Pancaroba, Pengrajin Batu Bata dan Genteng Tambah Produksi – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Pancaroba, Pengrajin Batu Bata dan Genteng Tambah Produksi

JEPARA – Belum datangnya musim hujan, justru mendatangkan berkah tersendiri bagi para pengrajin batu bata merah dan genteng di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Pasalnya, panas yang cukup saat siang hari dapat dimanfaatkan pengrajin untuk menambah proses produksi.

“Memasuki September biasanya sudah turun hujan. Tapi tahun ini hingga awal November belum ada tanda-tanda hujan yang signifikan. Kami memanfaatkanya untuk menambah produksi. Sebab, cuacanya sangat mendukung, sehingga hasil pembakarannya lebih maksimal,” kata Kunaryo (40), salah satu perajin batu bata di Desa Kalipucang, Kecamatan Welahan, Sabtu (7/11).
Semakin banyak produksi, katanya, tentu banyak stok yang dimiliki para perajin. Sehingga saat memasuki musim penghujan nanti, pihaknya tidak kesulitan menerima order pesanan. Lantaran pasokan dari produksi lama, masih cukup banyak.
“Saat ini, kami sudah melakukan empat kali produksi. Jumlah itu dipastikan meningkat jika belum kunjung hujan,” jelasnya.
Sama halnya yang terjadi di lokasi kerajinan genteng, Kecamatan Mayong. Musim kemarau yang lamai, dimanfaatkan untuk meningkatkan produksinya. Terlebih, para perajin mengaku pesanan yang datang dari tengkulak tahun ini cukup banyak.
“Selain faktor cuaca yang mendukung produksi. Juga karena para tengkulak memesan cukup banyak. Pesanan sebelumnya sudah diambil. Kali ini para tengkulak kembali pesan lagi. Katanya untuk proyek bangunan maupun rumah. Sehingga komponen atap, seperti genteng ini diburu,” ungkap Abdul Rosyid (42), salah satu perajin genteng Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong.
Proses produksi genteng, imbuhnya, hanya membutuhkan waktu sekitar 15 hari. Jika kondisi cuaca mendukung seperti ini. Sekali melakukan produksi, para pengrajin membuat maksimal 7.000 genteng.
“Harga genteng perbuah relatif menjanjikan, seperti jenis mantili jumbo sekarang mencapai Rp 1.000, mantili super Rp 750 dan jenis genteng kodok Rp 750. Hal ini sekaligus memotivasi kami untuk terus memanfaatkan kesempatan kemarau ini,” pungkasnya. (nr)

Click to comment
To Top