Satpol-PP Tertibkan Warung Remang-remang – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Satpol-PP Tertibkan Warung Remang-remang

BATANG – Polisi Pamong Praja Kabupaten Batang mengadakan razia dan menertibkan warung remang-remang di kompleks lokalisasi liar di Desa Surodadi, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Senin (2/11) pagi. Razia digelar bersama ADM dan Pohut Perhutani, FKPPI, Ormas keagamaan, dan anggota Koramil Gringsing di bawah pengamanan pasukan Dalmas Polres Batang.

Lokalisasi yang menempati lahan milik Perhutani ini lebih dikenal dengan nama Njentolsari memang sudah menyalahi aturan dan perjanjian sebelumnya yang hanya memperbolehkan sebagai warung kopi dengan ukuran 4X6 meter tanpa sekat atau kamar tertutup di dalamnya tetapi pada kelanjutannya justru berkembang menjadi warung plus-plus yang menyediakan wanita penghibur dengan bangunan tertutup rapat melebihi ukuran. Penertiban berjalan tertib dan lancar. Tidak ada protes ataupun gangguan lain dari pemilik warung.
Bupati Batang Yoyok Sudibyo yang turut hadir bersama Wakapolres Batang Kompol Ponco bersama sejumlah perwira serta Kasdim 0736/Batang Mayor May Artantyo dan Muspika Kecamatan Gringsing mengatakan akan membabat habis prostitusi di Kabupaten Batang. “Selama saya menjabat, prostitusi dan sejenisnya akan dilarang. Saya dengar katanya disini telah menyalahi perjanjian. Dulu izin ke Perhutani hanya untuk buka warung kopi tapi ternyata sekarang malah menjadi warung plus-plus yang menyediakan wanita penghibur dan miras. Selanjutnya lahan ini harus difungsikan kembali sebagai lahan Perhutani dan tidak boleh ada warung lagi,” ujar bupati.
Menurutnya, sebelum akhir masa jabatannya, dirinya akan mengeluarkan surat yang isinya tentang pelarangan adanya warung di lahan milik Perhutani ini. “Saya sudah menertibkan tempat ini dua kali dan tetap akan ada lagi. Bukan hanya di Njentolsari tetapi seluruh tempat maksiat akan saya larang,” kata bupati.
Bupati tidak menyangkal bahwa penutupan Gang Dolly beberapa waktu lalu membawa dampak eksodus sejumlah PSK ke beberapa wilayah termasuk Batang. Saat ditanya apa solusi setelah warung dibongkar dan pemilik tidak punya usaha lagi, Bupati menjawab belum memikirkan itu.
Sedangkan ADM Perhutani mengatakan tidak pernah menarik uang sewa ataupun retribusi dari warung yang jumlahnya ratusan itu. “Kami dulu memperbolehkan pendirian warung kopi semata hanya demi kemanusiaan. Tidak tahunya malah disalahgunakan,” kata pihak Perhutani.
Sementara Kepala Satpol PP Batang Ulul Azmi mengatakan sudah memberikan surat peringatan 23 Oktober yang lalu tetapi tidak diindahkan sehingga Satpol PP turun tangan sendiri dan membongkar paksa. Hal ini tidak dibantah salah seorang pemilik warung yang mengaku telah menerima surat peringatan sebelumnya. (feb)

loading...
Click to comment
To Top