Kisah Komjen Moehammad Jasin Pria Asal Baubau yang Mendirikan Brimob – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Daerah

Kisah Komjen Moehammad Jasin Pria Asal Baubau yang Mendirikan Brimob

RUBYANTI Jasin (70) tersenyum bahagia usai mewakili menerima gelar pahlawan dari Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Kamis (5/11) lalu. Bagaimana tidak bahagia, akhirnya ayahnya, Komisaris Jenderal (purn) Moehammad Jasin mendapat gelar sebagai pahlawan nasional dari pemerintah.

Natalia Fatimah Laurens, Jawa Pos National Network (Fajar.co.id Group)

Jasin, pria kelahiran Baubau, Buton, Sulawesi Tenggara itu adalah pendiri jajaran Brigade Mobil (Brimob) di Polri. Sudah sejak lama keluarga memperjuangkan nama Jasin agar mendapatkan gelar itu.

“Kami senang sekali bisa mendapat gelar pahlawan itu untuk bapak. Kami sudah lama memperjuangkannya agar bapak dapat gelar itu,” ujar perempuan keturunan Belanda tersebut dengan mata berkaca-kaca.

Putri pertama Jasin itu mengatakan, sebelum menjadi polisi, ayahnya mengikuti pendidikan umum di Volkschool di Baubau, Hollands Inlandsche School (HIS) dan Schakel School di Makassar. Terakhir ia menempuh pendidikan di Meer Utgerbreid Lager Onderwijs (MULO). Jasin lalu menempuh sekolah polisi di Sukabumi, Jawa Barat.

Saat bertugas di Surabaya, Jasin kemudian mendidik calon anggota Tokubetsu Keisatsu (polisi istimewa) yang kemudian diproklamirkan menjadi polisi Indonesia. Itu adalah cikal bakal kepolisian hingga saat ini.

Polisi Indonesia itu dibentuk pada 21 Agustus 1945. Sejak itu, Jasin terlibat bersama pasukannya untuk mengikuti sejumlah pertempuran melawan penjajah di wilayah Jawa Timur. Meski asal Sulawesi, Jasin sudah begitu dekat Jawa Timur tempatnya bertarung mempertahankan NKRI.

Nama Jasin, kata Rubyanti, juga tidak bisa lepas dari pembentukan Mobiele Brigade (Mobbrig) atau yang dikenal dengan satuan Brimob saat ini. Pasukan itu dibentuk pada November 1946.

[NEXT-FAJAR]

Sejak pasukan ini dibentuk, Jasin terpilih sebagai Komandan Mobiele Brigade Besar (MBB) Jawa Timur. Salah satu cerita yang dikenang Rubyanti adalah pada September 1948, ayahnya memimpin empat kompi Mobrig untuk bersama TNI menumpas pemberontakan PKI di Madiun.

Namanya sering pergi untuk berperang tentu saja sang ayah jarang ada di rumah. Namun, Rubyanti mengatakan, keluarga tidak pernah mempermasalahkan itu. Keluarga justru sangat bangga karena kegigihan Jasin membela negara. Meski istrinya keturunan Belanda, Jasin toh tetap berjuang melawan penjajah.

Sudah banyak gerakan perjuangan yang diikuti Jasin. Dalam perjuangannya itu, Jasin juga sempat diasingkan ke Jerman. Ini karena ia menentang pengangkatan Sukarno Joyonegoro sebagai Panglima angkatan kepolisian. Alasannya, Sukarno disenangi PKI.

Karena itu ia juga menolak diangkat menjadi wakil panglima kepolisian. Sebagai anak pertama dalam keluarga, Rubyanti tentu paling dekat dengan ayahnya. Masih terekam jelas di ingatannya, Jasin yang mengingatkan anak-anaknya untuk mencintai Indonesia dengan sepenuh hati.

Rubyanti menuturkan, ayahnya adalah seorang polisi yang jujur. Sang ayah pun berpesan agar keluarga juga terus meneruskan perjuangan mengisi kemerdekaan dengan baik.

“Ayah saya orang lurus dan jujur. Sangat, sangat lurus. Beliau pesan, kita ini bangsa yang besar, tidak boleh lupa pada perjuangan yang lalu semoga bangsa yang sekarang itu sama, berjuang dengan cara lain,” tuturnya.

[NEXT-FAJAR]

Sementara itu, cucu Jasin, Ridwan Zachrie yang mendampingi ibunya Rubyanti mengatakan, kakeknya adalah orang yang mengutamakan semangat memperjuangan kemerdekaan. Jasin disebut juga aktif berjuang pada pertempuran 10 November di Surabaya.

“Semangatnya tinggi. Beliau orang Sulawesi tapi perjuangannya paling banyak di Jawa Timur. Ini pertama kalinya polisi menerima gelar pahlawan,” kata Ridwan.

Meski begitu, kata Ridwan, saat ini dari keluarganya tidak ada yang menjadi anggota kepolisian meneruskan jejak sang kakek. Kebanyakan menjadi bergerak di bidang bisnis sebagai pengusaha. (flo/jpnn)

Click to comment
To Top