Begini Proses Pemulangan Jenazah dr Andra, Sempat Mengarungi Lautan 7 Jam Lebih – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kesehatan

Begini Proses Pemulangan Jenazah dr Andra, Sempat Mengarungi Lautan 7 Jam Lebih

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pemulangan jenazah dr Dionisius Giri Samudra ke Jakarta harus menempuh perjalanan yang tak mudah. Sama seperti ketika dokter internship di RSUD Cendrawasih Dobo, Kepualauan Aru, Maluku Tenggara itu akan dirujuk sebelum meninggal dunia.

Jenazah harus mengarungi lautan selama lebih dari 7 jam untuk dapat sampai di Kota Tual, Kepualauan Aru, Maluku Tenggara dari Dobo. Setelah sampai di sana, jenazah harus bermalam selama satu malam untuk menunggu pesawat yang membawa jenazah ke Ambon.

“Sekitar pukul 9.00 WIB tadi tiba di Tual. Akan bermalam di sana. Besok (hari ini,red) diterbangkan ke Ambon,” tutur Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (BPPSDM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Usman Sumantri di Jakarta, kemarin (12/11).

Sampai di Ambon, jenazah langsung melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Diperkirakan mendarat di Jakarta hari ini (13/11) pada pukul 09. 15 WIB. Setelah tiba di ibukota,  jenazah akan diserahkan pada pihak keluarga.

Usman mengatakan, kejadian ini menyisakan duka mendalam bagi dunia kedokteran. Pihaknya pun memberikan apresiasi bagi sang dokter yang biasa disapa Andra itu. “Seperti yang disampaikan oleh Ibu Menteri, kesediaan mereka untuk memilih di daerah tentu harus diberi apresiasi,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Usman turut meluruskan sejumlah anggapan miring soal internship dokter ini. Dia menjelaskan, internship merupakan bagian dari pendidikan kedokteran. Sarjana kedokteran wajib menempuh program internship atau magang ini agar semakin mahir dalam menangani pasien. Selama magang, dokter internship akan ditemani dampingi oleh dokter pendamping.

[NEXT-FAJAR]

“Karena ini masih bagian pendidikan, tentu harus ada pendamping. Proses pemahiran ini ditempuh selama satu tahun. Delapan bulan di Rs dan empat bulan di puskesmas terdekat dari RS,” jelasnya.

Oleh karenanya, tidak ada istilah gaji dalam internship ini. Meski para dokter internship menerima bantuan biaya hidup sebesar Rp 2,5 juta. Jumlah tersebut belum termasuk intensif yang diberikan oleh daerah masing-masing.

[baca juga: Kisah Dokter Muda yang Meninggal Saat Mengabdi di Daerah Tepencil]

[baca juga: Detik-Detik Meninggalnya Dokter Muda dalam Pengabdiannya di Daerah Terpencil]

Sementaras soal penempatan di daerah terpencil, Usaman menuturkan, internship tidak ditempatkan di daerah sangat terpencil. Beda dengan tenaga kesehatan yang masuk dalam tim Nusantara Sehat dan Pegawai Tidak Tetap (PTT).

“Ya kan mereka bukan pegawai. Daerah itu pun, sebetulnya masih dapat dijangkau transportasi. Bukan seperti yang dipedalaman atau perbatasan,” tuturnya. (mia/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top