Dalam Eksepsi, Ilham Merasa Menjadi Korban Politik – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Hukum

Dalam Eksepsi, Ilham Merasa Menjadi Korban Politik

FAJAR.CO.ID, JAKARTA–Terdakwa kasus dugaan korupsi PDAM Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin merasa telah menjadi korban politik. Apa yang dialaminya hingga saat ini adalah buah dari eksistensinya sebagai politikus di Sulsel. Hal ini dikemukakan Ilham Arief Sirajuddin dalam eksepsinya terhadap dakwaan KPK, pada sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Kuningan Jakarta, Kamis 29 Oktober 2019.

Dalam eksepsinya, Ilham sependapat dengan statement heroik yang  dilontarkan politisi senior, Bang Akbar Tanjung ketika dibebaskan oleh Mahkamah Agung RI. Bahwa suatu konsekwensi seorang politisi atau pejabat publik adalah menikmati jarak antara “Istana“ dan “Penjara“ yang hanyalah setipis kulit ari.” Itu bermakna untuk menjatuhkan seorang politisi atau pejabat publik seperti Ilham, maka cara yang paling empuk adalah membuatkan masalah hukum.

“Itulah yang dialami oleh Terdakwa saat ini, terdakwa telah menjadi korban konspirasi politik lokal dan telah menjadi korban ketidakadilan yang telah diperlakukan secara tidak adil dan diskriminatif oleh Sdr. Jaksa Penuntut umum,” bunyi eksepsi yang dibacakan PH Ilham secara bergantian.

Alasan Ilham merasa menjadi korban politik, bisa dilihat dari proses penetapan tersangka yang luar biasa.
“Pertama, terdakwa ditetapkan sebagai tersangka pada Rabu, 7 Mei 2014, tepat pada hari terakhir masa jabatan sebagai Walikota Makassar. Apakah memang KPK dengan sengaja ingin mempermalukan Terdakwa…..???? Kalau memang iya,  Kehendak mempermalukan itu sangat sukses. Karena sehari setelahnya, yaitu pelantikan Walikota yang baru, kegiatan tersebut hanya diisi oleh isak tangis semata. Padahal, bukankah seharusnya hari itu menjadi hari bahagia Klien kami dengan masyarakat? Mengapa KPK tidak bisa menunda mengumumkan status tersangka sehari saja? Padahal, KPK dengan entengnya menggantung status Tersangka mantan Walikota ini, bahkan Terdakwa selama satu tahun tidak pernah diperiksa sebagai Tersangka.”

Yang kedua, sebelum terdakwa ditetapkan menjadi Tersangka tepatnya pada hari Rabu, tanggal 7 Mei 2014,  jauh sebelum itu yaitu pada tanggal 8, 9, dan 10 Januari 2013 melalui media massa lokal di Makassar, Terdakwa sudah diiklankan sebagai orang orang yang yang dicari KPK  dengan iklan yang berbunyi : “Jangan pilih Calon Gubernur yang di cari KPK”, dengan latar belakang gambar kran air, padahal pada saat itu Terdakwa sedang mencalonkan diri sebagai Gubernur Sulawesi Selatan.

Majelis Hakim Tipikor memutuskan melanjutkan sidang Ilham Arief Sirajuddin pada 5 November mendatang. Ilham Arief Sirajuddin oleh JPU KPK didakwa merugikan negara sebanyak Rp 45,9 miliar dalam kasus korupsi instalasi pengolahan air PDAM Makassar. Dari total duit korupsi tersebut, Ilham menikmati duit sebanyak Rp 5,5 miliar.

Terdakwa melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain yakni memperkaya diri Rp 5,5 miliar dan Hengky, pemilik PT Traya dan PT Traya Tirta sejumlah Rp 40,33 miliar.

Atas tindak pidana tersebut, Ilham dijerat Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 atau Pasal 3 jo 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana. (hrm)

loading...
Click to comment
To Top