Delapan Tahun Jadikan Anak Kandungnya Budak Seks – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Delapan Tahun Jadikan Anak Kandungnya Budak Seks

FAJAR.CO.ID, MUAROSIJUNJUNG – Perbuatan keterlaluan YN, 51, warga Sijunjung menjadikan anak kandungnya ”budak seks”, akhirnya dihukum berat oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Muarosijunjung, Sumatera Barat. Bapak ”rutiang” tersebut dihukum 19 tahun penjara dan denda Rp 60 juta.

Terdakwa yang memiliki tiga anak tersebut, terbukti melakukan tindakan tidak bermoral terhadap anak kandungnya sendiri sejak masih kecil. Terhitung, hampir selama 8 tahun terdakwa menjadikan anak kandungnya pemuas napsu bejatnya. Bahkan, terdakwa sudah memiliki anak dari anak kandungnya tersebut.

Biarpun begitu, vonis yang dibacakan Hakim Ketua Yudistira Agung, dan Hakim Fahatimah Ranum pada sidang putusan kemarin (5/11), lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang diketuai Gusti Nengsari. Dalam sidang sebelumnya, JPU menuntut terdakwa 20 tahun penjara. Itulah sebabnya, JPU memilih pikir-pikir atas putusan majelis hakim ini sebelum memutuskan banding atau tidak.

Sekadar diketahui, berdasarkan hasil pemeriksaan penyidik unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sijunjung, tersangka YN mulai melakukan perbuatan bejatnya tersebut tahun 2007 lalu. Saat itu, Bunga (bukan nama sebenarnya, red) masih berumur 11 tahun. Kejadian berawal sekitar bulan Desember tahun 2007, saat itu korban masih tidur satu kamar dengan tersangka dan istrinya berinisial MR, 51.

Menurut pengakuan korban, waktu itu terdakwa kerap meraba-raba alat kelaminnya. Entah apa yang ada dalam pikiran terdakwa, dia akhirnya nekat mencabuli anaknya waktu itu baru memasuki usia 12 tahun. Seiring semakin bertambahnya usai korban, perbuatan terdakwa semakin menjadi-jadi. Korban tak bisa berbuat banyak, karena selalu diancam terdakwa.

Meski dirinya memiliki cerita miris, namun Bunga tetap mampu menyelesaikan sekolahnya hingga jenjang SLTA dan sudah memiliki pacar. Namun, penderitaan Bunga belum juga berakhir. Dia masih tetap dijadikan ”budak seks” bapaknya hingga Bunga hamil.

Waktu itu, korban sempat diusir warga sekitar karena kehamilannya tanpa suami itu. Setelah diusir, korban tinggal dan menetap di kabupaten tetangga. Bukannya melindunginya, terdakwa masih mengejarnya ke luar daerah dan kembali mengulang perbuatan bejatnya.

Meski pacarnya mengetahui Bunga hamil, sang pacar tetap memutuskan menikah waktu usia kehamilan korban memasuki tiga bulan. Namun tidak resmi, melainkan menikah di bawah tangan. Salah satu tujuan korban menikah, guna membebaskan dirinya dari keinginan bejat bapaknya. Tetapi, kedaan itu tetap saja tak menghalangi terdakwa melampiaskan napsu bejadnya.

Kepada penyidik, korban juga sempat bercerita bahwa perbuatan bapaknya itu pernah diceritakan kepada ibunya (MR, red). Namun, sang ibu tidak terlalu menanggapinya. Korban tidak mengetahui pasti apa alasan ibunya tidak menanggapinya.

Menyikapi kejadian ini, Ketua MUI Sijunjung Hidayatullah kembali mengimbau orangtua agar betul-betul menjaga anak-anaknya terutama anak perempuan. Karena, kata Hidyatullah, perhatian dan pengawasan terhadap anak sangatlah penting untuk perkembangan anak. (hn/indopos)

Click to comment
To Top