Menemu Hiburan Religi di Desa “Terbang” Demak Bintoro – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Menemu Hiburan Religi di Desa “Terbang” Demak Bintoro

DEMAK – Tak banyak yang tahu bahwa selain memiliki komoditas pertanian unggulan berupa belimbing dan jambu air, Demak juga memiliki sentra produksi alat musik lokal khas islami, yakni rebana atau lebih populer dengan istilah terbang.

Berbeda dengan jambu dan belimbing yang sudah mencapai mancanegara, Rebana asal Demak ini masih berkutat di pasaran lokal. Padahal kualitasnya sudah jelas mampu bersaing dengan produk rebana dari wilayah lain.
Puluhan home industri rebana tersebar di beberapa wilayah Demak akan tetapi baru beberapa gelintir yang produksinya dilirik oleh konsumen dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Sebut saja, salah satu dari beberapa home industri yang beruntung itu adalah produk rebana milik M. Latif Ardani yang beralamat di Kampung Tanubayan RT 01/ 10 Kelurahan Bintoro Kecamatan Demak Kabupaten Demak. Meski di kelurahannya ada 5 (lima ) home industri rebana akan tetapi usaha milik Lelaki berputra 3 (tiga) ini lebih sering mendapat pesanan hingga ke luar kota.
“Mungkin karena kami selalu membuat inovasi baru dalam pembuatan alat musik ini, Mas. Misalnya kami menambahkan motif batik di permukaan rebanabaik yang berbahan kulit kambing maupun mika. Sementara untuk kerangkanya bahan utama kami menggunakan kayu dan aluminium. Ada yang dicat polos coklat untuk yang original maupun dicat semprot motif untuk hasil yang lebih bervariasi,” kata Latif sambil tersenyum.
Untuk 1 (satu) paket alat rebana yang berisi 4 unit rebana, 3 unit ketipung, 1 unit bass sandungan, 1 unit tengahan , 1 unit bass , 1 unit icik icik dan 1 unit tamborin, pihaknya mematok harga antara Rp4,5 rupiah – Rp6,5 juta. Harga sesuai dengan ukuran dan variasi rebana yang dipesan.
Menurut lelaki berkacamata ini, dirinya fokus terhadap jalannya produksi rebana. Artinya ia dan keluarganya memang betul betul menggantungkan hidup sehari hari dari hasil penjualan produknya ini. Suami dari Najihah (44) menyatakan bahwa selama ia menekuni profesi ini selama kurang lebih 17 tahun pihaknya selalu membuat rebana berdasarkan pesanan (delivery order). Menurutnya, 8 (delapan) orang karyawannya setiap hari mampu memproduksi 1 set rebana.
“Alhamdulillah Mas, dari hasil rebana ini kami sudah bisa menguliahkan anak sulung dan anak ke 2 saat ini sudah kelas 3 SMA,“ kata Latif yang saat ditemui sedang stay di salah satu stan Pameran Potensi Desa Jawa Tengan 2015 yang digelar tanggal 6- 9 November di alun alun Demak.
Latif tidak memungkiri bahwa mengikuti ajang ajang pameran atau ekspo menjadi salah satu upaya untuk mempromosikan produknya di masyarakat. Selama ini pihaknya tidak memiliki strategi tertentu untuk mempublikasikan hasil karyanya. Ia hanya berkeyakinan bahwa selama masih ada masyarakat yang religius, maka rebana atau terbang akan terus mendapatkan peminat setia. Terbukti hampir di setiap RT di wilayah Demak memesan seperangkat alat rebana di rumah produksinya maupun di gerai miliknya yang terletak di pelataran Masjid Agung Demak.
“Di Demak, hampir semua RT punya jamiah pengajian Bapak Bapak dan Ibu Ibu, masing masing biasanya memiliki rebana untuk mengisi acara. Sekarang malah lebih booming lagi rebana model habib syech-an,” terang lelaki 45 tahun yang bersahaja ini.
Ia berharap, mudah mudahan produknya bisa menembus pasar mancanegara sehingga mampu mengangkat rebana sebagai salah satu produk unggulan Demak yang mampu bersaing di pasar dunia. Tetapi ia juga sangat bersyukur selama ini mendapatkan pelanggan dari hampir semua SD se Jawa Tengah yang memesan rebana di tempatnya. Produk unggulan miliknya ini belum pernah dititipkan di toko toko, jadi konsumen langsung memesan ke home industrinya untuk langsung digunakan sendiri.
Selain rebana, home industri miliknya juga memproduksi bedug berbagi ukuran yang sudah memiliki pangsa pasar sendiri baik di Jawa Tengah, Jawa Barat maupun Jawa Timur. (pit)

loading...
Click to comment
To Top