Bunuh Aktivis Karena Dijanji Dibayar Rp2 Juta – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Bunuh Aktivis Karena Dijanji Dibayar Rp2 Juta

DEMAK – Polisi terus mengusut kasus tewasnya aktivis lingkungan Abdul Jamil, petani di Desa Bungo, Kecamatan Wedung, Kabupaten, Demak, Jawa Tengah. Jamil selama ini dikenal sebagai aktivis lingkungan. Dia cukup kritis dan memprotes pekerjaan pembangunan pengerukan sungai yang dinilai tidak benar. Dalam kasus ini, polisi telah mengamankan seorang PNS berinisial Sl dan rekannya, Sa (45).

Sa mengaku lega setelah dibekuk oleh Satuan Reserse Kriminal Polres Demak setelah aksi buronnya dua pekan itu kandas di wilayah pesisir Kabupaten Kendal.
“Saya membunuh Pak Jamil karena dendam lama yang hampir delapan tahun,” ucap Sa saat dihadirkan gelar perkara di ruang aula Satreskrim Polres Demak, Rabu (4/11) siang.
Sa yang juga kerabat dekat korban menceritakan aksinya saat insiden pembunuhan tragis terhadap aktivis lingkungan Jamil waktu itu. Dia mengaku diajak oleh Sl untuk menghabisi dengan diiming-imingi uang sebanyak Rp2 juta, meski pada akhirnya usai melakukan tugasnya dirinya hanya diberi Rp400 ribu
“Saya membunuh Pak Jamil karena diajak oleh Pak L (Sl) dan akan diberi imbalan uang sebanyak Rp2 juta, setelah selesai saya hanya diberi Rp400 ribu,” jelasnya.
Meskipun diberi uang segitu, Sa juga merasa puas setelah sang aktivis lingkungan Jamil dibantai secara sadis olehnya. Bahkan menurut Saimun, setelah ditemukannya mayat Jamil usai insiden pembunuhan tragis itu, Sa juga turut serta melayat sekaligus mengangkat keranda jenazah hingga ikut mengubur, baik mulai dari menggali liang lahat korban, menggotong mayat korban dan berdoa di pemakaman korban.
“Semasa hidup Pak Jamil selalu mengganggu atau merebut lahan pekerjaan saya sebagai jasa ngedos (penggiling padi, red) di sawah,” ungkapnya.
Kaporles Demak AKBP Heru Sutopo, SIK menjelaskan Sa merupakan tersangka susulan setelah diamankan tersangka Sl oleh pihak Polres Demak.
Sa ini dibekuk oleh jajaran Satreskrim Polres Demak di wilayah pesisir Kabupaten Kendal pada Selasa (27/10) dinihari pukul 01.00 WIB. Penangkapan Sa ini atas pengembangan penyelidikan pihak kepolisian serta upaya tindak lanjut dari laporan masyarakat.
Tersangka Sa ini dalam melakukan aksinya bertindak melakukan pemukulan dengan gancau di bagian kepala dan menuangkan cairan kimia melalui mulut korban hingga menghilangkan nyawa korban.
Heru juga menuturkan bahwa dari keterangan yang didapat, kedua tersangka pembunuh Jamil itu tercatat sangat disegani di desanya, karena prilakunya yang kurang baik di lingkungan masyarakat.
“Informasi yang kami kembangkan, keduanya ini terkenal preman. Mereka ditakuti di desanya. Keduanya dikenai sanksi pembunuhan berencana,” kata Heru.
Dari hasil penyelidikan sementara menyebutkan jika kematian Jamil erat hubungannya dengan bentuk protes Jamil terhadap proyek pengerukan lahan irigasi di dekat lahan pertanian milik Jamil. Pengerukan irigasi menggunakan satu alat berat untuk keperluan pengairan lahan pertanian itu, diketahui telah menyentuh sawah milik Jamil.
“Jadi saat itu Jamil menegur karena lahan sawahnya terkena kerukan, apalagi ada aktivitas jual beli tanah tak berizin di situ. Jamil marah dan kemudian bersitegang dengan tersangka, lalu dibunuh. Pembunuhan direncakan karena thinner dan semuanya sudah disiapkan,” tuturnya.
Dari pantauan Rakyat Jateng, Polres Demak masih melakukan pengembangan atas kasus pembunuhan tragis di Desa Bango Kecamatan Wedung itu untuk mengusut tuntas para pelakunya.
Untuk sementara kedua orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka yaitu Soleman dan Saimun, mendekam di jeruji besi Polres Demak untuk kepentingan penyidikan.
Seperti diberitakan sebelumnya, Abdul Jamil, petani di Desa Bungo, Kecamatan Wedung, Kabupaten, Demak, Jawa Tengah, tewas dibunuh seorang pegawai negeri sipil (PNS), Sl. Jamil dikenal kritis dan memprotes pekerjaan pembangunan yang dikerjakan Soleman sebagai rekanan pengerukan sungai yang dinilai tidak benar.
“Dia itu ya petani, pengurus kelompok tani, ya hansip. Orangnya baik, kritis, kalau ada yang tidak benar ditegur,” kata kerabat korban, Masudi.
Mashudi menyatakan Abdul Jamil dikenal baik di lingkungannya, termasuk sikap kritis jika ada sesuatu yang salah di desa. “Ia tak segan untuk menegur bila ada pekerjaan pembangunan yang salah dan merugikan warga,” kata Masudi menambahkan.
Jamil dibunuh Sl yang bekerja sebagai PNS Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Kabupaten Demak. Sl merupakan warga satu desa tempat tinggal Abdul Jamil. “Keduanya tidak pernah memiliki masalah. Hanya karena kritik soal pengerjaan pengerukan sungai,” kata Marsudi.
Sl mengaku kesal dengan cara mengkritik yang dilakukan dengan marah-marah. Dia kemudian mengajak rekannya untuk membunuh Jamil. “Pak Jamil marah-marah, saya pukul duluan. Di susul rekan saya pakai bagian belakang ganco (sejenis cangkul) ke arah kepala belakang,” kata Sl.
Ia mengaku tak hanya memukul kepala bagian belakang, tapi juga menjerat leher korban dengan pelepah pisang kering kemudian meminumkan tiner yang ditempatkan di botol air mineral. Seusai membunuh mereka kemudian meletakkan korban di sawah milik korban.
Keluarga Abdul Jamil menemukan jenazah sehari setelah pembunuhan terjadi pada 16 September 2015. Pada 11 Oktober 2015, polisi menangkap tersangka Sl di rumahnya. (fiz)

loading...
Click to comment
To Top