Waduh, Luhut Binsar Ngamuk Mau Bakar Rumah – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Hukum

Waduh, Luhut Binsar Ngamuk Mau Bakar Rumah

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Warga Jalan Setia Budi/Kapten Sumarsono, Desa Helvetia, Kecamatan Sunggal, DeliSerdang, mendadak berhamburan keluar rumah, kemarin (4/11) siang. Pasalnya, Luhut Binsar Simanjuntak (45), mengamuk dan nyaris membakar rumahnya dengan meledakkan tabung gas elpiji. Aksi itu dilakukannya karena menolak rumah peninggalan orang tuanya dieksekusi Pengadilan Negeri Lubukpakam.

Awalnya petugas juru sita PN Lubuk pakam Arhalim Pasaribu, membacakan putusan PN Lubukpakam terkait kepemilikan rumah seluas 213 meter persegi. Sebab, berdasarkan putusan pengadilan, Luhut tak berhak lagi menempati rumah milik orangtuanya itu karena tak sanggup membayar utang yang dipinjamnya ke bank hampir Rp200 juta.

Usai membacakan putusan, Luhut diberi waktu 15 menit untuk melakukan pengosongan sendiri barang-barangnya. Tetapi, Luhut meminta kepada pihak PN Lubukpakam agar tidak dilakukan eksekusi dikarenakan sedang melakukan permohonan Peninjauan Kembali (PK) ke PN Lubukpakam. Meski begitu, pihak pengadilan menjelaskan eksekusi tetap harus dilaksanakan.

Petugas kemudian melakukan eksekusi sekira pukul 10.35 WIB, yang dilaksanakan tim eksekutor. Namun saat dilakukan pengosongan, Luhut yang menenakan baju taekwondo menyemprotkan gas air mata ke arah petugas dan personel kepolisian. Beruntung, aparat hukum dapat menghindar.

Setelah menyerang petugas, Luhut langsung masuk ke rumah dan menuju dapur. Selanjutnya, dia kembali dan membawa tabung gas ukuran 3 Kg. Luhut kemudian mengancam petugas akan meledakkan rumahnya jika tetap dieksekusi.

Mengetahui itu, aparat hukum pun berusaha menenangkan Luhut. Akhirnya, Luhut berhasil ditenangkan polisi dan selanjutnya diungsikan ke rumah keponakannya, Niko Sinaga, yang tak berada jauh. Eksekusi pun dilakukan dan petugas mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam rumah.

[NEXT-FAJAR]

Seorang warga setempat bernama Rina menyebut, Luhut memiliki utang di bank dan surat rumahnya digadaikan. Karena tak sanggup membayar, rumahnya disita.

“Setahu saya, dia punya utang sama Bank tapi enggak dibayar-bayarnya sampai 6 tahun. Terus, pas dieksekusi dia menolak dan melawan. Itulah sempat mau meledakkan rumahnya pakai tabung gas. Tapi, untungnya polisi cepat, kalau enggak pasti terjadi kebakaran,” kata Rina.

Menurut Rina, rumahnya digadaikan ke bank untuk membiayai masalahnya. Pasalnya, Luhut mendekam di sel tahanan karena melakukan penipuan terhadap seorang pria keturunan Tiongkok.

“Dia itu kurang bermasyarakat, padahal termasuk penduduk yang lama juga di sini. Dia sudah tinggal di rumah itu sekitar 15 tahunan,” tuturnya.

Dikatakan Rina, sebelum eksekusi dilakukan, Luhut sempat membawa kayu dan berjalan bolak-balik di depan rumahnya. “Sempat bolak-balik bawa kayu di depan rumahnya sampai lima kali. Entah apa maksudnya kami pun enggak tahu, padahal di situ dilihat polisi yang datang duluan. Saya rasa dia uda stress,” ucapnya.

Sementara itu, Boru Manurung menantu M Purba yang turut menyaksikan eksekusi rumah tersebut mengatakan, keluarganya telah memberikan kompensasi uang dan waktu kepada Luhut. Akan tetapi, Luhut menolaknya.

“Mertua saya (M Purba) sudah baik sama dia. Setelah dibeli dari lelang di bank, kami memberikan tawaran uang Rp70 juta untuk segera mengosongkan. Tetapi, dia tetap juga tak mau pindah,” kata Boru Manurung yang bekerja sebagai PNS Puskesmas Helvetia ini.

Dijelaskannya, sebelum eksekusi dilakukan, keluarganya telah memberi waktu 1 tahun untuk pindah. Namun, tetap juga tak mau mengosongkan. “Rumah itu dibeli seharga Rp200 juta dari lelang di bank. Jadi, Luhut menggadaikan surat rumahnya tetapi tak mampu membayar,” sebut Boru Manurung.

[NEXT-FAJAR]

Wakapolsek Sunggal AKP Trila Murni yang ditemui di lokasi eksekusi mengatakan, pihaknya hanya melakukan pengamanan karena diminta bantuan pihak pengadilan. Memang penghuni rumah sempat melawan tetapi berhasil diamankan. “Anggota tidak ada yang terluka dan kita langsung mengamankan penghuni rumah,” ujarnya.

Dikatakan Trila, sesuai putusan pengadilan rumah yang dieksekusi telah sah menjadi milik M Purba. (ris/adz/JPG)

loading...
Click to comment
To Top