih 61.405 suara. Perolehan suara tersebut menjadi bukti bahwa dukungan masyarakat pada dirinya cukup tinggi, sehingga menjadi modal yang cukup membanggakan untuk melenggang ke Senayan. Melalui penugasan partai, ia duduk di Komisi VII DPR RI yang membidangi Energi, Riset dan Teknologi serta lingkungan hidup.

“Ini sungguh penugasan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di daerah pemilihan saya,” ujar Bunda Neni menyambut tanggung jawab duduk di Komisi VII.

Ia pun bergerak cepat untuk memperjuangkan apa yang menjadi aspirasi masyarakat di daerah pemilihannya. Salah satunya adalah perimbangan keuangan pusat dan daerah yang selama ini dianggap tidak adil. Utamanya, antara daerah penghasil, daerah pengolah dengan pemerintah pusat.

Meski belum cukup setahun, gelontoran anggaran pusat ke Bontang sudah meningkat signifikan. Sayangnya, peningkatan APBD tidak didukung dengan kemampuan pemerintah daerah mendorong serapan anggaran. Akibatnya, sisa lebih penghitungan anggaran (SILPA) justru sangat tinggi, yakni mencapai Rp345 miliar.

Persoalan ini kemudian memanggil Bunda Neni kembali untuk memimpin Bontang. Menjadi anggota DPR RI tentu menjadi jabatan yang prestisius baginya. Tapi Bunda Neni tak pernah mengejar prestisius. Ia lebih memilih berada di tengah-tengah masyarakat Bontang. Kembali untuk melayani untuk memastikan kehidupan masyarakat Bontang lebih baik. (rls)

Click to comment
To Top