Menanti Duel Dua Pelatih Jenius – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Menanti Duel Dua Pelatih Jenius

FAJAR.CO.ID, LONDON – Bentrok Jose Mourinho dengan Juergen Klopp sudah dinantikan di Premier League sebulan terakhir ini. Tepatnya saat Liverpool merekrut Klopp per 8 Oktober lalu. Tetapi, perjumpaan pertama kedua pelatih itu di balik laga Chelsea menjamu Liverpool di Stamford Bridge, malam nanti, juga bisa jadi yang terakhir.

Karena, apabila hasil buruk kembali menghinggapi The Blues dalam laga di pekan ke-11 itu maka Mou harus bersiap kehilangan posisinya.

Sebab, gagal mengamankan tiga angka di kandang sendiri maka Chelsea harus bersiap untuk mendekati papan bawah klasemen sementara Premier League.

Andaikan kekalahan yang berujung pemecatan Mou itu terjadi, maka Premier League akan merindukan perang urat syaraf yang kerap jadi ciri khas Mou.

Bukan hanya kepada Arsene Wenger, Manuel Pellegrini, dan Louis Van Gaal, musim ini pun Klopp juga akan merindukan psy war itu.

Hingga pekan ke-10, Mou gagal membawa juara bertahan Premier League itu untuk naik dari posisi 15 dengan hanya mengemas 11 poin.

Dengan kata lain, masa depan pria yang berkebangsaan Portugal itu di Chelsea berada di tangan Klopp.

“Saya menaruh respek penuh dengan kinerjanya,” ujar Klopp dalam sesi konferensi pers, Jumat kemarin waktu setempat (30/10).

Klopp memang pantas merindukan pertemuannya dengan Mou. Karena, sepanjang dia menjadi pelatih baru empat kali Klopp merasakan bagaimana melawan racikan strategi dari pelatih berjuluk The Special One itu.

Itu didapatkannya selama membesut Borussia Dortmund.

Dan semuanya terjadi pada musim 2012-2013. Di Liga Champions, dua kali Klopp dan Dortmund-nya mempermalukan Mou. Ketika itu, Mou memegang kendali di kursi pelatih Real Madrid.

Secara keseluruhan, dari empat kali pertemuan itu, Mou hanya mencuri satu kemenangan dan satu lainnya berakhir imbang. Skor akhir 2-1 untuk Klopp.

Demi gengsi dan posisinya di Chelsea yang sudah dihuninya sejak 3 Juni 2013 silam, maka Mou bisa saja memperjuangkan tiga angka bagi timnya. Itu sama artinya dengan menyamakan ketertinggalannya secara head to head dengan pelatih yang kemudian terkenal dengan The Normal One itu.

Sementara, Klopp juga tidak ingin tren tiga angkanya saat mengalahkan Bournemouth di Capital One Cup, Kamis kemarin (29/10) tidak berlanjut di Premier League.

“Emosional bagi Mou, emosional pula bagi saya. Tetapi, saya tegaskan tidak akan ada perseteruan apapun di antara kami,” ungkap pelatih yang mengawali karir melatihnya di Mainz 05 itu.

Dilansir dari BBC, Klopp lantas menceritakan sisi-sisi yang menonjolkan kerinduannya untuk beradu taktik dengan Mou.

“Ketika saya masih di Jerman, kadang kami saling berkirim pesan pendek. Saya bisa yakinkan, dia orang baik, setidaknya bagi Anda yang bukan jurnalis atau wasit. Saya bukan termasuk salah satunya, jadi kami masih bagus komunikasinya,” sebut Klopp.

Periode trouble Chelsea sebenarnya sudah tercium sejak lima laga pertama di Premier League. Dari lima laga, hanya empat poin didapatkan dari satu kemenangan, sekali imbang dan tiga lainnya menjadi pecundang.

Lantas, mengapa Roman Abramovich tetap membiarkan kursi itu untuk Mou sampai kekalahan kelima sepekan lalu atas West Ham (24/10)?

Selain masih berharap Mou membangkitkan Chelsea-nya lagi, keharusan Abramovich untuk membayar kompensasi kepada Mou menjadi alasan lain.

Dengan durasi kontraknya yang berjalan hingga musim panas 2019 mendatang, jika memutus kontrak di tengah jalan maka Chelsea harus membayar kompensasi antara GBP 30 juta hingga GBP 37,5 juta. Jumlah itu sama nilainya dengan Rp 626,9 miliar hingga Rp 783,6 miliar.

Apalagi, secara terbuka Mou dalam pernyataan resminya tadi malam sudah lempar handuk untuk mendongkrak performa John Terry dkk.

Jangankan untuk mempertahankan mahkota juara, untuk mengamankan zona Liga Champions saja sulit.

“Saya tidak bisa janjikan itu (Liga Champions musim depan, Red),”cetusnya, sebagaimana dikutip di Telegraph.

Dalam perbincangannya kepada Mirror, Mou menyatakan antara dirinya dan Klopp tidak ada hubungan spesial.

“Saya tidak berteman dekat dengannya, karena di sepak bola hal itu tidak dibolehkan. Tetapi, saya kenal baik dengannya. Saya yakin dia salah satu pelatih top dunia,”pujinya.

Secara gamblang, Mou mengomentari masa depan Klopp yang akan gemilang di Premier League. Menurutnya, Liverpool sudah punya bekal komposisi yang bagus, ditambah lagi dengan pelatih seperti Klopp maka Mou memprediksi kekuatan The Anfield Gang bakal jadi salah satu raksasa Premier League kembali.

Akan tetapi, begitu ditanyai bagaimana masa depannya di Chelsea, mantan pelatih Real dan Inter Milan itu langsung terdiam seribu bahasa.

“Kalau soal itu (masa depan di Chelsea, Red), saya tidak akan memberi tahumu,”tegasnya, sebagaimana yang dilansir dari RTE.

Hanya, menurut dua mantan Liverpool yang sekarang sudah berprofesi sebagai pundit di Sky Sports, Jamie Carragher dan Harry Redknapp, sepakat menyebut pemecatan Mou bukanlah solusi terbaik bagi Chelsea.

“Meski sudah punya awal musim mengerikan, dia terlalu bagus untuk dipecat di awal musim,” sebut Carragher.

Dia kemudian menganalisis kekalahan Chelsea yang tidak lepas dari factor non teknis. Di saat sudah bangkit usai menang atas Aston Villa (17/10), Chelsea tumbang di tangan West Ham hanya karena factor kedisiplinan pemainnya sehingga mereka harus bermain 10 orang.

Pun demikian di balik kekalahan memalukan atas Stoke City di Capital One Cup (28/10), Chelsea mampu mendominasi sepanjang laga. Penentunya pun dari titik putih. Chelsea kalah via adu penalty 4-5 setelah berimbang 1-1 dalam waktu normal.  “Saya rasa semua ini hanya karena factor luck saja,” tandasnya.(ren/JPG)

loading...
Click to comment
To Top